Assalamualaikum

TRADISI WAROK DAN MARGINALISASI PEREMPUAN DI KABUPATEN PONOROGO

Published by ridokurnianto under on 20.09
Di dalam kebesaran tradisi warok Ponorogo ternyata menyisakan sisi gelap, berupa penyimpangan seksual yang lebur di dalam fenomena gemblak. Penyimpangan seksual itu didapati memiliki landasan kokoh yang mengalir melalui ideology kanuragan yang melekat dalam kehidupan warok. Ideologi kanuragan itu mengajarkan bahwa seorang warok harus menjauhi berhubungan dengan perempuan (sekalipun isterinya sendiri) agar ilmu kekebalan bisa dikuasai dengan sempurna. Karenanya, hadirlah sosok gemblak (seorang lelaki belia berusia 10 sampai 17 tahun) sebagai pengganti peran dan fungsi perempuan (isteri) tersebut. Kehidupan dalam suasana tradisi warok sebagaimana dipaparkan, mengasumsikan terpinggirkannya kaum perempuan (para isteri warok), baik dalam peran dan fungsi mereka dalam kehidupan rumah tangga maupun terlebih dalam kehidupan bermasyarakat.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: (1) Ingin mendeskripsikan dinamika kehidupan tradisi warok Ponorogo; (2) Ingin mendeskripsikan status dan peran perempuan (para isteri warok dan warokan) dalam tradisi warok Ponorogo; (3) Ingin mendeskripsikan dinamika hubungan gender dalam tradisi warok Ponorogo. Selanjutnya, secara teoritis, diharapkan hasil penelitian ini memberikan sumbangan yang signifikan dalam penguatan khasanah ilmu pengetahuan, terutama di bidang dinamika hubungan gender dalam tradisi warok Ponorogo. Sedangkan secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan bisa dipakai landasan beraktifitas, terutama bagi kaum perempuan Ponorogo dalam rangka berperan aktif dalam pembangunan masyarakat di segala bidang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten Ponorogo. Informan peneltian ini adalah para warok, warokan, dan para isteri mereka. Beberapa informan pendukung adalah para tokoh Yayasan Reyog Ponorogo (sebuah organisasi kesenian reyog Ponorogo yang didirikan sebagai pusat pengelolaan dan pengembangan kesenian tersebut). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara mendalam (indheep interviewing), dan dokumenter. Teknis analisis data menggunakan deskriptif kualitatif melalui proses induksi-interpretasi-konseptualisasi. Proses analisis dalam penelitian ini telah dimulai sejak peneliti menetapkan fokus, permasalahan, dan lokasi penelitian, kemudian menjadi intensif ketika turun ke lapangan. Proses analisis akan berjalan melalui kategorisasi atau konseptualisasi data yang terus digali, sambil membandingkan dan mencari hubungan antar konsep sampai melahirkan hipotesis-hipotesis. Proses ini akan bergerak tidak secara linier lagi, tetapi berputar secara interaktif antara satu konsep dengan konsep yang lain, atau antara kategori satu dengan kategori yang lain. Proses ini juga akan bergerak sejak awal pengumpulan data, bekerja secara simultan, semakin kompleks atau rumit, tetapi sekaligus semakin mengarah pada proses munculnya hipotesis dan sampai pada titik tidak terdapat lagi informasi baru (Hamidi, 2004: 80-81)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa; gemblak dalam tradisi warok Ponorogo merupakan tuntutan dari ideology kanuragan. Kehadirannya dibutuhkan sebagai kompensasi hilangnya peran dan fungsi isteri mereka disebabkan tuntutan ideology kanuragan itu. Disinilah sisi gelap kehidupan warok muncul, terutama terkait dengan penyimpangan seksual (homo seksual) dimana pada gilirannya melahirkan citra buruk tradisi warok Ponorogo. Citra buruk atau sisi gelap kehidupan warok yang santer terdengar di masyarakat, ternyata tidak sepenuhnya benar, karena di dalam tradisi itu ada kelompok warok yang memiliki gemblak (sebatas teman dan pelayan kebutuhan ritual saat nglakoni) dan ada juga kelompok panggemblak (bukan warok tetapi memiliki gemblak, untuk memenuhi hasrat seksual atau pemuas nafsu). Terlepas dari tradisi gemblak maupun panggemblak, tradisi warok ini telah mengakibatkan peran dan fungsi isteri terpinggirkan. Marginalisasi perempuan dalam bentuk konco wingking (sebatas mengurus rumah tangga) dan urmat garwa (menghormati apapun yang dilakukan suami).
WAROK TRADITION AND WOMAN MARGINALIZATION IN PONOROGO REGENCY
In the great tradition of warok Ponorogo, there is still left a bad image in the forms of sexual deviation called gemblak. This deviation is believed as a basic principal to get or keep his magic power (kanuragan) of warok life. The idea of kanuragan taught him that a warok has to keep his distance from the woman even his own wife in order to master the power perfectly, it makes him to take a boy aged 10 to 17 years old as a gemblak who changes the role of his wife. This tradition of course is assumed that woman (warok’s wives) has been marginalized both their role and function in their family and community activities.
The research is aimed to: (1) describe the dynamic life of warok tradition in Ponorogo; (2) describe woman (warok and warokan’s wives), status and role in warok tradition in Ponorogo; (3) describe the correlation of gender in warok tradition in Ponorogo. Theoritically, this research is expected to give significant contribution for science, mainly the dynamic of gender relationship in warok tradition in Ponorogo. In pragmatic, however, this study is hoped to be reference of any activities especially the woman in Ponorogo to participate in community development of any fields.
This research used qualitative approach. The place of the research is in Ponorogo Regency. The research informan are warok, warokan, and their wives. The supporting informan are also taken from Reyog Ponorogo Fondation. The techniques of collecting data used in this research are observation, indepth interview and documentary. The result of data collection was analyzed descriptively through the process of induction, interpretation, conseptualization. The process of analysis started when the resercher set the focus, stated the research problems, and determined the location, and then intensively went down to the field. The process will work through the catagorization or conceptualization of data observed, and then it was compared and found out the correlation among the concepts to formulate the hypothesis. This process is done interactively between one concept and another not linierly. It also worked simultaneously from the data collection simply to the complex ones, that lead to the emergence of hypothesis until the absence of new information (Hamidi, 2004: 80-81).
The result of study has revealed that gemblak in warok Ponorogo tradition is a must of the magic power (kanuragan) ideology. This presence is badly needed for compasating his wives role and function. Here is negative aspect of warok life in the forms of sexual deviation (homosexual) that producing the negative view of warok tradition. This negative image of warok life is not absolutely correct. Some waroks have gemblak just as their gemblak as a sexual compensation. From this point of view either as a partner or sexual compensation, the role and the function of warok wives has been marginalized in the forms of house wive only (konco wingking) and underbow of husbend (urmat garwa).


Baca Selengkapnya ...

0 komentar:

Poskan Komentar