Assalamualaikum

PENGANTAR KE DUNIA FILSAFAT

Published by ridokurnianto under on 20.28
Mengenal Istilah Filsafat
Falsafah (Bahasa Arab), Philosophia (Bahasa Yunani); philos (loving) & shopia (hikmah, wisdom,pengetahuan), berarti cinta kepada pengetahuan,hikmah, kebijaksanaan. Orang yang cinta terhadap pengetahuan disebut philosophos atau filosuf. Jadi berfilsafat berarti berpikir mendalam, menyeluruh tentang semua yang ada dan mungkin ada dalam rangka mencari kebenaran substansial.


Sumber Filsafat
Sumber filsafat adalah rasa ingin tahu yang mendalam. Muncul sejak usia anak. Kepekaan anak terhadap dunia sekitar menjadikannya selalu ingin tahu apa yang sebenarnya dihadapi, kenapa terjadi, bagaimana terjadi, untuk apa terjadi, dan seterusnya.
Ketika seorang anak melihat gelas berada diatas meja, ia ingin tahu tentangnya, saat tangannya tak sampai menjangkaunya ia temukan solusi untuk meraihnya dengan menarik taplak meja tersebut, dan gelas tidak saja berhasil ia tarik, tetapi sekaligus pecah berantakan di tanah, begitu melihat gelas pecah muncul lagi kejadian tidak biasa padanya (wujud gelas tiba-tiba berubah menjadi kepingan-kepingan yang tak beraturan), diamatilah ia, dipukul, bahkan dicoba untuk dimasukkan ke dalam mulut dan kemudian dikunyah…dan seterusnya.
Rasa ingin tahu anak telah terjawab, tapi benarkah pengetahuan itu ? Nanti dulu, nampaknya menarik taplak meja untuk meraih gelas perlu diluruskan dengan tanpa harus menarik taplaknya, tapi langsung gelasnya, berarti pengetahuan yang diperoleh anak harus diiringi dengan tuntunan ke arah ilmu, sehingga pengetahuan berkembang menjadi ilmu
Ketika sejumlah rasa ingin tahu diteruskan dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar dan mengakar, kemudian dicarikan jawab melalui perenungan mendalam melalui akal dan kalbu, jadilah ia “pengetahuan filsafat”.
Bilamanakah Rasa Ingin Tahu Menjadi Berfilsafat?
Filosuf selalu melihat fenomena alam dengan rasa takjub. Rasa takjub adalah unsur pertama berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir mendalam tentang “segala yang ada” dan “mungkin ada”, apapun yang dilihat, didengar dan dirasa oleh filosuf adalah sesuatu yang selalu nampak “baru” dan “tidak biasa”. “Bagaimana semesta diciptakan?”, “Siapa penciptanya?”, “kenapa diciptakan?”, “bagaimana kesudahannya?”, “Siapakah manusia?”, kenapa ia diciptakan?”, dst., adalah pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul dalam benak para filosuf.
Bandingkan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang memaparkan pertanyaan-pertanyaan serupa, lihat, misalnya QS. Al-Ghasyiah(88): 17-20; afala yandhuruna ila al-ibil kayfa khuliqat, wa ila as-sama’ kayfa rufi’at, wa ila al-jibal kayfa nushibat, wa ila al-ardhi kayfa suthihat. Jadi al-Qur’an penuh dengan isyarat agar manusia melakukan perenungan mendalam tentang makhluk Allah yang terhampar di semesta-Nya
Tahapan Berpikir Ke Alam Filsafat
Alur tahapan berpikir ke alam filsafat mengikuti perkembangan pemikiran manusia adalah dari mitologis (dewa-dewa) ke arah filosofis (pengalaman dan akal). Prosesnya adalah ketika ada sejumlah pertanyaan tentang proses alam terjadi, terciptalah berbagai mitos, kemudian bertahap menuju pengetahuan sains, dan kemudian menuju pengetahuan filsafat
Para filsosuf awal yang diduga membidani lahirnya filsafat, memulai kajian filsafatnya dari alam. Mereka bertanya sekitar bahan dasar alam.;“Apa bahan dasar alam”? “Bagaimana alam terjadi?”. Para filosuf Yunani awal sering disebut “filosuf alam” karena menaruh perhatian besar pada alam dan proses-prosesnya. Thales menganggap “air” asal segala yang ada di semesta, Anaximander bilang “tak terbatas” artinya zat dasar yang tidak biasa, Anaximenes bilan “udara” atau “uap”, air kata dia adalah udara yang dipadatkan, tanah adalah air yang membeku, dst. Ketiga filosuf tersebut hidup pada jaman yang hampir sama sekitar 570-526 SM.
Berfilsafat Membuat Orang Cerdas Dan Bijak ?
Inti berfilsafat adalah menggunakan akal pikiran karunia Allah SWT., untuk merenungkan makhluk ciptaan-Nya dari semua sudut dan perspektif. Perenungan akal yang mendalam akan membuahkan ketakjuban luar biasa, menjadikan manusia sadar betapa Allah adalah Maha Besar, menjadikannya semakin yakin bahwa Dia lah dibalik semua yang ada dan terhampar di semesta ini.
Berfilsafat akan selalu berakhir dengan keterbatasan “akal”, sekalipun saat berfilsafat akal bisa menembus ruang dan waktu yang luar biasa. Disinilah pentingnya keimanan agar ketika kemampuan akal terbatasi oleh “dinding” batas kemampuan akal, ia bisa kembali kepada Sang Pencipta. Karena itu, berfilsafat harus melibatkan aspek pikir, dzikir, dan tadabbur, agar semua yang dihasilkan oleh perenungan akal tidak “liar” dan “nakal”. Berfilsafat yang benar akan menjadikan pelakunya menjadi ahli hikmah (seorang arif dan bijak) dalam hidup dan kehidupan
Filosof Model?
Muhammad SAW sebagai teladan bagaimana harusnya berfilsafat. Kasus Tahannus Rasul SAW di gua Hira’ menjadi bukti bagaimana manusia pilihan Allah itu sangat peka terhadap realitas kehidupan di sekelilingnya; “kenapa orang-orang menyembah patung?”, “dimana dan seperti apa sebenarnya sang pencipta semesta?”, “dimana Dia harus dicari?”, dan seterusnya. Saat Rasul mencapai puncak perenungan turun wahyu melalui Jibril AS dengan membawa petunjuk tentang hidup dan kehidupan. Rasul kemudian turun ke tengah-tengah masyarakat untuk membangun peradaban unggul dibawah tuntunan Allah.
Daya nalarnya yang sangat kritis tiada banding dan kemudian dikuatkan dengan bimbingan Allah melalui wahyu-Nya melahirkan sosok Muhammad SAW menjadi orang yang sangat arif dan bijak.
Manfaat Berfilsafat
Berfilsafat akan membuat hidup terpola secara rapi. Tak ada fenomena kehidupan yang lolos dari ketakjubannya. Fenomena kehidupan akan selalu dihadirkan dalam perenungan yang mendalam melalui berbagai pertimbangan yang mengakar. Fenomena kehidupan itu akan menjadi dasar pijak dalam mensikapi hidup dan kehidupannya. Hikmah menjadi kata kunci hidup dan kehidupannya.




Baca Selengkapnya ...

0 komentar:

Poskan Komentar