Assalamualaikum

MEMAKNAI TAKDIR; MEMBANGUN MANUSIA BERTANGGUNGJAWAB

Published by ridokurnianto under on 19.53
Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan kelengkapan yang sempurna. Dari aspek lahir memiliki bentuk yang paling bagus dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain (ahsan at-taqwim). Sementara dari aspek batin dibekali kelengkapan yang semakin sempurna melengkapi kesempurnaan lahir/fisik.
Kesempurnaan penciptaan manusia bukan tanpa alas an, tetapi sarat dengan misi besar yakni mengemban amanah Allah sebagai khalifah (wakil)-Nya di bumi sekaligus sebagai hamba-Nya. Agar manusia benar-benar siap dan mampu mengemban amanah kekhalifahan dengan baik, Allah lengkapi dengan potensi untuk berkembang, yakni; al-masyi’ah (kehendak); al-isthitha’ah (daya, kekuatan, kemampuan); dan al-‘amal (tindakan, perbuatan). Potensi manusia akan berkembang sesuai dengan kemauan dan kemampuan manusia yang bersangkutan dalam mengelola al-masyi’ah, al-isthitha’ah, dan al-‘amal tersebut.


Sebuah Ilustrasi
Ada 2 benih pohon yang mulai tumbuh di sebuah hamparan ladang yang subur. Benih pertama berkata: “Aku ingin tumbuh besar, aku ingin menjejakkan akarku jauh ke dalam tanah, aku ingin menjulangkan tubuhku di atas tanah yang keras ini, aku ingin membentangkan semua tunasku untuk menyampaikan salam musim semi kepada dunia, aku ingin merasakan hangatnya matahari dan merasakan segarnya embun pagi di pucuk-pucuk daunku.” Dan benih itupun tumbuh makin menjulang
Benih kedua berkata: “Aku takut, jika akarku kulesakkan ke dalam tanah aku tak tahu apa yang akan kutemui di bawah sana, bukankah disana sangat gelap ?, dan jika kubentangkan tunasku aku khawatir keindahan tunasku akan hilang, bukankah tunasku akan terkoyak?, apa yang akan terjadi ketika tunasku terbuka, pastilah gerombolan siput akan memakanku, belum lagi anak-anak manusia yang sering bermain di sekelilingku; pastilah mereka akan mencabutku, TIDAK ! Aku tak mau tumbuh dan merekah, aku lebih baik menunggu waktu sampai semuanya aman.”
Kedua benih telah beroleh takdir penciptaan; keduanya memiliki kesempatan penuh untuk berkreasi memanfaatan kesempatan hidup. Benih pertama mampu menjemput takdir kehidupan berikutnya dengan cita dan ikhtiar; hingga menjadi sebuah pohon yang kuat dan rindang; sementara benih kedua menjemput takdirnya dengan tanpa cita dan ikhtiar; hingga menjadilah tetap kerdil dan bahkan konon kabarnya tubuhnya dicabik-cabik kawanan ayam hutan.
Apakah Takdir ? Adakah Peran Manusia di dalamnya ?
Dalam hal takdir sebenarnya ada campur tangan manusia, sebanyak 2/3 bagian, sementara kehendak Allah adalah 1/3 bagian dari keseluruhan rangkaian takdir. Apa maksudnya?
Ayat Al-quran yang mengatakan : “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubahnya” (QS. Ar-Ra’d:11), mengandaikan keharusan menyambut takdir dengan ikhtiar manusia. Jadi, taqdir baik atau tidak, nasib baik atau tidak, sebagian besar tergantung pada manusia.
3 Tahapan Menuju Takdir Allah
QAULI : mengusahakan untuk mendapatkan kehidupan yang baik dengan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menggapai kehidupan baik tersebut.
SYAR’I : menunaikan ibadah yang telah diwajibkan oleh Allah SWT dan senantiasa berdo’a agar Allah SWT memberikan kemudahan bagi hidup dan kehidupan ini dengan hasil terbaik. Jika tidak melakukan tahap kedua ini dengan benar dan mendapatkan takdir yang jelek, maka jangan salahkan takdir.
GHAIBI : keyakinan bahwa apapun yang terjadi adalah kehendak Allah SWT., artinya ketika kita telah melaksanakan tahapan pertama dan kedua dengan baik, namun mendapatkan hasil yang tidak baik atau gagal maka itu adalah kehendak Allah, mungkin Allah telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk kita.
Sekitar Makna Tanggungjawab
TANGGUNGJAWAB: Bertindak tepat tanpa perlu diperingatkan
BERTANGGUNGJAWAB: sikap tidak tergantung dan peka terhadap perasaan orang lain. Jadi tanggungjawab adalah kesadaran yang ada dalam diri seseorang behwa setiap tindakannya akan berpengaruh bagi diri dan orang lain.
Makna dan Konsekuensi
Kesadaran yang ada dalam diri seseorang bahwa setiap tindakannya akan mempunyai pengaruh bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri. Karena menyadari bahwa tindakannya itu berpengaruh terhadap orang lain ataupun diri sendiri, maka ia akan berusaha agar tindakan-tindakannya hanya memberi pengaruh positif saja terhadap orang lain dan diri sendiri sekaligus menghindari tindakan-tindakan yang dapat merugikan orang lain ataupun diri sendiri.
Kiat Penanaman Tanggungjwab
Melalui Model : menanamkan rasa tanggung jawab sebaiknya dilakukan dengan memberi contoh konkrit, melalui orang dewasa di sekitarnya (orang tua, guru, pembimbing, dan seterusnya). Kalau Guru/Orang tua seenaknya membuang sampah di sembarang tempat (yang bukan tempatnya), maka segala nasihat atau anjuran tentang membuang sampah yang benar tidak akan ada hasilnya (alias sia-sia).
Memberikan Kepercayaan. Pada hakikatnya kepercayaan orang dewasa merupakan sumber kepercayaan bagi diri anak. Jadi, apabila orang tua percaya pada usaha anak dan bahwa anak bisa menampilkan sesuatu sebagaimana yang diharapkan, maka anak pun akan menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Namun, bila anak merasa bahwa orang tua mereka tidak mempercayainya, anak akan merasa terombang-ambing. la tidak akan memiliki rasa percaya diri bahwa ia akan dapat menyelesaikannya dengan baik.
Melimpahkan Tugas sesuai dengan Keunikan Anak. Anak merupakan pribadi-pribadi unik. Masing-masing berbeda secara individual, baik dalam perkembangan maupun kepribadiannya. Mereka memiliki modalitas beragam (Visual, Auditorial, Kinestetik). Oleh sebab itu jenis tugas yang sama belum tentu dapat diselesaikan dengan hasil yang sama baiknya oleh setiap anak.
Kiat Melejitkan Rasa Tanggungjawab
Hadapkan pada Tantangan. Anak yang biasa dihadapkan pada keadaan yang penuh tantangan akan memperoleh kepercayaan diri yang lebih besar. Di samping itu ia akan lebih berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam tugas-tugas rutin kehidupan keluarganya maupun sekolah. Cukuplah katakan pada anak, “Bapak percaya kepadamu” atau “Ibu percaya kamu akan mengambil keputusan yang benar.”,
Beri Landasan yang Kuat. Berbicara mengenai tanggung jawab ini, Dr. Haim G. Ginott, dalam bukunya “Between Parent and Child” berpendapat, rasa tanggung jawab sejati harus bersumber pada nilai-nilai asasi kemanusiaan: hormat kepada hidup sesama manusia, kebebasan, dan pencarian kebahagiaan. Namun kita jarang melihat masalah tanggungjawab dalam kerangka yang lebih luas itu. Kita cenderung untuk melihat rasa tanggung jawab dari segi-segi yang datar dan biasa: kamar anak bersih atau tidak; mengerjakan PR apa tidak; bagaimana dengan shalatnya; tingkah lakunya sopan atau tidak, dan sebagainya.
Penanaman Sejak Dini. Sesungguhnya, sebagaimana sering dikatakan para ahli, bahwa anak harus belajar bertanggung jawab atas empat hal. Mainannya, pakaiannya, binatang peliharaannya dan yang terpenting dirinya sendiri. Sebaiknya tanggung jawab diajarkan sedini mungkin. Karena makin terlambat tanggung jawab diajarkan, makin sulitlah baginya kelak untuk memikul tanggung jawab itu. Dan, orang tualah tokoh yang paling bertanggung jawab dalam hal menanamkan rasa tanggung jawab pada anak.
Taqdir Dan Tanggungjawab
Islam menghendaki umatnya menyambut taqdir dengan ikhtiar penuh. Kehidupan yang tidak pro-aktif terhadap perubahan merupakan sesuatu yang dilarang dalam ajaran agama (Islam); “Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS. Al-Hasyr (59):18)
Sikap hidup dinamis juga telah dibekalkan oleh Rasulullah SAW kepada kita agar kita membekali diri dengan sejumlah keilmuan dan ketrampilan untuk menghadapi hidup; “uthlub al-‘ilm walau bil-sin” (“tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina); “uthlub al-‘ilm min al-mahd ila al-lahd” (“tuntutlah ilmu sedari kecil sampai menjelang ajal”).
Akrab dengan taqdir akrab mengenali diri. Mengenali diri merupakan pintu masuk untuk mempersiapkan langkah strategis menghadapi masa depan. “Man ‘arofa nafsah faqad ‘arafa rabbah” (“Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya”). Sabda Rasulullah SAW ini menegaskan betapa kekuatan dahsyat dari pengenalan diri seseorang untuk menggapai puncak kehidupan.
Tindakan adalah cermin bagaimana kita melihat dunia. Sementara dunia kita tak lebih luas dari pikiran kita tentang diri kita sendiri. Kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita.
Dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat; menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut kepada dunia, maka sebenarnya kita takut pada diri sendiri. Kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dunia pun akan menampakkan realitanya yang selama ini bersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.
Hasil akhir kehidupan yang telah diupayakan dengan optimal adalah taqdir yang sebenarnya. Hasil akhir belum tentu/mesti sesuai dengan keinginan/rencana semula. Tapi hasil akhir buah karya optimal adalah kehidupan terbaik.
Sebuah motto yang ditulis AJ. Cronin dikutip Johnson untuk mengantarkan karya ilustratifnya “Who Moved My Cheese ?” (2001:xiii), layak kita renungi: “Kehidupan bukanlah jalan yang lurus dan mudah dilalui, dimana kita bisa bepergian bebas tanpa halangan, namun berupa jalan-jalan sempit yang menyesatkan, dimana kita harus mencari jalan, tersesat dan bingung, sekarang dan sekali lagi kita sampai pada jalan yang tak berujung. Namun, jika kita punya keyakinan, pintu pasti akan dibukakan untuk kita, mungkin bukanlah pintu yang selalu kita inginkan, namun pintu yang akhirnya akan terbukti terbaik untuk kita.”



Baca Selengkapnya ...

0 komentar:

Poskan Komentar