Assalamualaikum

TELAAH PUSTAKA DAN TEKNIK PENYAJIAN

Published by ridokurnianto under on 21.19
Teori
Teori adalah serangkaian konsep, definisi dan proposisi yang saling berkaitan dan bertujuan untuk memberikan gambaran sistematis tentang suatu fenomena (sosial).
Kerlinger (1978), mengemukakan bahwa “ theory is set of interrelated contrstruct (concepts), definitions, and proposition that present a systematic view of phenomena by specifying relation among variables, with purpose of explaining and pedicting the phenomena. Teori adalah seperangkat konstruk (concept), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifkasi hubungan antar variabel, sehinga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Wiliam Wiersa (1986) menyatakan bahwa : A theory is a generalization or series of generalization by which we attempt to eplain some phenomena is systematic manner. Teori adalah generalisasi atau kumpulan generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sistematik.


Coope and Schindler (2003), mengemukakan bahwa, A theory is aset of systematically interrelated concepts, definition, and proposition that are advanced to explain and predict phenomena (fact). Taori adalah seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Teori mengandung tiga hal: Pertama, teori adalah serangkaian proposisi antar konsep-konsep yang saling berhubungan. Kedua, teori menerangkan secara sistematis suatu fenomena sosial dengan cara menentukan hubungan sosial antar konsep. Ketiga, teori menerangkan fenomena tertentu dengan cara menentukan konsep mana yang berhubungan dengan konsep lainnya dan bagaimana bentuk hubungannya (Singarimbun& Effendi, 1989:37).
Posisi Teori dalam Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif
Jika dalam penelitian kuantitatif teori sifatnya fix, sebagai landasan penyusunan variabel, hipotesa dan seterusnya, maka dalam penelitian kualitatif, seperti juga hipotesa kerja, sifatnya hanya sementara.
Jika dalam penelitian kuantitatif sifatnya menguji teori maka dalam penelitian kualitatif tujuan akhirnya menemukan teori atau paling tidak konsep atau kategorisasi.
Kalau dalam penelitian kuantitatif jumlah teori pada dasarnya sebanyak variabel yang dikembangkan, maka dalam penelitian kualitatif jauh lebih luas sesuai dengan fenomena sosial yang ada di lapangan. Karenanya dalam melakukan penelitian kualitatif peneliti menguasai seluruh teori yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.
Kendatipun dalam penelitian kualitatif peneliti diharapkan menguasai secara luas teori tentang realitas yang dibidik, namun dalam pelaksanaannya peneliti harus melepaskan seluruh teori yang dikuasai dan tidak digunakan untuk pedoman wawancara atau observasi. Jadi sifatnya grounded.
Posisi Teori Ditinjau Dari Tujuan Penelitian
Dilihat dari Basic Research paling tidak ada 5 tipe tujuan penelitian:
1. To explore (penjajagan): tujuannya berusaha untuk pengembangan awal, mencari gambaran kasar atau mencari pemahaman tentang fenomena sosial yang belum diketahui sebelumnya.
2. To describe: tujuannya untuk menggambarkan realitas sosial secara apa adanya atau melakukan pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu, termasuk keajegan-keajegan sosial yang ada. Peneliti mengembangkan konsep atau teori, tetapi tidak melakukan pengujian hipotesa.
3.To explain: untuk menjelaskan hubungan kausal fenomena sosial dengan mengembangkan pengujian hipotesa.
4. To understand: untuk memahami fenomena sosial secara mendalam, termasuk menentukan alasan-alasan dari tindakan sosial yang ada, kejadian-kejadian serangkain episode sosial, dengan berbagai alasannya yang diderivasi dari aktor sosial.
5. To predict: untuk melakukan ramalan kejadian tertentu dimasa mendatang, setelah melakukan pemahaman dan penjelasan atas fenomena sosial tertentu sebagai landasan postulatnya.
Dalam penelitian yang masih dalam tahap penjelajahan (to explore), maka posisi teori pada dasarnya tidak terlalu dominan. Kecuali untuk membantu memahami realitas sosial yang ada. Misalnya kita belum tahu mengapa sistem perkawinan poliandri bisa diterima oleh masyarakat di kecamatan x di Pasuruan: mengapa petani-gurem yang banyak memberikan sumbangan pada swadaya pangan, tetapi paling sedikit menerima keuntungan tidak pernah berontak (share of poverty): dan sebagainya.
Dalam penelitian desktiptif (to describe), meskipun tujuan penelitian hanya menggambarkan realitas sosial secara apa adanya, teori akan sangat membantu untuk menafsirkan atau memahami realitas sosial yang ada. Misalnya, untuk menggambarkan derajat nasionalisme 25 orang Indonesia di Australia, Deddy Mulyana (dalam disertasinya) setelah membuat kategorisasi model identitas etnik ( religius, moderat, kosmopolitan dan nasionalis), ia menggunakan berbagai teori untuk memahami gejala sosial yang ditemukan.
Dalam penelitian penjelasan (to explain), posisi teori sangat jelas, yakni untuk landasan penjelasan realitas sosial yang diturunkan dalam hipotesa hendak diuji. Misalnya, kita melakukan penelitian tentang bunuh diri di Ponorogo dengan mencoba menverifikasi (dengan berbagai modifikasi) teorinya Durkhiem.
Dalam penelitian yang bertujuan untuk memahami (to understand) realitas sosial, posisi teori adalah untuk menafsirkan realitas. Misalnya, untuk keberhasilan kapitalisme di Asia Tenggara (oleh ras kuning) kita menggunakan pendekatan kebudayaan (Weberian) dengan mencoba mempelajari implikasi modal sosial etnik ini dengan mempelajari xinyong dan guanxi.
Atau, untuk memahami konflik etnik-keagamaan di Indonesia, kita menggunakan: teori “etho-nationalism” (primordialist atau intrumentalist) dari William Douglas (1993); teori “deprivasi relatif” dari Robert Gurr; atau teori penguatan identitas dan kohesi kelompok dari Peter Blau (overlapping cleavages atau crosscutting cleavages). Atau misalnya, untuk memahami mengapa mesin politik gagal menghantarkan Megawati-Hasyim jadi presiden, dengan perspektif bureaucratic polity (Karl D Jackson), teori patron-client (Wertheim), teori ekonomi politik (Richard Robinson) dan sebagainya.
Dalam penelitian yang bertujuan untuk meramalkan (to predict), maka posisi teori adalah sebagai landasan ramalan, baik yang percaya dengan jalan sejarah yang linier (seperti meramalkan lepas landas dengan menggunakan teorinya WW Rostow, atau teori modernisasi sosialnya Daniel Lerner): Atau, sebuah ramalan yang berangkat dari interpretasi data, seperti ramalan Samuel P. Huntington tentang “ The Clash of Civizations” atau Francis Fukuyama tentang “The End of History”.
Teknik Penyajian/Penulisan Teori
1. Prinsipnya harus runut / berpola
2. Modelnya bisa beragam
3. Narasi bergantung pada penulis (tidak sangat terikat oleh bahasa baku tetapi tidak terlalu lepas darinya)


Baca Selengkapnya ...

PENGANTAR KE DUNIA FILSAFAT

Published by ridokurnianto under on 20.28
Mengenal Istilah Filsafat
Falsafah (Bahasa Arab), Philosophia (Bahasa Yunani); philos (loving) & shopia (hikmah, wisdom,pengetahuan), berarti cinta kepada pengetahuan,hikmah, kebijaksanaan. Orang yang cinta terhadap pengetahuan disebut philosophos atau filosuf. Jadi berfilsafat berarti berpikir mendalam, menyeluruh tentang semua yang ada dan mungkin ada dalam rangka mencari kebenaran substansial.


Sumber Filsafat
Sumber filsafat adalah rasa ingin tahu yang mendalam. Muncul sejak usia anak. Kepekaan anak terhadap dunia sekitar menjadikannya selalu ingin tahu apa yang sebenarnya dihadapi, kenapa terjadi, bagaimana terjadi, untuk apa terjadi, dan seterusnya.
Ketika seorang anak melihat gelas berada diatas meja, ia ingin tahu tentangnya, saat tangannya tak sampai menjangkaunya ia temukan solusi untuk meraihnya dengan menarik taplak meja tersebut, dan gelas tidak saja berhasil ia tarik, tetapi sekaligus pecah berantakan di tanah, begitu melihat gelas pecah muncul lagi kejadian tidak biasa padanya (wujud gelas tiba-tiba berubah menjadi kepingan-kepingan yang tak beraturan), diamatilah ia, dipukul, bahkan dicoba untuk dimasukkan ke dalam mulut dan kemudian dikunyah…dan seterusnya.
Rasa ingin tahu anak telah terjawab, tapi benarkah pengetahuan itu ? Nanti dulu, nampaknya menarik taplak meja untuk meraih gelas perlu diluruskan dengan tanpa harus menarik taplaknya, tapi langsung gelasnya, berarti pengetahuan yang diperoleh anak harus diiringi dengan tuntunan ke arah ilmu, sehingga pengetahuan berkembang menjadi ilmu
Ketika sejumlah rasa ingin tahu diteruskan dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar dan mengakar, kemudian dicarikan jawab melalui perenungan mendalam melalui akal dan kalbu, jadilah ia “pengetahuan filsafat”.
Bilamanakah Rasa Ingin Tahu Menjadi Berfilsafat?
Filosuf selalu melihat fenomena alam dengan rasa takjub. Rasa takjub adalah unsur pertama berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir mendalam tentang “segala yang ada” dan “mungkin ada”, apapun yang dilihat, didengar dan dirasa oleh filosuf adalah sesuatu yang selalu nampak “baru” dan “tidak biasa”. “Bagaimana semesta diciptakan?”, “Siapa penciptanya?”, “kenapa diciptakan?”, “bagaimana kesudahannya?”, “Siapakah manusia?”, kenapa ia diciptakan?”, dst., adalah pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul dalam benak para filosuf.
Bandingkan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang memaparkan pertanyaan-pertanyaan serupa, lihat, misalnya QS. Al-Ghasyiah(88): 17-20; afala yandhuruna ila al-ibil kayfa khuliqat, wa ila as-sama’ kayfa rufi’at, wa ila al-jibal kayfa nushibat, wa ila al-ardhi kayfa suthihat. Jadi al-Qur’an penuh dengan isyarat agar manusia melakukan perenungan mendalam tentang makhluk Allah yang terhampar di semesta-Nya
Tahapan Berpikir Ke Alam Filsafat
Alur tahapan berpikir ke alam filsafat mengikuti perkembangan pemikiran manusia adalah dari mitologis (dewa-dewa) ke arah filosofis (pengalaman dan akal). Prosesnya adalah ketika ada sejumlah pertanyaan tentang proses alam terjadi, terciptalah berbagai mitos, kemudian bertahap menuju pengetahuan sains, dan kemudian menuju pengetahuan filsafat
Para filsosuf awal yang diduga membidani lahirnya filsafat, memulai kajian filsafatnya dari alam. Mereka bertanya sekitar bahan dasar alam.;“Apa bahan dasar alam”? “Bagaimana alam terjadi?”. Para filosuf Yunani awal sering disebut “filosuf alam” karena menaruh perhatian besar pada alam dan proses-prosesnya. Thales menganggap “air” asal segala yang ada di semesta, Anaximander bilang “tak terbatas” artinya zat dasar yang tidak biasa, Anaximenes bilan “udara” atau “uap”, air kata dia adalah udara yang dipadatkan, tanah adalah air yang membeku, dst. Ketiga filosuf tersebut hidup pada jaman yang hampir sama sekitar 570-526 SM.
Berfilsafat Membuat Orang Cerdas Dan Bijak ?
Inti berfilsafat adalah menggunakan akal pikiran karunia Allah SWT., untuk merenungkan makhluk ciptaan-Nya dari semua sudut dan perspektif. Perenungan akal yang mendalam akan membuahkan ketakjuban luar biasa, menjadikan manusia sadar betapa Allah adalah Maha Besar, menjadikannya semakin yakin bahwa Dia lah dibalik semua yang ada dan terhampar di semesta ini.
Berfilsafat akan selalu berakhir dengan keterbatasan “akal”, sekalipun saat berfilsafat akal bisa menembus ruang dan waktu yang luar biasa. Disinilah pentingnya keimanan agar ketika kemampuan akal terbatasi oleh “dinding” batas kemampuan akal, ia bisa kembali kepada Sang Pencipta. Karena itu, berfilsafat harus melibatkan aspek pikir, dzikir, dan tadabbur, agar semua yang dihasilkan oleh perenungan akal tidak “liar” dan “nakal”. Berfilsafat yang benar akan menjadikan pelakunya menjadi ahli hikmah (seorang arif dan bijak) dalam hidup dan kehidupan
Filosof Model?
Muhammad SAW sebagai teladan bagaimana harusnya berfilsafat. Kasus Tahannus Rasul SAW di gua Hira’ menjadi bukti bagaimana manusia pilihan Allah itu sangat peka terhadap realitas kehidupan di sekelilingnya; “kenapa orang-orang menyembah patung?”, “dimana dan seperti apa sebenarnya sang pencipta semesta?”, “dimana Dia harus dicari?”, dan seterusnya. Saat Rasul mencapai puncak perenungan turun wahyu melalui Jibril AS dengan membawa petunjuk tentang hidup dan kehidupan. Rasul kemudian turun ke tengah-tengah masyarakat untuk membangun peradaban unggul dibawah tuntunan Allah.
Daya nalarnya yang sangat kritis tiada banding dan kemudian dikuatkan dengan bimbingan Allah melalui wahyu-Nya melahirkan sosok Muhammad SAW menjadi orang yang sangat arif dan bijak.
Manfaat Berfilsafat
Berfilsafat akan membuat hidup terpola secara rapi. Tak ada fenomena kehidupan yang lolos dari ketakjubannya. Fenomena kehidupan akan selalu dihadirkan dalam perenungan yang mendalam melalui berbagai pertimbangan yang mengakar. Fenomena kehidupan itu akan menjadi dasar pijak dalam mensikapi hidup dan kehidupannya. Hikmah menjadi kata kunci hidup dan kehidupannya.




Baca Selengkapnya ...

MEMAKNAI TAKDIR; MEMBANGUN MANUSIA BERTANGGUNGJAWAB

Published by ridokurnianto under on 19.53
Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan kelengkapan yang sempurna. Dari aspek lahir memiliki bentuk yang paling bagus dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain (ahsan at-taqwim). Sementara dari aspek batin dibekali kelengkapan yang semakin sempurna melengkapi kesempurnaan lahir/fisik.
Kesempurnaan penciptaan manusia bukan tanpa alas an, tetapi sarat dengan misi besar yakni mengemban amanah Allah sebagai khalifah (wakil)-Nya di bumi sekaligus sebagai hamba-Nya. Agar manusia benar-benar siap dan mampu mengemban amanah kekhalifahan dengan baik, Allah lengkapi dengan potensi untuk berkembang, yakni; al-masyi’ah (kehendak); al-isthitha’ah (daya, kekuatan, kemampuan); dan al-‘amal (tindakan, perbuatan). Potensi manusia akan berkembang sesuai dengan kemauan dan kemampuan manusia yang bersangkutan dalam mengelola al-masyi’ah, al-isthitha’ah, dan al-‘amal tersebut.


Sebuah Ilustrasi
Ada 2 benih pohon yang mulai tumbuh di sebuah hamparan ladang yang subur. Benih pertama berkata: “Aku ingin tumbuh besar, aku ingin menjejakkan akarku jauh ke dalam tanah, aku ingin menjulangkan tubuhku di atas tanah yang keras ini, aku ingin membentangkan semua tunasku untuk menyampaikan salam musim semi kepada dunia, aku ingin merasakan hangatnya matahari dan merasakan segarnya embun pagi di pucuk-pucuk daunku.” Dan benih itupun tumbuh makin menjulang
Benih kedua berkata: “Aku takut, jika akarku kulesakkan ke dalam tanah aku tak tahu apa yang akan kutemui di bawah sana, bukankah disana sangat gelap ?, dan jika kubentangkan tunasku aku khawatir keindahan tunasku akan hilang, bukankah tunasku akan terkoyak?, apa yang akan terjadi ketika tunasku terbuka, pastilah gerombolan siput akan memakanku, belum lagi anak-anak manusia yang sering bermain di sekelilingku; pastilah mereka akan mencabutku, TIDAK ! Aku tak mau tumbuh dan merekah, aku lebih baik menunggu waktu sampai semuanya aman.”
Kedua benih telah beroleh takdir penciptaan; keduanya memiliki kesempatan penuh untuk berkreasi memanfaatan kesempatan hidup. Benih pertama mampu menjemput takdir kehidupan berikutnya dengan cita dan ikhtiar; hingga menjadi sebuah pohon yang kuat dan rindang; sementara benih kedua menjemput takdirnya dengan tanpa cita dan ikhtiar; hingga menjadilah tetap kerdil dan bahkan konon kabarnya tubuhnya dicabik-cabik kawanan ayam hutan.
Apakah Takdir ? Adakah Peran Manusia di dalamnya ?
Dalam hal takdir sebenarnya ada campur tangan manusia, sebanyak 2/3 bagian, sementara kehendak Allah adalah 1/3 bagian dari keseluruhan rangkaian takdir. Apa maksudnya?
Ayat Al-quran yang mengatakan : “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubahnya” (QS. Ar-Ra’d:11), mengandaikan keharusan menyambut takdir dengan ikhtiar manusia. Jadi, taqdir baik atau tidak, nasib baik atau tidak, sebagian besar tergantung pada manusia.
3 Tahapan Menuju Takdir Allah
QAULI : mengusahakan untuk mendapatkan kehidupan yang baik dengan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menggapai kehidupan baik tersebut.
SYAR’I : menunaikan ibadah yang telah diwajibkan oleh Allah SWT dan senantiasa berdo’a agar Allah SWT memberikan kemudahan bagi hidup dan kehidupan ini dengan hasil terbaik. Jika tidak melakukan tahap kedua ini dengan benar dan mendapatkan takdir yang jelek, maka jangan salahkan takdir.
GHAIBI : keyakinan bahwa apapun yang terjadi adalah kehendak Allah SWT., artinya ketika kita telah melaksanakan tahapan pertama dan kedua dengan baik, namun mendapatkan hasil yang tidak baik atau gagal maka itu adalah kehendak Allah, mungkin Allah telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk kita.
Sekitar Makna Tanggungjawab
TANGGUNGJAWAB: Bertindak tepat tanpa perlu diperingatkan
BERTANGGUNGJAWAB: sikap tidak tergantung dan peka terhadap perasaan orang lain. Jadi tanggungjawab adalah kesadaran yang ada dalam diri seseorang behwa setiap tindakannya akan berpengaruh bagi diri dan orang lain.
Makna dan Konsekuensi
Kesadaran yang ada dalam diri seseorang bahwa setiap tindakannya akan mempunyai pengaruh bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri. Karena menyadari bahwa tindakannya itu berpengaruh terhadap orang lain ataupun diri sendiri, maka ia akan berusaha agar tindakan-tindakannya hanya memberi pengaruh positif saja terhadap orang lain dan diri sendiri sekaligus menghindari tindakan-tindakan yang dapat merugikan orang lain ataupun diri sendiri.
Kiat Penanaman Tanggungjwab
Melalui Model : menanamkan rasa tanggung jawab sebaiknya dilakukan dengan memberi contoh konkrit, melalui orang dewasa di sekitarnya (orang tua, guru, pembimbing, dan seterusnya). Kalau Guru/Orang tua seenaknya membuang sampah di sembarang tempat (yang bukan tempatnya), maka segala nasihat atau anjuran tentang membuang sampah yang benar tidak akan ada hasilnya (alias sia-sia).
Memberikan Kepercayaan. Pada hakikatnya kepercayaan orang dewasa merupakan sumber kepercayaan bagi diri anak. Jadi, apabila orang tua percaya pada usaha anak dan bahwa anak bisa menampilkan sesuatu sebagaimana yang diharapkan, maka anak pun akan menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Namun, bila anak merasa bahwa orang tua mereka tidak mempercayainya, anak akan merasa terombang-ambing. la tidak akan memiliki rasa percaya diri bahwa ia akan dapat menyelesaikannya dengan baik.
Melimpahkan Tugas sesuai dengan Keunikan Anak. Anak merupakan pribadi-pribadi unik. Masing-masing berbeda secara individual, baik dalam perkembangan maupun kepribadiannya. Mereka memiliki modalitas beragam (Visual, Auditorial, Kinestetik). Oleh sebab itu jenis tugas yang sama belum tentu dapat diselesaikan dengan hasil yang sama baiknya oleh setiap anak.
Kiat Melejitkan Rasa Tanggungjawab
Hadapkan pada Tantangan. Anak yang biasa dihadapkan pada keadaan yang penuh tantangan akan memperoleh kepercayaan diri yang lebih besar. Di samping itu ia akan lebih berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam tugas-tugas rutin kehidupan keluarganya maupun sekolah. Cukuplah katakan pada anak, “Bapak percaya kepadamu” atau “Ibu percaya kamu akan mengambil keputusan yang benar.”,
Beri Landasan yang Kuat. Berbicara mengenai tanggung jawab ini, Dr. Haim G. Ginott, dalam bukunya “Between Parent and Child” berpendapat, rasa tanggung jawab sejati harus bersumber pada nilai-nilai asasi kemanusiaan: hormat kepada hidup sesama manusia, kebebasan, dan pencarian kebahagiaan. Namun kita jarang melihat masalah tanggungjawab dalam kerangka yang lebih luas itu. Kita cenderung untuk melihat rasa tanggung jawab dari segi-segi yang datar dan biasa: kamar anak bersih atau tidak; mengerjakan PR apa tidak; bagaimana dengan shalatnya; tingkah lakunya sopan atau tidak, dan sebagainya.
Penanaman Sejak Dini. Sesungguhnya, sebagaimana sering dikatakan para ahli, bahwa anak harus belajar bertanggung jawab atas empat hal. Mainannya, pakaiannya, binatang peliharaannya dan yang terpenting dirinya sendiri. Sebaiknya tanggung jawab diajarkan sedini mungkin. Karena makin terlambat tanggung jawab diajarkan, makin sulitlah baginya kelak untuk memikul tanggung jawab itu. Dan, orang tualah tokoh yang paling bertanggung jawab dalam hal menanamkan rasa tanggung jawab pada anak.
Taqdir Dan Tanggungjawab
Islam menghendaki umatnya menyambut taqdir dengan ikhtiar penuh. Kehidupan yang tidak pro-aktif terhadap perubahan merupakan sesuatu yang dilarang dalam ajaran agama (Islam); “Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS. Al-Hasyr (59):18)
Sikap hidup dinamis juga telah dibekalkan oleh Rasulullah SAW kepada kita agar kita membekali diri dengan sejumlah keilmuan dan ketrampilan untuk menghadapi hidup; “uthlub al-‘ilm walau bil-sin” (“tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina); “uthlub al-‘ilm min al-mahd ila al-lahd” (“tuntutlah ilmu sedari kecil sampai menjelang ajal”).
Akrab dengan taqdir akrab mengenali diri. Mengenali diri merupakan pintu masuk untuk mempersiapkan langkah strategis menghadapi masa depan. “Man ‘arofa nafsah faqad ‘arafa rabbah” (“Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya”). Sabda Rasulullah SAW ini menegaskan betapa kekuatan dahsyat dari pengenalan diri seseorang untuk menggapai puncak kehidupan.
Tindakan adalah cermin bagaimana kita melihat dunia. Sementara dunia kita tak lebih luas dari pikiran kita tentang diri kita sendiri. Kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita.
Dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat; menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut kepada dunia, maka sebenarnya kita takut pada diri sendiri. Kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dunia pun akan menampakkan realitanya yang selama ini bersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.
Hasil akhir kehidupan yang telah diupayakan dengan optimal adalah taqdir yang sebenarnya. Hasil akhir belum tentu/mesti sesuai dengan keinginan/rencana semula. Tapi hasil akhir buah karya optimal adalah kehidupan terbaik.
Sebuah motto yang ditulis AJ. Cronin dikutip Johnson untuk mengantarkan karya ilustratifnya “Who Moved My Cheese ?” (2001:xiii), layak kita renungi: “Kehidupan bukanlah jalan yang lurus dan mudah dilalui, dimana kita bisa bepergian bebas tanpa halangan, namun berupa jalan-jalan sempit yang menyesatkan, dimana kita harus mencari jalan, tersesat dan bingung, sekarang dan sekali lagi kita sampai pada jalan yang tak berujung. Namun, jika kita punya keyakinan, pintu pasti akan dibukakan untuk kita, mungkin bukanlah pintu yang selalu kita inginkan, namun pintu yang akhirnya akan terbukti terbaik untuk kita.”



Baca Selengkapnya ...

TRADISI WAROK DAN MARGINALISASI PEREMPUAN DI KABUPATEN PONOROGO

Published by ridokurnianto under on 20.09
Di dalam kebesaran tradisi warok Ponorogo ternyata menyisakan sisi gelap, berupa penyimpangan seksual yang lebur di dalam fenomena gemblak. Penyimpangan seksual itu didapati memiliki landasan kokoh yang mengalir melalui ideology kanuragan yang melekat dalam kehidupan warok. Ideologi kanuragan itu mengajarkan bahwa seorang warok harus menjauhi berhubungan dengan perempuan (sekalipun isterinya sendiri) agar ilmu kekebalan bisa dikuasai dengan sempurna. Karenanya, hadirlah sosok gemblak (seorang lelaki belia berusia 10 sampai 17 tahun) sebagai pengganti peran dan fungsi perempuan (isteri) tersebut. Kehidupan dalam suasana tradisi warok sebagaimana dipaparkan, mengasumsikan terpinggirkannya kaum perempuan (para isteri warok), baik dalam peran dan fungsi mereka dalam kehidupan rumah tangga maupun terlebih dalam kehidupan bermasyarakat.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: (1) Ingin mendeskripsikan dinamika kehidupan tradisi warok Ponorogo; (2) Ingin mendeskripsikan status dan peran perempuan (para isteri warok dan warokan) dalam tradisi warok Ponorogo; (3) Ingin mendeskripsikan dinamika hubungan gender dalam tradisi warok Ponorogo. Selanjutnya, secara teoritis, diharapkan hasil penelitian ini memberikan sumbangan yang signifikan dalam penguatan khasanah ilmu pengetahuan, terutama di bidang dinamika hubungan gender dalam tradisi warok Ponorogo. Sedangkan secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan bisa dipakai landasan beraktifitas, terutama bagi kaum perempuan Ponorogo dalam rangka berperan aktif dalam pembangunan masyarakat di segala bidang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten Ponorogo. Informan peneltian ini adalah para warok, warokan, dan para isteri mereka. Beberapa informan pendukung adalah para tokoh Yayasan Reyog Ponorogo (sebuah organisasi kesenian reyog Ponorogo yang didirikan sebagai pusat pengelolaan dan pengembangan kesenian tersebut). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara mendalam (indheep interviewing), dan dokumenter. Teknis analisis data menggunakan deskriptif kualitatif melalui proses induksi-interpretasi-konseptualisasi. Proses analisis dalam penelitian ini telah dimulai sejak peneliti menetapkan fokus, permasalahan, dan lokasi penelitian, kemudian menjadi intensif ketika turun ke lapangan. Proses analisis akan berjalan melalui kategorisasi atau konseptualisasi data yang terus digali, sambil membandingkan dan mencari hubungan antar konsep sampai melahirkan hipotesis-hipotesis. Proses ini akan bergerak tidak secara linier lagi, tetapi berputar secara interaktif antara satu konsep dengan konsep yang lain, atau antara kategori satu dengan kategori yang lain. Proses ini juga akan bergerak sejak awal pengumpulan data, bekerja secara simultan, semakin kompleks atau rumit, tetapi sekaligus semakin mengarah pada proses munculnya hipotesis dan sampai pada titik tidak terdapat lagi informasi baru (Hamidi, 2004: 80-81)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa; gemblak dalam tradisi warok Ponorogo merupakan tuntutan dari ideology kanuragan. Kehadirannya dibutuhkan sebagai kompensasi hilangnya peran dan fungsi isteri mereka disebabkan tuntutan ideology kanuragan itu. Disinilah sisi gelap kehidupan warok muncul, terutama terkait dengan penyimpangan seksual (homo seksual) dimana pada gilirannya melahirkan citra buruk tradisi warok Ponorogo. Citra buruk atau sisi gelap kehidupan warok yang santer terdengar di masyarakat, ternyata tidak sepenuhnya benar, karena di dalam tradisi itu ada kelompok warok yang memiliki gemblak (sebatas teman dan pelayan kebutuhan ritual saat nglakoni) dan ada juga kelompok panggemblak (bukan warok tetapi memiliki gemblak, untuk memenuhi hasrat seksual atau pemuas nafsu). Terlepas dari tradisi gemblak maupun panggemblak, tradisi warok ini telah mengakibatkan peran dan fungsi isteri terpinggirkan. Marginalisasi perempuan dalam bentuk konco wingking (sebatas mengurus rumah tangga) dan urmat garwa (menghormati apapun yang dilakukan suami).
WAROK TRADITION AND WOMAN MARGINALIZATION IN PONOROGO REGENCY
In the great tradition of warok Ponorogo, there is still left a bad image in the forms of sexual deviation called gemblak. This deviation is believed as a basic principal to get or keep his magic power (kanuragan) of warok life. The idea of kanuragan taught him that a warok has to keep his distance from the woman even his own wife in order to master the power perfectly, it makes him to take a boy aged 10 to 17 years old as a gemblak who changes the role of his wife. This tradition of course is assumed that woman (warok’s wives) has been marginalized both their role and function in their family and community activities.
The research is aimed to: (1) describe the dynamic life of warok tradition in Ponorogo; (2) describe woman (warok and warokan’s wives), status and role in warok tradition in Ponorogo; (3) describe the correlation of gender in warok tradition in Ponorogo. Theoritically, this research is expected to give significant contribution for science, mainly the dynamic of gender relationship in warok tradition in Ponorogo. In pragmatic, however, this study is hoped to be reference of any activities especially the woman in Ponorogo to participate in community development of any fields.
This research used qualitative approach. The place of the research is in Ponorogo Regency. The research informan are warok, warokan, and their wives. The supporting informan are also taken from Reyog Ponorogo Fondation. The techniques of collecting data used in this research are observation, indepth interview and documentary. The result of data collection was analyzed descriptively through the process of induction, interpretation, conseptualization. The process of analysis started when the resercher set the focus, stated the research problems, and determined the location, and then intensively went down to the field. The process will work through the catagorization or conceptualization of data observed, and then it was compared and found out the correlation among the concepts to formulate the hypothesis. This process is done interactively between one concept and another not linierly. It also worked simultaneously from the data collection simply to the complex ones, that lead to the emergence of hypothesis until the absence of new information (Hamidi, 2004: 80-81).
The result of study has revealed that gemblak in warok Ponorogo tradition is a must of the magic power (kanuragan) ideology. This presence is badly needed for compasating his wives role and function. Here is negative aspect of warok life in the forms of sexual deviation (homosexual) that producing the negative view of warok tradition. This negative image of warok life is not absolutely correct. Some waroks have gemblak just as their gemblak as a sexual compensation. From this point of view either as a partner or sexual compensation, the role and the function of warok wives has been marginalized in the forms of house wive only (konco wingking) and underbow of husbend (urmat garwa).


Baca Selengkapnya ...

PERLAWANAN KULTURAL TRADISI RAKYAT (TRADISI LARUNG RISALAH DALAM PERGUMULAN AGAMA, KEKUASAAN, DAN TRADISI DI NGEBEL PONOROGO)

Published by ridokurnianto under on 19.33
Penelitian ini mengungkapkan beberapa temuan mengenai perlawanan kultural yang dilakukan masyarakat pemilik adat larungan di wilayah Kecamatan Ngebel Kabupaten Ponorogo. Kerangka penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan sosiologis model vestehen atau pemahaman, yakni memberikan pengartian yang lebih mendalam, mengenai hubungan antara keadaan tertentu dengan proses perilaku yang terjadi. Informan dalam penelitian ini adalah para pelaku ritual Larung Risalah, baik yang terlibat secara struktural maupun kultural. Selain interview, data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui observasi dan dokumenter. Sedangkan metode analisis data melalui deskripsi analitik, yakni menggambarkan kategori-kategori yang ditemukan dan muncul dari data.

Temuan-temuan utama dalam penelitian ini terbagi menjadi 6 pokok bahasan, yakni sejarah larungan, pola hubungan antar pelaku larung, motif perlawanan kultural, dampak perlawanan kultural, pergumulan antar perspektif dan kepentingan, dan upaya pemberdayaan.
Dalam penelitian ini, sejarah larungan mengalami dua fase, yakni sebelum dilembagakan dan setelah dilembagakan. Sebelum dilembagakan larungan dimulai sejak waktu yang sangat lama dalam bentuk slametan, wilujengan, dan belum ditemukan kapan pertama kali lahir, siapa penggagasnya, apa motifnya, dan seterusnya. Kuat dugaan bahwa larungan fase ini ada sejak adanya masyarakat Ngebel, terbukti dengan prosesi ritual yang sarat dengan semangat animisme dinamisme. Setelah ritual larungan dilembagakan dalam bentuk Larung Sesaji semua komponen masyarakat pelaku larung merasa terlibat dalam sejarah larungan ini, sehingga berdampak pada pendukungan yang sama-sama kuat. Ritual larungan ini baru menuai konflik setelah dirubah menjadi Larung Risalah dimana perspektif dan kepentingan kelompok dominan masuk menyemangati ritual ini.
Pola hubungan sosial antar pelaku larung adakalanya mesra dan adakalanya bertengkar. Kemesraan atau harmoni terjadi ketika semua komponen menjunjung tinggi kebersamaan, keterbukaan, dan kesepahaman di tengah-tengah perspektif dan kepentingan kelompok yang muncul. Pertengkaran atau disharmoni terjadi ketika “pemaksaan” perspektif atau kepentingan tertentu muncul dan menyemangati ritual larungan ini.
“Pemaksaan” budaya ritual larungan lewat Larung Risalah melahirkan 3 motif perlawanan rakyat (masyarakat pemilik adat ritual larungan di Ngebel); (1) memperkuat identitas internal melalui koordinasi dan konsolidasi sesama pemilik adat larungan untuk melestarikan kearifan lokal warisan nenek moyangnya sebagaimana adanya; (2) mengimbangi gerakan islamisasi para tokoh agama lewat Larung Risalah dengan gerakan de-islamisasi melalui penguatan simbol-simbol sesaji; dan (3) menjaga stabilitas gairah pembangunan wisata Telaga Ngebel dalam rangka mewujudkannya menjadi obyek wisata andalan di Kabupaten Ponorogo.
Di dalam dinamika perlawanan kultural itu ditemukan dua dampak, yakni negatif maupun positif. Dampak negatif terkait dengan minimnya dukungan masyarakat setempat terhadap penyelenggaraan ritual Larung Sesaji. Sedangkan dampak positifnya melahirkan kreatifitas tinggi masyarakat untuk berekspresi budaya melalui ritual larungan “tandingan”, diantaranya munculnya prosesi Lampah Ratri Sewudian (jalan kaki tengah malam mengitari telaga dengan menyalakan seribu obor), dimana lewat kreasi ini bisa jadi akan semakin menguatkan pesona wisata Telaga Ngebel.
Pergumulan antar berbagai perspektif dan kepentingan akhirnya benar-benar terjadi ketika ritual larungan berubah menjadi Larung Risalah. Para tokoh agama (Muslim) yang pada awalnya memiliki keinginan mewarnai ritual itu dengan warna islami, tanpa sadar telah memberi peluang munculnya solidaritas organik sekaligus mekanik pada masyarakat pemilik adat untuk semakin menguatkan pesan-pesan formal kearifan lokal warisan nenek moyangnya itu, sehingga aspek sesaji dimunculkan semakin kuat. Sementara dari pihak penguasa (Pemerintah Daerah) yang memiliki kepentingan melestarikan budaya lokal sekaligus penguatan pembangunan wisata Telaga Ngebel, tidak memiliki kekuatan penuh menggerakkan semangat masyarakat pemilik adat, akibat dukungannya terhadap gerakan islamisasi oleh para tokoh agama tersebut. Dan di sela-sela pergumulan itu, muncul pula komunitas masyarakat Muslim “militan” Ngebel yang menginginkan pensikapan ritual larungan dengan aktifitas budaya yang rasional dan islami melalui acara keagamaan yang dibalut dalam agenda istighatsah.
Di dalam pergumulan budaya itu ternyata masih menyisakan ruang untuk membangun keterbukaan, kebersamaan, dan kesepahaman antar komponen masyarakat (tokoh agama, pemerintah, maupun masyarakat pemilik adat), yakni dengan eksisnya semangat mewujudkan Telaga Ngebel menjadi obyek wisata andalan di Kabupaten Ponorogo. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Ponorogo layak bersikap arif untuk menjadikan semangat ini menjadi kata kunci yang harus dipegangi semua pihak, sekalipun masing-masing tetap memiliki perpsektif dan kepentingannya sendiri. Ritual larungan di Telaga Ngebel, apapun bentuk dan isinya, tetap akan membuahkan karya besar dan memberikan kemanfaatan luas, senyampang logika kesepahaman tetap bertahan dan dipedomani oleh masing-masing pihak pelaku ritual larungan ini.










Baca Selengkapnya ...

SHALAT MENEMBUS LANGIT

Published by ridokurnianto under on 19.23
Inna al-hamd li Allah nasta’inuh wa nastaghfiruh wa na’udzu bi Allah min syurur anfusina wa sayyiati a’malina man yahdi Allah fa huw al-muhtady wa man yudhlil fa la hadiya lah. Asyhadu an la ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ’abduh wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim wa barik ’ala Muhammadi an-Nabiyy wa ’ala alih wa shahbih ajma’in. Amma ba’d, fa ya ikhwan rahimakum Allah; ushiny wa iyyakum bi taqw Allah wa tha’atih la’allakum turhamun.
Ma’asyir al-Muslimin rahimakumullah !
Shalat merupakan tulang punggung tegaknya agama Islam, dimana karena itu, shalat memiliki nilai kebermaknaan yang sangat tinggi. Karena itu pula, ia menjadi penentu bagi baik-buruk, tegak-robohnya agama Islam. Rasulillah SAW bersabda; “Shalat merupakan tiyang agama, barang siapa yang menegakkannya berarti ia telah menegakkan agama, dan barang siapa merobohkannya, berarti ia telah merobohkan agama.”; as-shalatu ‘imad ad-din fa man aqamaha faqad aqam ad-din, wa man hadamaha faqad hadam ad-din.”


Rasulullah SAW., pernah menyampaikan khabar kepada para sahabat tentang keadaan manusia saat berkumpul di padang makhsyar usai dibangkitkan dari kubur, kata beliau; “di akhirat nanti, ketika ummat Rasul SAW mau minum air telaga Kautsar, di antara mereka ada kelompok manusia yang terhalang (tidak bisa meminum air telaga tersebut). Di saat itu semua manusia dibangkitkan dari kubur, sehingga menjadikan tempat di hari berbangkit itu penuh sesak dengan manusia hingga keadaan menjadi panas yang amat sangat. Begitu panasnya, hingga seluruh lubang yang ada di dalam anggota badan manusia itu menyemburkan api. Disaat Rasul SAW menyaksikan orang-orang yang tidak kebagian air telaga kautsar, beliau bertanya kepada Allah SWT.; “Mereka itu kan ummatku ya Allah?, Allah menjawab; “Bukan Muhammad, bukan ! kamu tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sepeninggalmu, mereka itu adalah orang-orang yang mengerjakan shalat, tetapi shalatnya tidak sesuai dengan petunjukmu.” HR. Muslim
Ma’asyir al-Muslimin rahimakumullah!
Hadis di atas sekaligus menyadarkan kita, bahwa ternyata banyak ummat Muhammad SAW., yang mengerjakan shalat, tetapi bersamaan dengan itu, shalatnya ternyata tidak bisa menjadikanya beroleh rahmat Allah SWT di akhirat nanti, bahkan ketika menghadapi kesulitan yang amat dahsyat di tengah padang mahsyar (tempat yang sangat mencekam), mereka tidak bisa merasakan air telaga Kautsar sebagai satu-satunya pelepas dahaga dari kondisi panas yang tak terperi. Dengan demikian, tidak sembarang shalat bisa menjadikan orang yang melakukannya memperoleh pahala kebaikan dari Allah SWT.
Sebenarnya kita telah memaklumi, bahwa berkali- kali Rasul SAW menjelaskan, bahwa ibadah shalat merupakan pokok/pangkal dari seluruh amal yang kita kerjakan. Shalat inilah di akhirat kelak, di yaum al-hisab; di hari dimana amal perbuatan kita ditimbang dan dinilai, akan dihitung pertama-tama. Di dalam ibadah shalat inilah, seluruh amal yang telah kita lakukan di ukur dan dinilai. Apabila shalat kita bagus, maka bisa dipastikan bahwa amal ibadah lainnya akan dinilai bagus. Sebaliknya, apabila shalat kita jelek, maka sudah bisa dipastikan bahwa amal ibadah lainnya juga akan ikut dinilai jelek;
Ma’asyir al-Muslimin rahimakumullah!
Dari Rasul SAW, kita juga telah begitu paham, bahwa shalat yang baik adalah shalat yang bisa menghadirkan jiwa kita menuju dan menghadap Allah SWT. Akan tetapi, dibalik pemahaman yang baik ini, ternyata kita sering menjadi kelompok manusia yang lalai di dalam shalatnya. Jika demikian, maka bisa jadi shalat kita tidak sekedar bernilai jelek, tetapi justru dengan shalat yang kita lakukan itu kita malah berbuat syirk kepada Allah SWT; hati kita mendua bahkan bercabang-cabang; tidak tertuju kepada Allah, melainkan tertuju kepada keduniaan yang fana ini (sekalipun kita sangat paham, bahwa syirk adalah satu-satunya perbuatan jahat dimana nilai kesalahan dan dosanya tidak bisa diampuni oleh Allah karena begitu besar nilai keingkarannya kepada Allah Sang Pencipta semesta ini).
Karena itulah, barangkli kita sangat bisa memahami, kenapa banyak mushalli dimana dengan shalat yang dikerjakannya, tidak bisa menghadirkan “hikmah agung” di dalam hidup dan kehidupannya, yakni berupa atsar as-sujud; tanha ‘an al-fakhsya’ wa al-munkar; tidak bisa menjadikannya tercegah dari perbuatan keji dan kemunkaran.
Barak Allah li walakum fi al-Quran al’adhim wa nafa’any wa iyyakum bima fihi min alayaty wa dhikr al-hakim wa taqabb al-minna tilawatah innahu huw as-sami’ al-‘alim.


Baca Selengkapnya ...

KEARIFAN EMAS

Published by ridokurnianto under on 18.50
Inna al-hamd li Allah nasta’inuh wa nastaghfiruh wa na’udzu bi Allah min syurur anfusina wa sayyiati a’malina man yahdi Allah fa huw al-muhtady wa man yudhlil fa la hadiya lah. Asyhadu an la ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ’abduh wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim wa barik ’ala Muhammadi an-Nabiyy wa ’ala alih wa shahbih ajma’in. Amma ba’d, fa ya ikhwan rahimakum Allah; ushiny wa iyyakum bi taqw Allah wa tha’atih la’allakum turhamun.
Ma’asyir al-Muslimin rahimakumullah!
Mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT., dengan senantiasa mentaati syari’at-Nya. Mari kita juga senantiasa mentaati Rasullah SAW, dengan senantiasa berupaya menyempurnakan akhlak karimah.
Akhir-akhir ini, kita telah dipaksa untuk mengikti perkembangan jaman yang dihiasi dengan sikap dan perilaku tidak terpuji; kesombongan, keserakahan, perlombaan pamer; pamer ilmu; pamer ketrampilan, pamer pangkat, pamer kekayaan, dan seterusnya.


Barangkali di sepanjang jalan yang kita lalui, kita akan menjumpai gambar-gambar partai politik dengan jumlah yang tak terhitung (sangking banyaknya); juga gambar-gambar calon legislatif (Caleg) yang dengan sangat bebas mameraken diri dengan sejumlah akhlak yang tidak terpuji tadi; “akulah terbaik, akulah terpintar, akulah paling merakyat, akulah paling amanat, akulah paling teruji, lan sejumlah aku...kesombongan dan keserakahan lainnya. Mereka tampakkan penampilan lahir dengan sebaik-baiknya, sementara jiwa serta hatinya sering tidak cocok/tidak tulus dengan apa yang ditampilkan.
Di dalam akhlak Islam, Rasulullah SAW., memberikan sunnah agar kita bertutur lembut, bertindak sopan, serta bersikaf arif. Kebebasan hidup menurut sunnah Rasulillah haruslah tetap dikbatasi dengan aturan-aturan; al-Qur’an dan Sunnah Rasul SAW.
Semua orang memiliki kebebasan untuk bertutur dan berbuat. Tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan tanpa batas, dan batas-batas tersebut tak lain adalah aturan agama. Karena itu seorang Muslim sejati, akan berpikir berkali-kali sebelum bertutur atau bertindak, disamping juga memohon petunjuk kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW., bersabda:“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berbicara yang baik atau (kalau tidak bisa berbicara yang baik) lebih baik diam” (HR. Bukhari Muslim sangka Abu Hurairah).
“Man amana bi Allah wa al-yaum al-akhir fa al-yaqu al-khair aw liyashmut”Sebuah kata bijak bertutur: “Think today and speak tomorrow” (Berpiklah hari ini dan bicaralah esuknya).
Kalau ucapan kita tidak baik, apalagi kalau sampai menyakiti orang lain, maka lebih baik di tahan, jangan diucapkan. Tetapi kalau ucapan kita benar dan baik, maka lebih baik kita ucapkan, dan jangan ditahan.
Berkaitan dengan kebebasan tersebut, malaikat Jibril as. Pernah diutus Allah SWT untuk menyampaikan rambu-rambu hidup. Rasul SAW menyampaikan masalah ini di dalam hadisnya:“Jibril pernah mendatangiku dan bertutur: “Wahai Muhammad hiduplah kamu sesukamu, tetapi sesungguhnya kamuakan mati suatu saat, cintailah apa-apa yang kamu cintai sesuka hatimu, tetaopi suatu saat kamu akan berpisah dengannya, dan bertindaklah sesukamu, sesungguhnya semua perbuatan ada balasannya.” (HR. Baihaqy saka Jabir)
Ma’asyir al-Muslimin rahimakumullah!
Sabda Rasul SAW ini menjadi semakin relevan kita renungi, mengingat akhir-akhir ini, atas nama dalih kebebasan, banyak orang bertutur tanpa logika serta data yang benar (akurat), dan bertindak semaunya tanpa mengindahkan etika agama. Para cerdik (para pakar) barangkali, di jaman seperti ini, akan lebih bijaksana ketika mereka lebih banyak mendengarkan daripada bertutur (yang tidak jarang justru malah membingungkan masyarakat).
Ma’asyir al-Muslimin rahimakumullah!
Generasi berhati berhati emas diharap akan senantiasa bermunculan terutama di tengah-tengah kondisi seperti ini. Emas tetaplah emas dan takkan pernah rusak karena bergabung dengan barang-barang lainnya.
Suatu saat Guru Besar shufi; Dzun Nun Al-Mishri, ditegur seorang pemuda; “Guru, saya sulit memahami Anda, kenapa orang terhormat seperti Anda selalu berpakaian kaya begini?; sangat sederhana. Bukankah di jaman seperti ini berbusana indah dan bagus sangat dibutuhkan; tidak Cuma untuk tujuan berpenampilan keren, tetapi lebih jauh juga bisa dipakai untuk berbagai tujuan.?”
Mendapat teguran seperti itu, sang Sufi hanya tersenyum namung tersenyum. Beberapa saat kemudian beliau mencopot cincin dari jemarinya dan berucap: “Ki sanak ! teguranmu akan aku jawab, setelah kamu melakukan sesuatu yang aku minta. Dalam penasarannya, sang pemuda segera menyambut tawaran sang Sufi. Ambil cincinku ini, kemudian bawalah ke pasar di sebelah sana itu kemudian tolong tawarkan cincin ini kepada siapapun yang ada di pasar dengan harga senilai sekeping emas.
Melihat cincin Dzun Nun yang cukup usang dan kotor, sang pemuda menjadi ragu: ” sekeping emas Guru? Saya tidak yakin cincin ini bisa ditawar senilai sekeping emas.”
“Coba saja dulu ki sanak, siapa tahu kamu bisa menawarkan cincin tersebut seharga sekeping emas.” Tutur sang Sufi (meyakinkan sang pemuda).
Sang pemuda terus berangkat ke pasar sesuai yang ditunjukkan sang sufi. Ia mulai menawarkan cincin kepada para pedagang: pedagang kain, pedagang sayur, pedagang daging, dan pedagang-pedagang lainnya semua ditawari cincin tersebut.
Tapi tak ada seorangpun yang berani menawar cincin senilai sekeping emas; Mereka hanya berani menawarnya senilai sekeping perak. Mesti saja sang pemuda tidak berani menjualnya senilai sekeping perak.
Sang pemuda segera pulang dan kembali kepada Dzun Nun; “Guru, sepasar tidak ada satupun yang berani menawar cincin ini seharga sekeping emas”., mereka hanya berani menawarnya senilai sekeping perak”.
Lagi-lagi Sang Sufi hanya tersenyum mendengar keluh kesahipun sang pemuda, kemudian bertutur: “Ki sanak sekarang cobalak cincin ini kamu bawa ke tukang emas yang memiliki toko emas di belakang rumahku itu, perlihatkan cincin ini kepada beliau, kamu tak usah menawarkannya, biar beliau sendiri yang menghargai cincin ini. Pedagang emas pemilik toko emas ternyata berani menawar cincin sang sufi senilai 1000 keping emas, dan berarti 1000 kali lipat harga yang sudah ditawarkan kepada para pedagang di pasar tadi.
Dengan tersenyum sang sufi berucap kepada sang pemuda yang tengah terheran-heran: “ya ini ki sanak, inilah jawaban atas pertanyaanmu tadi. Seseorang itu tidaklah bisa dinilai hanya dari sisi luar-fisiknya saja; tidak bisa dinilai hanya dari busana yang dipakainya saja, atau penampilan yang tunjukkannya. Pedagang sayur, pedagang kain, pedagang daging, dan sakteruse saja yang menilai cincin ini senilai sekeping perak, tetapi di mata pedagang emas, cincin ini sangat berharga dan karenanya ia berani menawar senilai 1000 keping emas.
Ma’asyir al-Muslimin rahimakumullah !
Emas dan permata yang ada di dalam diri pribadi seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai melalui kedalaman jiwa. Dibutuhkan kearifan untuk meneliti dan melihatnya. Dan hal itu juga membutuhkan proses. Kita tidak bisa menilai hanya dari tutur kata serta sikap seseorang yamh kita dengar dan lihat sekilas. Tidak jarang, yang kita lihat dan kita duga emas ternyata hanya besi tua, dan tidak jarang juga yang kita lihat dan duga besi tua ternyata emas.
Ma’asyir al-Muslimin rahimakumullah!
Mari kita senantiasa berhati-hati sebelum menentukan menentukan pilihan-pilihan hidup; pilihan-pilihan calon pemimpin yang kita harap mampu mengemban amanah sebagai khalifah Allah SWT’; penentu nasib bangsa dan negeri tercinta ini.
Mari kita senantiasa mencari sekian cara untuk meraih sunnah Rasul SAW., hingga mengantar kita memiliki pribadi emas yang bernilai tinggi dihadapan Allah SWT dan di hadapan Rasulillah SAW. Semoga kita senantiasa beoleh hidayahipun Allah SWT.
Barak Allah li walakum fi al-Quran al’adhim wa nafa’any wa iyyakum bima fihi min al-ayaty wa dhikr al-hakim wa taqabb al-minny wa minkum tilawatah innahu huw as-sami’ al-‘alim.

Baca Selengkapnya ...

BELAJAR BERDEMOKRASI BERSAMA RAKYAT

Published by ridokurnianto under on 22.35
Apatisme Berpolitik
Pendidikan pemilih dalam konteks pemilihan calon pemimpin dirasa sangat diperlukan, terlebih jika pemilihan itu hendak memilih calon pemimpin bangsa. Pemilihan calon pemimpin bangsa, dimana di negeri Indonesia dikenal dengan Pemilihan Umum (Pemilu), terbukti telah menghasilkan generasi pemimpin dengan karakter dan kualitas yang beragam. Sayangnya peralihan dari generasi pemimpin yang satu kepada generasi berikutnya, belum menghasilkan pemimpin bangsa yang diharapkan, sekalipun telah melalui proses pemilihan pemimpin yang disebut-sebut berwatak jujur, adil, dan demokratis.


Berdasarkan pengamatan dan beberapa hasil penelitian, menunjukkan bahwa rendahnya kualitas hasil pemilihan umum di Indonesia disebabkan oleh faktor beragam; mulai dari aspek penyelenggara pemilu, partai politik peserta pemilu, sistem dan undang-undang kepemiluan, hingga rakyat itu sendiri. Rendahnya kualitas pemilu dengan bukti rendahnya kapasitas pemimpin bangsa, telah berdampak pada munculnya berbagai persoalan bangsa yang semakin memperumit persoalan pembangunan bangsa dan negeri ini, hingga berujung pada selalu kandasnya cita-cita mewujudkan bangsa dan negeri yang adil, makmur, dan sejahtera. Lebih jauh, kondisi diatas telah menyebabkan sebagian besar rakyat Indosesia menjadi apatis terhadap segala jenis pemilihan pemimpin; pilkades, pilkada, hingga pemilu.
Membangkitkan motivasi dan semangat rakyat yang telah apatis dan bahkan trauma terhadap segala bentuk pemilihan pemimpin, jelas bukanlah pekerjaan yang mudah. Diperlukan beragam strategi dan banyak tahapan dan proses untuk memulihkannya. Satu diantaranya ialah melalui pendidikan pemilih. Mempertimbangkan kompleksnya permasalahan terkait dengan pemilih, pendidikan pemilih jelas memerlukan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut yang benar-benar matang. Apalagi pemilu tahun 2009 yang akan datang yang lekat dengan persoalan-persoalan yang semakin rumit, jelas semakin membutuhkan sikap dan tindak para pemilih yang cerdas dan bertanggungjawab.
JPPR dan Pencerahan Berpolitik
Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) merupakan jaringan 30 lembaga yang terdiri dari organisasi kemasyarakatan di bawah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, LSM, lembaga pendidikan, lembaga antar iman, lembaga kemahasiswaan dan radio, dengan sekretariat nasional di Jakarta. Diantara misinya adalah memberikan dukungan kepada masyarakat luas agar sadar, berpengetahuan dan partisipatif dalam membangun kedaulatan rakyat. Melalui misinya ini JPPR mencoba untuk membangun kedewasaan berpolitik rakyat melalui pendidikan pemilih pra-pemilu 2009 di 10 kabupaten se-Indonesia, dimana salah satunya adalah Kabupaten Ponorogo.
Perjalanan perpolitikan di Indonesia dari waktu ke waktu, dengan berbagai persoalan yang mengiringi, telah memaksa rakyat untuk membuat definisi-definisi terkait demokrasi dan politik. Pencermatan rakyat terhadap semuanya menghasilkan simpulan bahwa demokrasi dan politik di negeri ini adalah “kotor” dan “menjijikkan”. Persepsi negatif mereka tentang demokrasi dan politik kadang memang tidak “fair”, karena suatu waktu mereka juga ikut terlibat di dalam “penodaan” terhadap demokrasi dan politik itu sendiri, misalnya yang paling sederhana adalah masalah “kontrak” politik yang sering mereka bangun dengan partai politik atau bahkan oknum dari partai politik tertentu; “bagi-bagi uang” atau “bagi-bagi hadiah”. Pada gilirannya persoalan beragam dan naïf itu melahirkan berbagai kenyataan mengecewakan atau bahkan menyakitkan yang dirasakan langsung oleh rakyat itu sendiri; “pemerintah yang korup, tidak bermoral, dan tidak memiliki semangat membangun”.
Mengingat negeri ini harus segera mampu mewujudkan kemajuan di segala bidang, kualitas demokrasi dan politik di negeri ini layak jadi prioritas dalam perspektif pembangunan negara-bangsa. Rakyat yang “cerdas” berdemokrasi dan berpolitik berarti menjadi pilar utama menggapai impian besar tersebut.
Bertutur Politik di Forum Warga
Forum warga yang dimaksud adalah kumpulan warga desa atau kelurahan yang sengaja dikumpulkan untuk bersama-sama berbincang tentang demokrasi dan politik dengan bahasa keseharian mereka. Forum ini dibentuk berdasar forum yang telah ada, misalnya; jama’ah yasin-tahlil, kelompok arisan warga, kelompok tani, dan lan sebagainya; sedangkan bagi desa atau kelurahan yang belum ada forum warganya, maka forum warga dibentuk bersama-sama dengan ketua RT/RW lokasi.
Sebagaimana keseharian warga, di forum warga yang telah tersentuh program pendidikan pemilih pra-pemilu JPPR ini, mereka dengan lepas membincang “per-demokrasi-an” ataupun “per-polotik-an” sejauh yang mampu mereka cermati. Permasalahan-permasalahan yang mereka munculkan pun juga cukup “polos” dan “valid”. Polos karena tak ada yang mereka tutup-tutupi; apa adanya menurut yang telah terjadi. Valid karena permasalahan yang muncul merupakan fakta yang mereka lakukan sendiri ataupun yang mampu mereka lihat di sekelilingnya. Pada taraf tertentu, forum warga ini mungkin cukup “menarik” dan karena itu mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan rapatnya para dewan; para wakil rakyat. Bedanya mungkin juga tipis, kalau di forum rapat dewan tidak begitu intens menyoal warga; rakyat, di forum warga sangat intes menyoal dewan.
Kopi dan jajan ala desa (snek) yang menemani diskusi menjadi bumbu keakraban suasana. Kemampuan meng-evaluasi (menilai) terhadap pelaksanaan demokrasi, politik, pemerintahan, dan seterusnya, kadang “mengejutkan” – lucu, apa adanya, tapi berfakta. Begitu juga kemampuan “bermimpi” bagi kemajuan negeri dan bangsa ini ke depan sering “diluar dugaan”- lugu, sederhana, tapi rasional.
Sayangnya, ketulusan dan kepolosan mereka kini telah tersekat oleh kenyataan pahit yang terus-menerus mereka temui dalam kehidupan keseharian mereka. Temuan-temuan bersama tentang demokrasi dan politik di forum warga masih terasa “gamang” untuk dibumikan ke dalam pesta demokrasi di saat-saat berikutnya. Energi dan semangat mereka terasa “habis” ditelan oleh hiruk-pikuk “pesta demokrasi naïf” yang diperagakan oleh para wakilnya.
Semua Bisa Berbagi
Nurani rakyat tetaplah ”nurani rakyat”, yang tetap suci dan tulus. Kekecewaan atau bahkan kebencian yang telah terasa dan tersimpan dalam hati rakyat, tetap akan mudah terbilas oleh ”ketulusan” dan ”kepolosan” para ”pejuang” negeri ini.
Ditengah-tengah situasi apatis, bosan, trauma, dan seterusnya terhadap semua jenis pesta pemilihan pemimpin bangsa, ternyata rakyat tetaplah haus akan pencerahan. Di lapangan, selama forum warga dalam konteks pendidikan pemilih pra-pemilu 2009 berlangsung, mereka terlihat ingin tahu lebih banyak tentang persoalan-persoalan demokrasi dan politik, melebihi kapasitas leaflat (yang mengungkap persoalan-persoalan tersebut) yang sengaja diperuntukkan bagi mereka sebagai bahan diskusi.
Berbagai masukan dan alternatif, yang kadang, tidak sengaja mereka lontarkan, menunjukkan betapa energi dan semangat mereka masih sangat dahsyat untuk menyambut dan mewujudkan negeri dan bangsa yang besar dan berdaulat di kemudian hari.
Persoalannya adalah semua itu butuh ”kepedulian” banyak pihak dan banyak figur. Pihak dan figur yang masih memiliki nurani yang tulus membela kepentingan rakyat melalui pendidikan yang mencerdaskan secara terencana dan berkesinambungan. Dalam konteks ini, semua pihak dan figur bisa berbagi; berbagi semangat, berbagi pengalaman, berbagi ilmu dalam satu kata kunci ”kebersamaan” mewujudkan negeri-bangsa yang berkualitas dan berakhlak karimah dibawah pemerintahan yang amanah.

Baca Selengkapnya ...

BERGANTUNG KEPADA ALLAH MENGGAPAI SEMUA KEINGINAN

Published by ridokurnianto under on 22.22
Konsep penting (dalam Islam) dalam konteks pembelajaran dan pembekalan jiwa adalah tawakkal. Imam Ghazali menyatakan tawakkal sebagai ibadah hati yang paling utama. Bahkan Ibnul Qayyim menyebut tawakkal sebagai separoh agama dan separohnya adalah inabah (penghambaan total kepada-Nya). Dengan posisi ini, Tawakkal menempati peringkat teratas dalam konsep tauhid. Artinya segala sesuatu takkan bisa dicapai dengan sempurna tanpa tawakkal. Ia berhubungan erat dengan segala urusan religius (yang wajib, sunnah, mubah) belum dikatakan sempurna tanpa menyertakan tawakkal di dalamnya. Tawakkal merupakan kewajiban mutlak urusan agama dan kebutuhan duniawi. Tidak cuma diterapkan dalam pencarian rizki (seperti lazimnya kita pahami), tetapi juga harus diterapkan ketika kita melakukan ibadah kepada Allah; ”Iyyaka na’bud wa iyyaka nasta’in”. Oleh karena tawakkal menjadi pilar utama yang harus tertanam dalam jiwa seseorang, maka tanpa tawakkal takkan ada kebahagiaan dan ketenangan hidup. Seseorang akan cenderung menghadapai berbagai problematika kehidupan secara emosional; mudah frustasi, dan berakhir dengan putus asa. Frustasi dan putus asa menjadi pintu berbagai perbuatan dosa. Bahkan syirk juga lahir dari sini.

Memiliki sikap tawakkal memang tidak mudah. Kerumitannya pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW. Kepada seorang sahabat: ”Dari golonganmu ini hanya 70.000 orang saja yang masuk surga tanpa dihisab” sahabat tersebut penasaran: ”Siapa mereka ya Rasul?” Jawab Rasulullah: ”Mereka adalah segolongan orang yang tidak menjampi, mengadu nasib, mengobati luka dengan besi panas, dan mereka yang senantiasa bertawakkal kepada Allah.”
Setidaknya ada 4 keadaan yang menjadi kendala:
(1) Kurang yakin akan kemahakuasaan Allah.
Dr. Yusuf Qardawi, dalam konteks ini memberi ilustrasi: karena percaya pada kekuasaan pemerintah seorang PNS yang mendapat gaji setiap bulan akan menjadi tenang hatinya. Tapi ketika pemerintah kacau, pasti kepercayaan PNS akan menipis, bahkan lenyap. (Dengan ilustrasi itu, beliau ingin mengatakan bahwa orang yang bertawakkal kepada Allah yang Maha Kuasa dan Maha Kaya, takkan goyah kepercayaannya kepada Allah dalam situasi dan kondisi apapun). Keyakinan yang kuat terhadap kemahakuasaan Allah, akan membuat sandaran apapun selain-Nya menjadi tidak berarti.
Ilustrasi berikut mungkin bisa menguatkan pesan di atas. Ketika seorang istri ulama ditinggal mati suaminya, ia ditanya oleh karibnya: ”Nyai, terus darimana engkau dan anak-anakmu bisa makan sepeninggal suamimu ?” Dia menjawab dengan penuh keyakinan: ”Semenjak aku mengenal suamiku, aku senantiasa melihatnya sebagai orang yang makan, dan tidak melihatnya sebagai pemberi rizki. Orang yang bisa makan pasti akan mati, sedang yang memberi rizki takkan pernah mati.”
Al-Allamah Zaruq (dalam ”Tanwir”) bertutur: ”jika engkau merasa perkasa karena Allah maka keperkasaanmu akan abadi. Dan jika engkau merasa perkasa karena selain Allah, maka keperkasaanmu tidak abadi. Sebab yang engkau andalkan itu tiada perkasa.”
Keyakinan itulah, yang membawa seorang eks narapidana memperoleh sesuatu diluar nalar dan akal sehat. Ketika ada audisi memperebutkan seorang putri ulama besar, ia yang sudah taubat disuruh ulama yang menampungnya agar mengikuti kontes akbar tersebut. Yang ada di dirinya saat itu adalah perasaan kaget, minder, dan tidak PD. (sebabnya adalah selama ia melampaui masa-masa bertaubat oleh sang ulama tidak diikutkan dalam majlis taklim bersama para santri yang lain, kecuali shalat berjamaah. Kesehariannya hanya menggembala ternak milik sang ulama. Singkat cerita, dengan berbekal nasihat sang ’alim dan keyakinan penuh akan pertolongan Allah ia berangkat dan mendaftar sebagai kontestan dan keluarlah sebagai pemenang.
Harmoni semu PNS yang terlalu yakin akan pemerintahnya yang mampu memberikan perlindungan dan ketenangan, jelas akan berakhir dengan kekecewaan berkepanjangan, karena yang diandalkannya bukanlah pemberi rizki. Sementara keyakinan mutlak terhadap Sang Khalik yang akan menjamin kelangsungan hidup istri dan para putra sang ’alim, akan berbuah romantisme tawakkal yang sangat mengesankan.
Kondisi kedua adalah kesombongan. Orang yang takjub pada dirinya sendiri akan merasa dirinya memiliki kekuatan, kemampuan, kedudukan, kehormatan, yang tak dimiliki oleh orang lain, dan karenanya ia sangat yakin akan kehebatan dirinya bisa meraih segala yang diinginkan. Watak seperti inilah yang membuat sulit menggapai tawakkal. Ia akan menyandarkan segala sesuatu pada kapasitas dan kemampuan pribadi seraya mengabaikan pihak lain. Lebih jauh, ia merasa tidak membutuhkan Allah dan tidak mau bersandar kepada-Nya. Dalam sejarah umat terdahulu, sikap sombong selalu berakhir dengan kebinasaan. Dan ternyata jauh-jauh sebelum semuanya terjadi Rasul SAW telah mengingatkan kepada umatnya, bahwa sikap sombong termasuk satu perkara yang membinasakan: ”ada tiga perkara yang merusak: kikir yang ditaati, nafsu yang diikuti, dan letakjuban seseorang kepada dirinya sendiri.”
Takjub pada diri merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan harus segera mendapatkan penanganan yang serius. Caranya; dengan mengenal diri sebaik-baiknya; menyadari kelemahan, keterbatasan ilmu seraya menyadari keagungan Sang Khalik yang telah menciptakan semesta dan seluruh isinya, termasuk dirinya. Imam Ghazali pernah menghadiahkan kalimat ejekan kepada para sombong, tuturnya; ”Bagaimana mungkin orang bisa sombong sementara di dalam tubuhnya sedikitnya ada 1,2 kg kotoran yang sangat bau dan menjijikkan.” Benarlah ungkapan bijak salafus shalih : ”Barang siapa mengenal dirinya, tentu ia akan mengenal Rabbnya.”
Sikap ketiga, condong kepada makhluk, yakni mengandalkan kapasitas dan kemampuan makhluk dalam berbagai macam kebutuhan. Fenomena kehidupan sosial masyarakat akhir-akhir ini; banyak pihak yang memberhalakan diri dan banyak pula yang menyembahnya.
Keempat, mabuk dunia. Hamba dunia tak mungkin bisa memurnikan ’ubudiyah (penghambaan), sebab Allah tidak menjadikan seseorang memiliki dua hati dalam jiwanya. Sementara orang yang tak pernah bisa memurnikan ubudiyah nya tak pernah pula bisa bertawakkal dengan sempurna. ”zuyyina li an-nas hubb asy-syahawat min an-nisa wa al-banin wa al-qanathir al-muqantharat min adz-dzahab wa al-fidhdhah wa al-khil al-musawwamah wa al-an’am wa al-harts, dzalika mata’ al-hayat ad-dunya, wa Allah ’indahu husn al-ma’ab.” QS. Ali Imran (3): 14 (Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).
Ketidak yakinan kepada kemahakuasa dan kekayaan Allah, kesombongan, ketergantungan kepada makhluk, dan mabuk dunia menjadi penghalang utama meraih tawakkal karena penyakit-penyakit tersebut memaksa pemiliknya berhati mendua bahkan melalaikan Allah SWT.


Baca Selengkapnya ...

MENGHADAPI DUNIA YANG BERUBAH

Published by ridokurnianto under on 21.28
Pra Wacana; Waktu Seperti Pedang
“Masa lalu adalah negeri asing, mereka melakukan hal secara berbeda disana. Masa depan juga merupakan negeri yang berbeda”. Demikian Butler dan Hope memulai karya besarnya “Manage Your Mind” (2001). Di dalam pernyataan kedua pakar psikologi itu terkandung pengakuan dan sekaligus sinyal peringatan kepada kita akan kehidupan yang sedang dan akan kita hadapi yang semakin melipat dan menyusut. Masyarakat global telah menjadi kenyataan. Komunikasi supercepat melintas tujuh benua adalah kejadian biasa. Temuan-temuan ilmiah dan teknologi terjadi hampir setiap hari. Bank-bank data di seluruh dunia berkembang pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.


Seorang peramal-trend bernama Faith Popcorn, penulis buku best seller “The Popcorn Report”, mengatakan “seolah-olah waktu itu sendiri telah menjadi lebih cepat dari dahulu. Segera benar-benar segera, tidak ada kesempatan untuk berhenti dan mengambil nafas sebentar”. Hal inilah barangkali yang pernah diisyaratkan Rasulullah SAW., “al-waqt ka al-saif” (waktu itu seperti pedang); sebagaimana layaknya pedang yang tajam, kita mungkin akan terkena libasannya di saat kita lalai atau tidak terampil memfungsikannya.
Kecepatan teknologi mengantarkan fakta-fakta kehidupan ke hadapan kita, lebih cepat dari kemampuan kita mencerapnya. Dan teknologi informasi bukan hanya menjadikan informasi itu dapat kita akses setiap waktu – ia juga menjadikan kita dapat diakses oleh informasi.
Apa yang terpapar di atas merupakan deskripsi sekilas tentang perubahan dunia yang kita hadapi dalam ukuran bukan per-hari lagi, tetapi sudah dalam hitungan per-detik. Konsekuensinya, kita harus masuk dan berada dalam perubahan itu. Sudah barang tentu, keberhasilan kita di masa depan sangat bergantung, terutama pada sejauh mana kita dan anak-anak kita mengembangkan ketrampilan-ketrampilan yang tepat untuk menguasai kekuatan kecepatan, kompleksitas, dan ketidakpastian yang saling berhubungan satu sama lain.
Bagi mahasiswa (satu pilar generasi bangsa ini), sebagai penerus pembangunan bangsa dan negara, tidak boleh tidak, dituntut dan disyaratkan untuk menguasai kemampuan belajar yang lebih cepat. Hal ini karena kompleksitas dunia yang terus meningkat juga menuntut kemampuan yang sesuai untuk menganalisis setiap situasi secara logis dan memecahkan masalah secara kreatif, sehingga memiliki kemampuan antisipatif terhadap berbagai kemungkinan untuk mengantarkan sekaligus menghadapi dunia mereka yang sudah pasti akan jauh lebih kompleks dan rumit.
Menyongsong Dunia yang Berubah
Kata Futurolog Inggris Prof. Charles Handy (dikutip Colin Rose, dkk., 2001:15): “Bagaimanapun perubahan adalah kata lain dari pertumbuhan, sinonim dari kata belajar. Kita semua bisa melakukannya dan menikmatinya, jika kita mau.” Dengan pernyataan itu, barangkali mereka ingin menegaskan bahwa perubahan merupakan perjalanan alami dari kehidupan itu sendiri. Manusia tidak bisa menghindar dari perubahan itu, karena jika ia menghindarinya, maka sebenarnya sama saja ia telah mati dalam hidup. Manusia seperti ini sudah tidak lagi diperhitungkan oleh peradaban, karena keberadaannya sama saja dengan ketiadaannya. Dalam istilah Arab disebut “wujuduh ka ‘adamih”; adanya sama saja dengan tidak adanya.
Lebih lanjut, kehidupan yang tidak pro-aktif terhadap perubahan merupakan sesuatu yang dilarang dalam ajaran agama (Islam); “Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS. Al-Hasyr (59):18) Sikap hidup dinamis juga telah dibekalkan oleh Rasulullah SAW kepada kita agar kita membekali diri dengan sejumlah keilmuan dan ketrampilan untuk menghadapi hidup; “uthlub al-‘ilm walau bil-sin” (“tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina); “uthlub al-‘ilm min al-mahd ila al-lahd” (“tuntutlah ilmu sedari kecil sampai menjelang ajal”).
Strategi Menatap Masa Depan
Ada pertanyaan klasik yang selalu mengiang di telinga kita: “Ingin jadi apa jika kamu besar nanti?”. Pertanyaan ini secara turun-temurun sengaja dipertahankan oleh sebagian besar institusi pendidikan baik formal, informal, maupun non formal untuk mengukur sekaligus mempersiapkan generasi penerusnya. Dua puluh-an tahun silam, barangkali pertanyaan ini masih relevan dengan kondisi jaman saat itu. Namun untuk ukuran saat ini, pertanyaan itu perlu direvisi menjadi; “apa yang pertama-tama bisa kamu lakukan?”
Pada saat dunia berubah sangat cepat seperti ini, maka yang harus menjadi prioritas utama bagi para harapan bangsa adalah bagaimana cara belajar dan cara berpikir yang baik. “Jangan berharap lagi dapat menuai sukses pada esok hari dengan hanya mengandalkan pengetahuan yang anda miliki hari ini” (Colin Rose, 2000:23). Cara belajar dan berpikir konvensional dalam banyak segi sudah tidak relevan lagi untuk menghadapi perubahan itu. Sikap ini memang tidak bisa berdiri sendiri, karena harus pula diikuti oleh sikap-sikap yang lain, terutama sikap pihak dunia sekolah. Sistem sekolah yang naïf, yakni yang masih memfokuskan perhatian pada bagaimana memutuskan apa yang harus dipelajari peserta didik dan bagaimana mereka harus berpikir, harus segera dihentikan. Sistem persekolahan harus berani merubah model pembelajaran menjadi bagaimana harus belajar dan apa yang dipikirkan.
Strategi yang dimajukan Butler dan Hope (2001:27 bisa dipakai acuan untuk mengarahkan sikap kita dalam menghadapi perubahan; Pertama, Memahami Masa Kini. Kita mengkondisikan diri untuk melihat dengan jelas dimana diri kita saat ini. Jangan bersembunyi dari realitas kekinian. “Ciumlah cheese sesering mungkin, sehingga Anda tahu saat ia mulai membusuk”, begitulah nasehat sepasang tikus cerdas; Sniff dan Scurry dalam karya besar Spencer Johnson dalam “Who moved My cheese”(2000:60). Sniff dan Scurry adalah sepasang tikus dengan otak pas-pasan, tetapi mereka mampu memanfaatkan dan mengoptimalkan kemampuan diri yang lain, yakni kepekaan terhadap perubahan, sehingga sukses memperoleh cheese (berarti keju dan disini dimaknai “keberuntungan”) dalam hidupnya. Kemampuannya menatap masa depan menjadikan pasangan tikus cerdas itu berkreasi tiada henti untuk mengumpulkan cheese sebanyak-banyaknya. Setiap detik waktunya dimanfaatkan dengan sangat baik untuk menyusuri labirin (lorong tiada tepi yang penuh jebakan, sementara cheese juga berada di antara jebakan-jebakan labirin yang menyesatkan itu). Yang penting dicatat, pasangan tikus ini mampu mengalahkan saingan mereka, yakni sepasang tikus intelektual yang bernama Hem dan Haw (pasangan tikus yang sok cerdas dan sok actual). Di tengah kepercayaan dan keyakinan yang berlebihan akan kemampuan otak mereka, pasangan tikus yang sombong ini tidak lagi mau melihat jaman berubah, karena menurutnya jamanlah yang akan bisa ditundukkan oleh kemampuannya. Ia baru sadar setelah impiannya sirna; cheese telah sirna, habis dimakan setiap hari oleh mereka berdua beserta ratusan tikus kurcaci teman dan karibnya yang sengaja didatangkan untuk berpesta ria melahap cheese yang ada. Mereka terlena dengan kemampuan dan kecerdasan otaknya hingga lalai berupaya mengumpulkan cheese sebagai bekal utama menatap masa depannya.
Kedua, Jangan Dibebani oleh Masa Lalu. Masa lalu adalah sebuah bank informasi dimana kita dapat belajar. Namun masa lalu bukan sebuah jaringan dimana kita terperangkap didalamnya. Karena itulah Sniff dan Scurry mengikat persoalan penting ini dalam tulisan pengingat yang mereka tempel di dinding labirin dimana mereka melakukan trial and error dalam pencarian cheese; “Semakin Anda melupakan Cheese lama, semakin cepat pula Anda menemukan Cheese baru” (lihat Johnson, 2001:59). Melalui tulisan dinding itu mereka ingin mengingat terus, bahwa masa lalu tidak boleh membebani masa kini, karena sukses dimasa lalu belum tentu bisa diulang dengan cara yang sama untuk masa kini.
Ketiga, Menerima Ketidakpastian Masa Depan. Kita tidak bisa meramal masa depan dengan pasti, karena sebagian besar masa depan berada diluar kendali kita. Dari itu, mau tidak mau kita harus meninggalkan ruang ketidakpastian itu. Disinilah sikap keterbukaan dan percaya diri sangat diperlukan. Kita harus menerima ketidakpastian, dan belajar bagaimana menghadapi masa depan dengan rasa percaya diri.
Mengenal Diri; Melejitkan Potensi
Mengenali diri merupakan pintu masuk untuk mempersiapkan langkah strategis menghadapi masa depan. “Man ‘arofa nafsah faqad ‘arafa rabbah” (“Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya”). Sabda Rasulullah SAW ini menegaskan betapa kekuatan dahsyat dari pengenalan diri seseorang untuk menggapai puncak kehidupan.
Dalam perspektif pembelajaran, mengenal diri berarti mengetahui secara baik modalitas belajarnya (karena gaya belajar seseorang sesuai dengan potensi yang diberikan Tuhan secara fitri). Modalitas belajar, sebagaimana diungkap Bobbi De Porter dan Mike Hernacki (1999:114) menyebut tiga gaya belajar; visual, auditorial, dan kinestetik. Secara sederhana masing-masing gaya belajar itu bisa dimaknai; gaya visual (belajar dengan cara melihat); auditorial (belajar dengan cara mendengar); dan kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh). Sekalipun masing-masing dari kita belajar dengan menggunakan ketiga modalitas ini pada tahapan tertentu, tetapi kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu dari ketiganya. Penemuan gaya belajar akan menjadikan seseorang bisa mengkombinasikan (menggabungkan dua aspek penting untuk meraih sukses belajar; (1) bagaimana ia menyerap informasi secara mudah, dan (2) bagaimana cara kita mengatur dan mengolah informasi tersebut.
Penemuan potensi afektif kita, selanjutnya juga merupakan hal yang tidak kalah penting untuk dilakukan. Kesiapan secara emosional menjadi senjata ampuh untuk menghadapi perubahan. “Realitas masa kini tak cukup hanya dihadapi dengan kecerdasan akal, Anda perlu memunculkan potensi lain selain akal, yang telah Anda miliki”, tulis De Porter dalam pengantar Quantum Learning nya. Termasuk dalam wilayah ini adalah keyakinan akan kesuksesan. Kemampuan secara akali yang telah kita kuasai akan menjadi semakin berdaya, jika kita yakin bahwa pengetahuan dan ketrampilan yang telah kita pegang, akan mengantarkan kita menuju kesuksesan hidup. Sebuah Hadis Qudsi berikut menguatkan dugaan ini, dimana Allah berfirman: “Ana fi dzann ‘abd bih” (“Aku tergantung pada keyakinan hamba-Ku kepada-Ku), artinya jika kita meyakini bahwa kita akan meraih kesuksesan, dengan ukuran-ukuran kemampuan dan ketrampilan yang telah kita miliki, maka Allah SWT akan hadir dalam keyakinan kita itu, untuk mewujudkan cita dan impian kita.
Pasca Wacana; Melebur secara Kompetitif
Tantangan dan hambatan dunia yang terus menerus akan berdatangan di depan kita. Takkan mungkin kita menghindar darinya karena hal itu merupakan hukum alam yang dinamakan perubahan. Justru menjadi sebuah keniscayaan, kita melebur secara kompetitif di dalam perubahan itu. Melebur bukan untuk larut di dalamnya, tetapi menjadikannya sebagai sarana untuk meraih kesuksesan hidup yang gemilang.
Mengakhiri tulisan ini, sebuah motto yang ditulis AJ. Cronin dikutip Johnson untuk mengantarkan karya ilustratifnya “Who Moved My Cheese ?” (2001:xiii), layak kita renungi: “Kehidupan bukanlah jalan yang lurus dan mudah dilalui, dimana kita bisa bepergian bebas tanpa halangan, namun berupa jalan-jalan sempit yang menyesatkan, dimana kita harus mencari jalan, tersesat dan bingung, sekarang dan sekali lagi kita sampai pada jalan yang tak berujung. Namun, jika kita punya keyakinan, pintu pasti akan dibukakan untuk kita, mungkin bukanlah pintu yang selalu kita inginkan, namun pintu yang akhirnya akan terbukti terbaik untuk kita.”

Baca Selengkapnya ...

PERTUMBUHAN AGAMA PADA MANUSIA

Published by ridokurnianto under on 20.53
A. Pendahuluan
Menurut al-Qur’an, setiap manusia telah memiliki potensi dasar untuk beragama. Potensi dasar (disebut fitrah beragama) ini diberikan Allah SWT., sejak manusia berada di dalam rahim ibundanya. Allah SWT., mengungkap hal ini dalam QS. Al-A’raf: 172; “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman); “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”
Potensi beragama ini selanjutnya akan mengalami dinamika perkembangan setelah ia dilahirkan ke dunia. Ia bisa menjadi subur tatkala mendapatkan lingkungan persemaian yang subur, sebaliknya ia akan kering manakala mendapati lingkungan persemaian yang tandus. Lingkungan persemaian itu meliputi; pendidikan, pengalaman, dan latihan.


Melalui pendidikan agama, manusia akan diantarkan untuk memahami dengan baik pentingnya agama dalam hidup dan kehidupannya. Melalui pengalaman agama yang diperolehnya, misalnya melalui; lingkungan keluarga yang taat menjalankan agama, lingkungan sosial (masyarakat) di sekelilingnya yang juga taat menjalankan agama, ia akan memiliki kecenderungan yang sangat kuat untuk hidup dalam aturan agama dan mampu merasakan betapa nikmatnya hidup beragama. Sedangkan melalui latihan, manusia akan terbiasa menjalankan ibadah, terbiasa untuk taat kepada aturan-aturan agama.
Kualitas keberagamaan manusia selanjutnya akan banyak ditentukan oleh kualitas persemaian kehidupan agama yang diperolehnya, terutama pada saat ia berusia anak-anak. Hal ini disebabkan oleh kondisi kejiwaan anak yang memang masih dalam bentuk yang sarat menerima rangsangan dari luar. Sebagaimana ditulis Clark dalam “The Psycology of Religion” (1969), anak adalah manusia dalam bentuk, akan tetapi dalam arti lebih dekat kepada hewan. Secara khusus tulisan ini akan memaparkan secara analitis perkembangan agama pada anak.
B. Anak Mengenal Tuhan
Anak mengenal Tuhan pada mulanya dengan bahasa. Asma Allah yang sering di dengarnya (terutama dari orang tuanya) akan menimbulkan kesan dalam jiwa anak, kemudian membentuk guratan-guratan yang sulit dihapus dari jiwanya. Pada awalnya kesan-kesan agama lewat bahasa itu, diterima anak dengan acuh tak acuh, tetapi karena seringnya pesan itu didengar anak serta dibarengi dengan sikap orang-orang di sekelilingnya (terutama dari orang tuanya) yang menunjukkan rasa kagum dan takut kepada Tuhan, maka ia akan merasa gelisah dan ragu terhadap sesuatu yang gaib yang tidak bisa dilihatnya itu.
Mulailah anak mengulang kata-kata yang diucapkan oleh orang-orang dewasa sekelilingnya. Dari sinilah lambat laun masuklah pemikiran tentang Tuhan dalam pembinaan kepribadiannya dan menjadi obyek pengalaman agamis.
Pemikiran anak tentang Tuhan, bukanlah sekedar arti yang disimpulkannya secara sadar dari kata Allah, tetapi sebaliknya mempunyai dasar yang jauh ke alam tidak sadar, atau dengan kata lain, ia mempunyai permulaan kejiwaan yang mendahuluinya melalui pertumbuhan fikiran anak. Mulai umur 3 dan 4 tahun anak sering mengemukakan pertanyaan yang ada hubungannya dengan agama, misalnya “siapa Tuhan?”, “dimanakah surga itu?”, “bagaimana cara pergi kesana?”. Disinilah sebenarnya jawaban-jawaban yang bersifat fantasi dalam pengertian positif harus diberikan kepadanya, agar perasaan beragama tumbuh semakin kuat.
C. Anak Memperoleh Pengalaman Agama
Pengalaman agama anak diawali dari interaksinya dengan orangtuanya. Kedua orangtuanya merupakan pusat kehidupan ruhani anak sekaligus sebagai penyebab berkenalannya dengan alam luar. Karena itu, reaksi emosi anak dan pemikirannya di kemudian hari sangat bergantung pada pola hubungan yang terjadi dengan kedua orang tuanya itu, termasuk pengalaman beragama yang diperolehnya.
Pada umur kira-kira 3 tahun, bersamaan dengan kekagumannya terhadap ibu-bapaknya (sebagai orang suci; pribadi ideal yang sangat sempurna, dan seolah-olah tuhan), dalam jiwanya juga mulai muncul pokok-pokok rasa agama. Informasi tentang Tuhan yang diterimanya dari berbagai sumber; pendidikan, lingkungan kehidupannya, dan seterusnya, membuat anak berangsur-angsur merubah kepercayaannya dari orang tua yang dianggapnya tuhan menjadi Allah yang sebenarnya. Ketika pertumbuhan pengertian anak terhadap kenyataan luar semakin luas, maka akan menyadarkannya bahwa kemampuan orang tuanya terbatas, apalagi jika orang tuanya mengatakan kepada anak ada sesuatu yang Maha Berkuasa di semesta ini. Anak menjadi ragu akan kesempurnaan orang tuanya dan kemudian mengantarkan jiwanya menjadi goyah. Ini terjadi saat anak berusia sekitar 4 tahun.
Perubahan kepercayaan (Allah menggantikan fungsi bapak) adalah suatu gambaran lahiriyah dari perubahan yang lebih umum, yang mencakup kemajuan emosi dan fikiran sekaligus. Karena itu, untuk memudahkan anak menerima pemikiran tentang Tuhan, perlu disampaikan sifat-sifat Tuhan; Pengasih, Penyayang, dan seterusnya, dimana akan membuat anak merasa aman. Hendaklah ia dijauhkan dari sifat-sifat-Nya yang terkesan “jahat”; Keras, Kejam, Penyiksa, dan seterusnya, agar prasangka buruk tentang Tuhan bisa dihindari.
Disini, lingkungan sangat besar pengaruhnya atas dapatnya si anak menerima pemikiran tentang Tuhan. Lebih jauh, sikap anak terhadap agama mengandung kekaguman dan penghargaan. Bagi anak, upacara-upacara agama dan dekorasi (keindahan) rumah ibadah, lebih menarik perhatian. Pengalaman agama akan banyak dimunculkan dari persentuhannya dengan segala sesuatu yang menarik jiwanya. Kepercayaan anak bersifat egosentris (semua yang dilakukannya dalam beragama dimaksudkan untuk mencapai keinginan pribadinya), misalnya; ia mau beribadat dan berbuat baik karena akan mendapatkan upah. Ia menggambarkan Tuhan sebagai seorang yang akan selalu menolongnya, sebagaimana pengalamannya dengan orang tuanya (yang selama ini juga memberikan perlindungan dan pertolongan).
Perlu diperhatikan, bahwa anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil. Karena itu, agama yang cocok untuk orang dewasa tidak akan cocok bagi anak. Agama harus disajikan dengan cara lebih konkrit, dengan bahasa yang dipahaminya.
D. Latihan Agama pada Anak
Latihan-latihan keagamaan hendaklah dilakukan sedemikian rupa, sehingga menumbuhkan nilai-nilai dan rasa aman pada anak, dimana hal ini akan sangat diperlukan dalam mengawal pertumbuhan kepribadiannya. Apabila latihan-latihan keagamaan dilalaikan, atau diberikan dengan cara yang kaku, salah, atau tidak cocok sesuai ruang dan waktu anak, bisa jadi saat dewasa nanti ia akan cenderung kurang peduli atau bahkan antipati terhadap agama.
Pada usia 7 tahun pertama, perasaan anak terhadap Tuhan cenderung negatif; takut, menentang, dan ragu. Anak menganggap bahwa tidak bisa dilihatnya Tuhan olehnya, mengandung maksud jahat. Karena itu sikap percayanya pada Tuhan bukan didorong rasa ingin tahunya, tetapi lebih didorong oleh perasaan takut dan karena itu ingin merasa aman.
Pada usia 7 tahun kedua, perasaan anak terhadap Tuhan berganti denga sikap yang lebih positif (cinta dan hormat). Rasa percayanya pada Tuhan tidak lagi didorong rasa takut, tapi karena keinginannya untuk melihat Tuhan. Ini terjadi karena pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan dan hal-hal metafisik lain sering tidak terjawab oleh orang dewasa di sekelilingnya. Karena itu, anak mencari sendiri jawaban yang diciptakannya sendiri, dimana sebagian dari jawaban itu diperoleh dari pendidikan agama yang diterimanya.
Hingga usia 8 tahun, hubungan anak dengan Tuhannya bersifat individual dan emosional, yang dibayangkan dengan caranya sendiri. Pendidikan dan pengalaman yang diterimanya dari dunia luar, belum benar-benar menjadi bagian dari pembinaan pikirannya. Itulah sebabnya, pemikiran semua anak tentang Tuhan, kendatipun berbeda lingkungannya, tetap mempunyai garis-garis pokok yang sama. Anak akan mulai menerima pelajaran atau pendidikan agama dengan kepercayaannya muali usia 13-21 tahun. Kendatipun demikian, ada masanya anak tetap mengungkapkan keragua-raguannya, terutama ketika doa mereka tidak “terkabul”.
Keraguan beragama lebih sering terjadi pada anak yang sangat cerdas, dibanding dengan anak yang kurang kecerdasannya. Ia menyatakan keraguannya dengan cara obyektif dan emosional. Apabila gelombang keraguannya itu tenang kembali, maka seolah keraguan itu hilang begitu saja. Pada umur semakin dewasa, anak mulai meragukan ajaran agama; mempertanyaan kebenaran ajaran agama; dan bahkan mengecam ajaran agama yang diterimanya sewaktu kecil. Hal ini terjadi, kemungkinan besar karena caranya mendapatkan pelajaran agama yang kurang menyenangkan atau kurang teratur. Disamping juga disebabkan oleh bertambahnya pengetahuan umum yang di dapat di sekolah.
E. Simpulan
Perasaan beragama pada anak, sebenarnya mengalir secara alami (fitrah; potensi dasar atau bawaan). Ia akan berkembang lebih baik atau bahkan mati, bergantung pada lingkungan kehidupan yang membesarkannya. Pengenalan akan Tuhan yang mendapatkan penguatan melalui pengalaman dan latihan beragama secara teratur sesuai dengan ruang dan waktu anak, akan berdampak pada rasa beragama anak yang semakin kuat, sehingga akan mewarnai kehidupan keseharian mereka di kemudian hari.


Baca Selengkapnya ...

BERTUTUR SEJARAH ISLAM

Published by ridokurnianto under on 20.33
Kelahiran Islam
Islam dilahirkan di jazirah Arab; daerah yang sangat tandus di dunia. Sebagian daerahnya terdiri dari padang pasir, suatu dataran yang sangat luas, sepi, dan tanpa manusia. Di daerah ini Muhammad bin Abdullah dilahirkan pada tahun 570 M. Beliau sangat gelisah dengan dengan situasi kaumnya yang jahil, loba, kejam, berpecah belah, dan jauh dari agama.


Di usianya yang ke 40 tahun 610 M, beliau menerima wahyu Allah dan sekaligus menandai kenabiannya. Saat beliau menyebarkan agama yang dibawanya ke penduduk jazirah Arab, mulailah beliau berhadapan dengan berbagai ancaman, kekerasan, dan penghinaan (disebabkan para manusia jahil tersebut tidak mau agama nenek moyangnya tergantikan oleh Islam). Disebabkan kondisi yang tidak mendukung dakwah ini, tepat pada bulan September 622 M, setelah beliau berpikir tak ada gunanya lagi bersabar di kota Makkah atas kekerasan hati kaumnya, dan kemudian dikuatkan dengan perintah Allah untuk berhiijrah, maka berhijrahlah Rasulullah beserta para sahabat ke kota Yatsrib (sekitar 366 km sebelah utara Makkah) yang saat itu juga diberi nama Madinat ar-Rasul, disingkat Madinah. Hijrah ini merupakan batas pemisah dalam kehidupan Rasulullah dan dalam sejarah agama baru. Hijrah juga merupakan awal persemaian Islam sebagai Agama dan Negara sekaligus. Di kemudian hari, tepatnya di masa pemerintaha Umar bin Khaththab RA, hijrah dijadikan tahun pertama kalender Islam (hijriyah).
Perjalanan dakwah Rasulullah SAW., tak ubahnya yang dialami Nabi/Rasul sebelumnya, yakni sarat dengan tantangan dan hambatan dari kaumnya yang ingkar. Namun perbedaannya dengan apa yang dilakukan Nabi?Rasul sebelumnya adalah pada segi capaian hasil dakwahnya. Dakwh Rasulullah memetik hasil besar tiada tara. Ayat-ayat Al-Qur’an yang diwahyukan Allah dalam bahasa Arab dihafalkan oleh para sahabatnya dengan hafalan yang sangat kuat atau dicatat langsung oleh penulis-penulis wahyu. Kemudian ayat-ayat ini dikumpulkan menjadi satu mushaf. Pengumpulan ini dilakukan dua kali; Pertama, dalam masa pemerintahan khalifah pertama; Abu Bakar Ash-Shiddiq tahun 632 M, dibawah pimpinan Zaid bin Tsabit (salah seorang penulis wahyu dan sahabat besar Nabi); Kedua, dalam masa pemerintahan Utsman bin ‘Affan tahun 650 M, juga dibawah pimpinan Zaid bin Tsabit. Produk penyusunan (kodifikasi) Utsman bin Affan inilah yang kemudian dipakai Muslim sedunia (karena memang motif penyusunan pada waktu itu untuk menyeragamkan bacaan al-Qur’an setelah terjadi perselisihan yang mengarah perpecahan akibat banyaknya model bacaan al-Qur’an yang ada).
Rukun Islam
Nama agama baru yang dibawa Rasulullah adalah Islam yang berarti “penyerahan diri kepada Allah”, sedang nama pengikutnya ; Muslim. Islam adalah agama yang simple dan bersih. Rukun-rukunnya sebagai berikut; (1) Syahadat (pernyataan masuk Islam dengan perkataan: “Asyhadu anal ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”; (2) Mendirikan shalat 5 kali sehari semalam; (3) Mengeluarkan zakat; (4) Puasa pada bulan Ramadhan; dan (5) Naik haji ke Makkah bagi yang mampu.
Keistimewaan Bahasa Arab
Pada tahap pertama Rasulullah SAW tidak mengetahui sesuatu bahasa, kecuali bahasanya sendiri. Maka secara Nature (alami), beliau menggantungkan kepentingan besar pada bahasa itu. Bahasa Arab adalah bahasa yang dipakai dalam penyampaian wahyu pada Nabi Muhammad (hal ini sungguh menakjubkan). Dan karena itu, bahasa Arab menjadi bahas Allah, bahasa wahyu, dan bahasa penduduk surga. Rasulullah karena itu juga mewajibkan membaca al-Qur’an dengan bahasa Arab. Hal ini di kemudian hari menjadikan bahasa Arab ini menjadi satu-atunya bahasa popular di dunia dan salah satu alat fundamental kebudayaan pada jaman pertengahan. Hingga hari inipun bahasa Arab tetap tersebar di penjuru dunia
Sementara itu, bahasa Arab pun juga sangat terbuka untuk menerima bahasa asing (selain bahsa Arab). As-suyuthi (1445-1505) M menggolongkan bahasa asing yang masuk ke dalam al-Qur’an sebanyak sebelas bahasa; Habsi, Persi, Yunani, India, Suryani, Ibrani, Nibti, Qibti, Turki, Zanziah, dan Barbariyah.
Bahasa Arab sejak abad 7 M, dengan keadaannya yang terpencil dari hubungan dunia luar, tetapi saat itu pula telah memiliki banyak kata asing yang masuk ke dalam unsur bahasanya, sungguh merupakan suatu hal yang menarik. Faktor utama penyebab ini sebenarnya justru adanya tradisi dagang yang dilakukan oleh penduduk Arab. Saat itu orang Arab mempunyai hubungan dagang dengan orang-orang Suryani, Persia, dan Habsi. Diantara mereka bahkan ada yang punya perhatian khusus pada agama semisal Muhammad SAW (agama Yahudi dan Nasrani), dimana sering berbincang-bincang dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Bahasa Arab sangat kaya dengan perbendaharaan kata-katanya dan memungkinkan untuk berkembang tanpa habis-habisnya. Di dalamnya terdapat pecahan-pecahan (perubahan-perubahan) kata yang terjalin dengan indah, memudahkan pengadaan kata-kata baru dari asal kata sesuai kebutuhan manusia pemakainya, dengan system tertentu. Contohnya: jalinan dari huruf Sin, Lam, Mim membentuk kata asal Sa Li Ma (selamat), kemudian menjadi kata Sallama (memberi salam), Sa La Ma (berdamai), Aslama (menyerah); Islam (berserah diri kepada Allah), Silm (kedamaian), Salaam (kesejahteraan), Salim (sehat), Tasallama (menerima), Taslim (persetujuan), Istilam (menyentuh hajar aswad dengan bibir atau tangan, ciuman), Sullam (tangga), Muslim (orang yang berserah diri kepada Allah), dan masih banyak lagi. Pecahan-pecahan kata ini berjalan di atas system tertentu, sehingga apabila dijumpai satu kata baru, pembaca dapat memahaminya dari konteks yang mengiringinya (qarinah). Dan karena bahasa ini dipakai sebelum abad ke 7 M (sebelum datangnya Islam), maka seakan-akan ia sudah ditakdirkan sebagai alat penyampai agama, penyebar ilmu pengetahuan di dunia.
Bahasa al-Qur’an
Bahasa Arab dalam pengertian sebagai bahasa Allah, merupakan suatu batasan yang sempurna. Bahwa Rasulullah dengan keadaannya yang buta huruf (ummi) dan dapat menguasai bahasa ini dengan sempurna, adalah merupakan keistimewaan yang luar biasa. Namun juga perlu dicatat, bahwa Rasulullah menguasai bahasa ini, karena anugerah Allah SWT. Lantaran anugerah-Nya pula membuat bahasa Arab elastis hingga sanggup mencatat wahyu Ilahi dengan sempurna, disamping juga sanggup mengekspresikan dengan ungkapan-ungkapan yang indah dan kokoh.
Al-Qur’an, dengan demikian, telah membantu meningkatkan bahasa Arab ke taraf ideal bagi pengungkapan segala maksud. Bukan berarti dengan keistimewaan ini, menghalangi tumbuhnya beraneka ragam dialek, untuk percakapan sehari-hari, lebih-lebih ketika bahasa Arab menjadi alat komunikasi berbagai bangsa. Al-Qur’an telah menjadikan bahasa Arab sebagai alat pengungkap kebutuhan tertinggi kehidupan antar bangsa.
Haji; Alat Pemersatu dan Perjalanan Ilmiah
Kewajiban disampaikan kepada setiap Muslim yang mampu (harta, dan perjalanan) minimal sekali dalam hidupnya. Bagi mereka yang hidup di jazirah Arab, kewajiban ini tidaklah sulit; perjalanan tidak terlalu jauh, disamping mereka sudah sangat akrab dengan iklim yang ada. Tapi tidak demikian bagi mereka yang berasal dari wilayah yang jauh, haji menjadi sesuatu yang cukup rumit dan melelahkan, karena rintangan yang tidak sedikit. Namun demikian, sebanyak dan serumit rintangan yang ada, haji dengan sangat ringan dilakukan oleh kaum beriman, sungguh menakjubkan.
Haji adalah wadah pemersatu umat. Di dalam pelaksanaan haji (yang mirip konggres internasional) kaum Muslim berkumpul membicarakan masalah yang sama; tidak ada beda antara mereka, sekalipun dibedakan dari suku bangsa, warna kulit. Semuanya hanya satu pedoman ummat Islam; hamba Allah yang memiliki harkat sama, kecuali taqwa (ini yang membedakan mereka). Karena itu, melalui wadah haji ini ukhuwah (persatuan) menjadi sangat mudah berlangsung.
Di dalamnya juga terjadi kegiatan ilmu pengetahuan. Di jaman pertengahan, perjalanan haji menjadi perjalanan yang sangat tepat buat menuntut ilmu dan tukar-menukar ulama, seperti yang kita kenal sekarang.
Puasa; Penguji Iman dan Alat pengaturan
Puasa diwajibkan sebulan penuh sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, dan merupakan ujian berat bagi setiap Muslim, khususnya orang-orang Badwi. Ini berarti, puasa menjadi suatu alat yang tepat dan praktis untuk mengukur kedalaman iman di dada seorang Muslim, disamping sebagai penguat keimanan mereka. Musim panas, di jazirah Arab, sudah barang tentu menjadi tantangan terberat bagi para shaim, lebih-lebih bagi mereka yang harus bekerja keras menggunakan fisik untuk mencukupi kebutuhan hidup keseharian mereka. Ketahanan mereka untuk tetap berpuasa, menjadi alat yang sangat efektif menguji keimanan sekaligus mengukur kedalaman keimanan yang mereka miliki itu.


Baca Selengkapnya ...

MUSLIM MENCIPTA ISLAM

Published by ridokurnianto under on 20.25
Pendahuluan
Hakekat seorang Muslim telah diterangkan dalam banyak hadits, tetapi kita juga berhak menerangkannya kembali, dengan cara yang tidak persis sama. Siapakah dan apakah Muslim itu ? Teks hadits (dalam Riwayat Muslim, misalnya), memberikan jawab; “ialah yang percaya Tuhan, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dn qada’-qadar”; “Ia juga seorang yang menyatakan syahadat, menunaikan shalat, zakat, puasa, haji”. Jawaban pertama berhubungan dengan keimanan dan dikenal dengan rukun iman, sementara jawaban kedua berkait dengan pelaksanaan Islam yang terangkum di dalam rukun Islam.


Islam diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya untuk diyakini dan dijalankan oleh pemeluknya. Pemeluk Islam kemudian disebut Muslim. Islam tanpa Muslim, akan sekedar dokumen tanpa ada yang membaca; ia ada di kamar gelap tak tersentuh dan tak diketahui. Adanya sama dengan tidak adanya (wujuduhu ka’adamihi). Sebagaimana diterangkan dalam teks di atas, eksistensi Islam berada di tangan Muslim; ia yang mepercayai dan sekaligus menjalankan ajarannya. Jadi peran Muslim dalam Islam menjadi sangat penting. Teks Islam akan bermakna dan kemudian akan membentuk amal dalam segala bidang, dimana darinya akan tercipta kehidupan yang islami, manakala Muslim aktif menciptakan dan memaknai Islam.
Menciptakan Islam
Kewajiban seorang Muslim ternyata tidak sekadar mengucapkan kalimat syahadat/tauhid; “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kelanjutan tradisi, budaya, dan kelanggengan ajaran Islam. Para pemeluk Islam (disebut Muslim) itu secara terus-menerus menghasilkan interpretasi Islam dalam kehidupan empiris dan praktis; sekaligus Muslim menciptakan teks-teks (nash-nash) keagamaan. Mereka secara aktif “menciptakan” Islam itu sendiri dengan tiada henti-hentinya. Muslim adalah penghasil dan pencipta “Islam” dan “Islam” dihasilkan dan diciptakan oleh Muslim tiada henti-hentinya.
Bagaimana Islam dimaknai, dihidupkan, dimiliki, dan dihasilkan, sangat kompleks karena model Muslim itu sendiri memaknai Islam juga beragam. Muslim, pada awalnya hanya menempati jazirah Arab dan sekitarnya, dimana Islam itu sendiri terlahir dan pertama kali dijalankan. Beberapa waktu kemudian, Islam masuk ke kawasan benua Afrika sekitar sungai Nil (Mesir dan sekitarnya), Eropa (Spanyol, Grenada), Asia Tengah (China dan beberapa negara bekas soviet), Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, minoritas Filipina, Brunei, dan lain-lain). Sudah sekitar seribu lima ratus tahun, Muslim telah menghasilkan dan memaknai Islam.
Menjadi Muslim berarti menyerahkan diri setelah mempercayai, karena Islam tidak mungkin dilanjutkan tanpa iman. Percaya adalah sesuatu yang gaib, tidak terjangkau oleh pancaindera (mata, telinga, kulit, hidung, dan mulut). Percaya pada Tuhan bukan berarti bahwa seseorang sudah ngobrol dengan Tuhan di warung kopi, dan ia diajak berjabat tangan dengan Dia; tetapi percaya adalah kepercayaan bahwa Dia akan ia mintai pertolongan saat dalam kesulitan. Ketika musibah, kondisi penting, cobaan datang, dan seterusnya menerpa seorang Muslim, maka ia takkan melakukan curhat kepada siapapun, kecuali kepada Allah SWT. Percaya pada Tuhan tidak bisa dilogikakan, sehingga menjadi argumen yang mapan, sekalipun kepercayaan itu masih bisa didialogkan.
Percaya dan menjadi Muslim juga berkait dengan bagaimana seseorang menjadi baik, dan semakin hari semakin baik. Bersamaan dengan terciptanya perbuatan baik itu, pelaku perbuatan baik merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya, sehingga seolah-olah ia melihat Tuhan atau Tuhan melihatnya. Inilah yang kemudian dikenal dalam Islam sebagai 3 pilar ajaran; Iman, Islam, Ihsan.
Tiga kata; Iman, Islam, dan Ihsan itu netral, personal, dan lentur. Aturan yang dibuat, teks yang ditulis, dan diskusi yang membahas ketiganya, bukan berarti menjadi tanda sudah ditemukannya makna ketiganya dan Muslim tinggal melaksanakannya. Tapi semua Muslim masih berjalan memaknai, dan mencari makna, karena banyaknya cara Muslim melaksanakan ketiga kata tersebut. Muslim buruh tani di desa terpencil akan berbeda memaknai ketiga kata tersebut dibanding sesama buruh tani yang berada di pinggiran kota; Muslim yang berprofesi pedagang kaki lima akan berbeda cara memaknai ketiganya dengan Muslim berprofesi pedagang besar; apalagi jika cara mereka memaknai itu dibandingkan dengan Muslim dengan profesi yang berbeda; petani dengan pedagang, pedagang dengan tentara, anggota dewan dengan guru, dan seterusnya.
Aktifis Muhammadiyah, kiai NU, ustadz pesantren, perawat rumah sakit, takmir masjid, organisasi kemahasiswaan (PMII, HMI, IMM, dan sejenisnya), mencoba menerjemahkan Islam dalam konteks mereka masing-masing. Demikian pula; tukang bakso, tukang sate, pecel lele, dan pedagang kaki lima yang lain, aktif atau tidak aktif di Masjid atau Mushalla, juga mempunyai hak tersendiri menterjemahkan Islam menurut konteks mereka sendiri.
Terjemahan, pemaknaan, dan praktik Islam, dengan demikian, menjadi bermacam-macam. Semuanya pada akhirnya akan membentuk suatu tradisi; ada yang memakai kopyah, surban, jas, sarung, jean, jilbab, rambut terurai, dan blankon ala Yogyakarta.
Terlepas dari bagaimana jarak antara yang ada di teks dan kenyataan praktik Muslim di kehidupan nyata, Islam telah diartikan dan didefinisikan sendiri oleh para pemeluknya.
Penutup
Islam tanpa Muslim, tak bermakna, tak terjemahkan, tak terpraktikkan – “wujudh ka ‘adamih”. Islam diciptakan oleh Muslim secara terus-menerus dengan membentuk teks dan tradisi. Muslim menterjemahkan, mengartikan, memaknai, dan mengamalkan Islam; Muslim menciptakan, menghidupkan, menghasilkan, dan mengadakan Islam, dengan berbagai cara. Muslim yang lain pun, juga “menciptakan” Islamnya sendiri-sendiri.


Baca Selengkapnya ...

METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF; SEBUAH PENGANTAR

Published by ridokurnianto under on 20.04
I. Pendahuluan
Ada sementara isu yang menyatakan bahwa seseorang memilih metode kualitatif dalam rencana penelitiannya karena alasan klise, yakni karena ia tidak menguasai statistik. Ini adalah sebuah pandangan yang menempatkan metode kualitatif lebih ringan atau mudah dibanding dengan metode kuantitatif. Andaikan alasan ini benar-benar dipilih oleh seseorang dalam merancang penelitiannya, bisa jadi ia akan terjebak oleh pilihannya itu, karena ternyata penelitian kualitatif tidaklah lebih ringan dibanding dengan penelitian kuantitatif, sekalipun juga tidak bisa dikatakan bahwa penelitian kualitatif lebih berat dibanding dengan penelitian kuantitatif, karena memang penelitian kualitatif ini, sebagaimana penelitian kuantitatif, memiliki kekurangan-kekurangan disamping kelebihan-kelebihan yang ada.


Secara khusus, tulisan ini hendak mendeskripsikan secara singkat tentang hal-hal dasar terkait dengan metodologi penelitian kualitatif. Sekalipun tulisan ini diupayakan mencakup poin-poin penting penelitian kualitatif, tetapi tak lebih hanya bersifat pengenalan awal. Karena itu, sudah barang tentu penjelasan lebih lengkap tidak tercover di dalam tulisan ini.
II. Definisi
Memahami penelitian kualitatif itu penting sebelum peneliti melangkah melakukan penelitian. Beberapa definisi berikut bisa dipakai sebagai dasar memahami penelitian ini.
Menurut Bogdan dan Taylor (1975) metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif; ucapan atau tulisan dan perilaku yang dapat diamati dari orang-orang (subjek) itu sendiri. Pendapat ini langsung menunjukkan latar dan individu-individu dalam latar itu secara keseluruhan, subjek penelitian, secara menyeluruh.
Strauss (1990: 17) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu jenis penelitian yang menghasilkan temuan-temuan yang tidak diperoleh oleh alat-alat prosedur statistik atau alat-alat kuantifikasi lainnya. Pendapat ini langsung menekankan penggunaan non-statistik (matematika), dimana sekaligus menjadi salah satu unsur yang membedakannya dengan penelitian kuantitatif.
Sedangkan Patton (1980: 41) mendefinisikan metode kualitatif adalah untuk memahami fenomena yang sedang terjadi secara natural (alamiah) dalam keadaan-keadaan yang terjadi secara alamiah. Konsep yang dimajukan Patton ini lebih menekankan pentingnya sifat data yang diperoleh oleh penelitian kualitatif, yakni data alamiah.
Tiga definisi tersebut, kiranya cukup untuk mengungkap definisi penelitian kualitatif, sekalipun masih sangat memungkinkan adanya pendapat yang lebih lengkap dan mewakili, dan tidak tertulis dalam tulisan ini. Penelitian kualitatif, dengan demikian, adalah penelitian yang latar penelitiannya berupa konteks alamiah, dimana jenis datanya berupa fenomena-fenomena yang terjadi secara alami (bersifat non-statistik) yang harus diperlakukan secara menyeluruh dan saling terkait antara satu dan lainnya.
III. Karakteristik Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif memiliki sejumlah ciri yang membedakannya dengan penelitian jenis lainnya. Banyak para ahli penelitian kualitatif memaparkan karakteristik penelitian kualitatif, seperti Bogdan, Biklen, Lincoln, Bryman, Maykut, Morehouse, dan lainnya. Berikut ini adalah ciri atau karakteristik penelitian kualitatif yang telah penulis upayakan untuk memadukan sekian banyak versi yang diungkap oleh para pakar tersebut.
Pertama, latar alamiah (natural setting). Penelitian kualitatif melakukan penelitian pada latar alamiah (konteks subjek yang diteliti). Latar alami adalah tempat dimana peneliti paling mungkin untuk menemukan atau mengungkap fenomena yang ingin diketahui (Maykut, 1994: 45). Dalam penelitian kualitatif, peneliti melaksanakan penelitian pada latar atau konteks alami pada keseluruhan yang menggambarkan, bahwa keseluruhan tidak dapat dipahami secara terpisah dari konteksnya. Karena itu, peneliti kualitatif pergi ke lingkungan tertentu yang ditelitinya untuk memahami latar sesuai dengan konteksnya. Melepaskan tindakan, ucapan, atau gerak isyarat dari konteksnya berarti kehilangan makna penting (Bogdan dan Biklen, 1998: 4). Misal, untuk memahami lebih jauh pengalaman mahasiswa sekolah tinggi tentang kehidupan akademis, peneliti masuk ke kelas-kelas, perpustakaan, asrama, persatuan mahasiswa, dan seterusnya untuk mengobservasi dan wawancara. Dengan masuk ke dalam latar seperti itu peneliti akan mengetahui langsung bagaimana perilaku, interaksi, serta pandangan-pandangan tentang kehidupan akademis.
Kedua, Manusia sebagai Alat (human instrument). Dalam penelitian kualitatif, peneliti atau tim peneliti merupakan alat pengumpul data utama. Oleh karena itu, pada waktu mengumpulkan data di lapangan, peneliti berperan serta dalam kegiatan subjek yang diteliti.
Ketiga, Metode-metode kualitatif (qualitative methods). Data penelitian kualitatif seringkali berupa kata-kata dan tindakan-tindakan orang, dan karena itu memerlukan metode yang memungkinkan peneliti untuk menangkap bahasa dan perilaku. Karena itu, penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif, karena beberapa pertimbangan berikut; (1) lebih dapat diadaptasikan berkenaan dengan realita ganda, karena mengekspos secara langsung hakikat dari transaksi peneliti-responden; (2) metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan dengan pengaruh ganda dan pola-pola nilai yang dihadapi.
Keempat, Analisis data secara induktif (inductive analysis). Analisis data secara induktif ini digunakan karena beberapa alasan; (1) lebih dapat menemukan kenyataan-kenyataan ganda dalam data; (2) lebih dapat membuat hubungan peneliti-responden menjadi eksplisit; lebih dapat dikenal, dan lebih dapat dipertanggungjawabkan; (3) lebih dapat menguraikan latar secara penuh; (4) lebih dapat menemukan pengaruh bersama yang mempertajam hubungan-hubungan; (5) dapat memperhitungkan nilai-nilai secara eksplisit sebagai bagian dari struktur analitik.
Kelima, Teori dari dasar (gronded theory). Grounded theory adalah teori yang diperoleh secara induktif dari kajian terhadap fenomena-fenomena yang terjadi; suatu teori yang ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan untuk sementara waktu melalui pengumpulan data secara sistematis dan analisis data mengenai fenomena tersebut. Oleh karena itu, pengumpulan data, analisis, dan teori mempunyai hubungan timbal balik satu sama lain. Seseorang tidak boleh memulai dengan teori, kemudian membuktikannya, tetapi ia harus memulai dengan kawasan kajian dan apa yang relevan pada kawasan tersebut.
Keenam, Sampling purposif (purposive sampling). Peneliti kualitatif lebih cenderung menjauhi sampling acak atau representatif dan lebih memilih sampling purposif, karena alasan berikut; (1) ia dapat meningkatkan ruang lingkup atau peringkat dari data yang diekspos (sampling random atau representatif cenderung lebih menekan kasus-kasus yang menyimpang); (2) dapat memaksimalkan peneliti untuk merencanakan teori mendasar yang memperhitungkan kondisi lokal, pembentukan lokal secara ganda, serta nilai-nilai lokal (untuk memungkinkan dapat ditransfer) (Lincoln dan Guba, 1985: 40)
Ketujuh, Rancangan darurat (emergent design). Peneliti kualitatif membiarkan rancangan penelitian muncul (mengalir, merembes, membentang) dan bukan membentuknya terlebih dahulu (a priori). Hal ini karena; (1) agar banyak realita ganda yang muncul saat penggalian data bisa tercover secara memadai; (2) apa yang akan muncul dari interaksi peneliti-responden tidak bisa diprediksi sebelumnya; (3) peneliti tidak dapat cukup mengetahui pola-pola pembentukan timbal balik yang cenderung eksis; (4) berbagai sistem nilai yang terkait dengan masalah penelitian tidak bisa diprediksi sebelumnya.
Kedelapan, Hasil-hasil yang dirundingkan (negotiated outsomes). Setelah peneliti merumuskan hasil penelitian, selanjutnya hasil penelitian tersebut dirundingkan dengan subjek penelitian, untuk memastikan berbagai data yang dating dari responden dan telah dianalisis itu sesuai dengan kenyataan subjek yang sebenarnya.
Kesembilan, Interpretasi idiografis (idiographic interpretation). Peneliti kualiatif cenderung menginterpretasi data (termasuk menarik kesimpulan) secara ideografis (dalam hal kekhususan dari kasus) bukan secara nomoteris (dalam hal generalisasi seperti hukum), karena interpretasi yang berbeda cenderung bermakna bagi realita yang berbeda.
Kesepuluh, Model laporan studi kasus (case study reporting mode). Hasil penelitian kualitatif cenderung dipresentasikan dalam narasi yang kaya, dan sering mengarah pada studi kasus. Dengan laporan yang panjang, peneliti mempunyai kesempatan untuk memberikan kutipan yang banyak dari data aktual yang memungkinkan partisipan untuk berbicara pada diri mereka sendiri; dalam kata dan tindakan, sehingga lebih bisa memberikan kepada pembaca memahami hasil penelitian secara memadai.
IV. Pemilihan Topik dalam Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif dirancang untuk menemukan apa yang dapat dipelajari tentang beberapa fenomena yang diminati, khususnya fenomena sosial, dimana orang-orang merupakan para partisipan. Mengingat masalah yang ditemukan relatif banyak, maka perlu adanya usaha untuk memfokuskan masalah. Beberapa saran tentang bagaimana memilih topik penelitian dikemukakan oleh Bogdan dan Biklen (1998: 51-52) sebagai berikut; (1) ambil satu penelitian yang ukuran serta tingkat kerumitannya sedang atau cukup, sehingga dapat diselesaikan dalam waktu dan sumber yang ada; (2) pertimbangkan ketrampilan dalam masalah yang akan diteliti; (3) usahakan membatasi jumlah jam kerja dan jumlah halaman data yang harus dilakukan tinjauan ulang; (4) usahakan memperoleh informasi yang terkonsentrasi (tidak terpencar-pencar); (5) usahakan bisa datang ke lokasi penelitian sesering mungkin sekalipun belum memulai rencana penelitian; (6) pilih tempat penelitian yang asing (belum begitu dikenal); (7) menentukan pilihan yang paling disukai.
V. Perumusan Fokus Penelitian
Fokus penelitian dapat dirumuskan mengambil bentuk suatu pernyataan (statement) atau pertanyaan (question) (Maykut, 1994: 64). Kedua bentuk itu sama-sama diperbolehkan, walaupun dalam kenyataannya lebih banyak menggunakan bentuk pertanyaan.
Cara seseorang menanyaan pernyataan ataupun pertanyaan penelitian sangatlah penting, karena akan menentukan pada tingkatan mana metode penelitian digunakan. Pertanyaan-pertanyaan penelitian khusus bagi penelitian kualitatif meliputi; Bagaimana kondisi tertentu atau situasi sosial mulai ?; Bagaimana kondisi/situasi itu bertahan dari waktu ke waktu ? Apa saja proses dimana suatu kondisi/situasi berubah, berkembang, atau berproses ? (Neuman, 2000: 149)
Berikut adalah contoh perumusan fokus (masalah) penelitian;
Pernyataan:
1. Belum diketahui secara empiris tentang tujuan pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo
2. Belum diketahui secara empiris tentang alasan-alasan pelaksanaan pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo
3. Belum diketahui secara empiris strategi pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo
Pertanyaan:
1. Apa tujuan pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo ?
2. Mengapa dilaksanakan pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo?
3. Bagaimana strategi pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo ?
VI. Perspektif Teoritis dalam Penelitian Kualitatif
Hal penting yang perlu dipahami oleh seorang yang ingin mendalami penelitian kualitatif adalah apa yang disebut dengan orientasi teoritis atau perspektif teoritis. Apa yang dicari oleh peneliti kualitatif, bagaimana ia melakukan penelitian, dan bagaimana ia menafsirkan hasil penelitian, semuanya itu bergantung pada perspektif teoritisnya. Beberapa perspektif teori dalam penelitian kualitatif yang hendak diuraikan berikut ini adalah; fenomenologi, interaksi simbolis, dan etnometodologi.
Fenomenologi
Kalangan fenomenologi memandang bahwa tingkah laku manusia (yang dikatakan dan dilakukan) sebagai produk dari cara manusia tersebut menafsirkan dunianya. Dalam perspektif ini, tugas peneliti kualitatif adalah menangkap proses interpretasi ini. Untuk melakukan hal ini diperlukan apa yang disebut Weber sebagai vestehen (pengertian empatik atau kemampuan untuk mengeluarkan pikiran, perasaan, motif, dan pikiran-pikiran yang ada dibalik tindakan orang lain). Untuk dapat memahami arti tingkah laku seseorang, ahli fenomenologi berusaha memandang sesuatu dari sudut pandang orang lain (Bogdan dan Taylor, 1975)
Penyelidikan fenomenologis bermula dari “diam”. Keadaan “diam” ini merupakan upaya untuk menangkap apa gerangan yang sedang dipelajari. Karena itu yang ditekankan kaum fenomenolog adalah segi subjektif tingkah laku orang. Fenomenolog berusaha untuk bisa masuk ke dalam dunia konseptual subjeks penyelidikannya, agar dapat memahami bagaimana dan apa makna yang disusun subjek tersebut di sekitar kejadian-kejadian dalam kehidupan kesehariannya. Jadi tujuan penyelidikan fenomenologi adalah memahami subjek dari sudut pandang subjek sendiri.
Interaksi Simbolis
Menurut perspektif ini, pengalaman manusia itu diperoleh dengan perantaraan interpretasi. Orang selalu berada dalam proses interpretasi dan definisi sewaktu mereka beralih dari satu situasi ke situasi yang lain. Suatu situasi hanya dapat mempunyai makna lewat interpretasi dan definisi orang mengenai situasi tersebut. Sementara itu, tindakan orang tersebut berasal dari makna ini. Jadi proses interpretasi ini berfungsi sebagai perantara bagi setiap kecenderungan untuk bertindak, disamping juga sebagai tindakan itu sendiri.
Melalui interaksi, individu membentuk makna. Orang-orang di dalam suatu situasi tertentu sering membentuk definisi bersama (berbagi perspektif – meminjam istilah kaum interaksionis simbolis) karena secara teratur berinteraksi dan berbagi pengalaman, masalah, dan latar belakang.
Bagian lain yang penting dalam teori interaksi simbolis adalah konstruk tentang “diri pribadi” (self). Diri pribadi tidak dipandang terletak di dalam individu seperti ego atau kebutuhan, motif, norma-norma atau nilai-nilai yang terinternalisasi. Diri adalah definisi yang diciptakan orang melalui interaksinya dengan orang lain. Dalam membentuk atau mendefinisikan diri, orang berusaha melihat dirinya sebagaimana orang lain melihat dia dengan menafsirkan gerak isyarat dan perbuatan yang ditunjukkan kepadanya dan dengan jalan menempatkan dirinya pada peranan orang lain. Dengan begitu, suatu konstruksi sosial merupakan hasi dari mempersepsi diri sendiri dan kemudian menyusun definisi melalui proses interaksi.
Perspektif ini pada dasarnya menunjuk pada pokok persoalan yang hendak diteliti. Etnometodologi tidak menunjuk kepada metode penelitian, melainkan pada pokok penyelidikan, yaitu cara (metodologi yang digunakan) orang untuk memahami situasi tempat mereka berada. Tugas ahli etnometodologi adalah menyelidiki bagaimana cara orang menerapkan kaidah-kaidah abstrak dan pengertian akal sehat (commonsense understanding) dalam berbagai situasi, sehingga tindakan tersebut kelihatan rutin, dapat diterangkan, dan tidak meragukan. Jadi, etnometodologi adalah studi tentang bagaimana orang-orang menciptakan dan memahami kehidupan sehari-hari mereka; cara mereka menyelesaikan kehidupan sehari-hari.
VII. Data Penelitian Kualitatif
Data penelitian kualitatif adalah apa yang dikatakan oleh orang-orang terhadap seperangkat pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Apa yang dikatakan responden itu bisa diperoleh secara verbal melalui wawancara atau dalam bentuk tertulis melalui analisis dokumen. Patton (1980: 36) mengatakan bahwa pada dasarnya data kualitatif itu terdiri dari petikan-petikan yang berasal dari responden dan deskripsi tentang situasi, peristiwa, dan interaksi.
Data kualitatif adalah data empiris. Data itu termasuk dokumen peristiwa nyata, rekaman apa yang mereka nyatakan (dengan kata-kata, isyarat, nada), observasi perilaku spesifik, studi dokumen tertulis, atau menguji kesan visual. Semua data itu adalah aspek-aspek konkrit suatu dunia. Tidak sebagaimana para peneliti kuantitatif yang mengubah ide atau dunia sosial ke dalam variabel-variabel umum untuk membentuk hipotesis, para peneliti kualitatif meminjam ide-ide dari orang-orang yang mereka studi sesuai dengan konteks atau latar alamiahnya.
Data kualitatif terdiri dari deskripsi situasi, peristiwa, orang, interaksi, dan perilaku terobservasi yang mendetil, pertanyaan-pertanyaan yang terarah, dan orang-orang tentang pengalaman, sikap, kepercayaan, pikiran, kutipan atau seluruh bagian dari dokumen, korespondensi, dan sejarah suatu kasus. Deskripsi mendetil, kutipan langsung, dan dokumentasi kasus dalam penelitian kualitatif merupakan data mentah (raw data) dari dunia empiris. Data itu tidak terbatas pada aspek tertentu, melainkan diperlakukan secara menyeluruh, agar menemukan apa makna kehidupan, pengalaman, dan interaksi mereka bagi dirinya dalam istilah (term) sendiri dan dalam latar budaya mereka sendiri.
VIII. Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif
Secara umum teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif terdiri dari dua jenis, yakni wawancara dan observasi.
Wawancara
Teknik wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang khas bagi penelitian kualitatif. Wawancara adalah sebuah percakapan dengan tujuan. Tujuannya adalah memperoleh bentukan-bentukan disini dan sekarang dari orang, peristiwa, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, klaim, perhatian, dan cantuman lainnya. Ada 2 jenis wawancara, yakni; wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur.
Wawancara terstruktur disebut juga wawancara “terfokus”. Pertanyaan-pertanyaan telah dirumuskan terlebih dahulu, dan responden diharapkan menjawab pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan masalah penelitian. Dalam wawancara terstruktur, pertanyaan ada di tangan pewawancara dan respon terletak pada responden.
Wawancara tidak terstruktur disebut juga wawancara “mendalam”, “klinis”, “elit”, “spesialis”, atau “eksploratori (Lincoln & Guba, 1985: 268). Dalam teknik pengumpulan data model ini, format pertanyaan tidak di standardisasikan, dan pewawancara tidak mencari respon normatif. Wawancara tidak terstruktur berkenaan dengan sudut pandangan individu yang unik, indiosinkratis, dan keseluruhan. Jadi di dalam wawancara model ini pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawabannya diberikan oleh responden.
Observasi
Dalam peneltian kualitatif, teknik observasi biasa digunakan bersamaan dengan teknik wawancara mendalam (deep interview). Kedua teknik ini merupakan teknik-teknik utama. Jenis observasi meliputi; observasi partisipan dan nonpartisipasi.
Observasi Partisipan. Bogdan dan Taylor (1975) mendefinisikan observasi partisipan sebagai suatu periode interaksi sosial yang intensif antara peneliti dan subjek dalam suatu lingkungan tertentu. Pengamat partisipan terlibat sepenuhnya dalam mengalami latar di bawah studi sementara pada waktu yang sama mencoba untuk memahami latar itu melalui pengalaman seseorang, mengobservasi dan wawancara dengan partisipan lain tentang apa yang sedang terjadi (Patton, 1980: 127). Peneliti menenggelamkan diri dalam kehidupan orang-orang dan situasi yang ingin dimengerti; ia berbicara, bergurau, bersatu (empati) dengan subjek, dan ikut menghayati kehidupan serta pengalaman subjek. Dalam pelaksanaannya, observasi partisipan seringkali digunakan bersama teknik wawancara, bahkan juga analisa dokumen.
Observasi nonpartisipasi. Teknik ini dimaksudkan sebagai teknik pengumpulan data tanpa harus melibatkan diri ke dalam situasi dimana peristiwa itu berlangsung, melainkan dengan menggunakan media tertentu (misalnya, elektronika). Penggunaan teknik ini didasarkan pada beberapa alasan; (1) penelitian dilaksanakan oleh orang yang sangat pemalu yang senang melakukan penelitian etnografis, tapi ingin menghindarkan keterlibatan; (2) sering suatu situasi sosial khusus tidak memungkinkan untuk semua partisipasi, sementara memungkinkan untuk mengadakan penelitian.
IX. Analisis Data Penelitian Kualitatif
Pada penelitian kualitatif, analisis data dilakukan melalui pengaturan data secara logis dan sistematis. Analisis data ini dilakukan sejak awal peneliti terjun ke lapangan hingga pada akhir penelitian (pengumpulan data). Pelaku analisis kualitatif adalah peneliti yang sejak awal terjun ke lapangan berinteraksi dengan latar dan orang (subjek) dalam rangka pengumpulan data.
Secara umum, menurut Neuman (2000: 426) bahwa analisis data kualitatif merupakan suatu pencarian pola-pola dalam data, perilaku yang muncul, obyek-obyek, atau badan pengetahuan (a body of knowledge). Sekali suatu pola itu diidentifikasi, pola itu diinterpretasi ke dalam istilah-istilah teori sosial atau latar, dimana teori sosial itu terjadi. Peneliti kualitatif pindah dari deskripsi peristiwa historis atau latar sosial ke interpretasi maknanya yang lebih umum. Analisis data mencakup; menguji, menyortir, mengkategorikan, mengevaluasi, membandingkan, mensintesakan dan merenungkan (contemplating) data yang direkam, dan juga meninjau kembali data mentah dan terekam.
Peneliti kualitatif, selanjutnya menggunakan analisis induktif, yang berarti, bahwa kategori, tema, dan pola berasal dari data. Kategori-kategori yang muncul dari catatan lapangan, dokumen, dan wawancara tidak ditentukan sebelum pengumpulan data.
Prosedur analisis penelitian kualitatif mengacu pada prosedur analisis non-matematik, yang hasil temuannya diperoleh dari data yang dihimpun oleh ragam alat (Strauss, 1990: 18). Menurut Patton (1980: 303) bahwa analisis kasus (kualitatif), meliputi mengorganisir data dengan kasus-kasus spesifik yang memungkinkan studi yang mendalam tentang kasus-kasus ini. Kasus-kasus dapat berupa individual, program, institusi, atau kelompok. Pendekatan studi kasus pada analisis penelitian kualitatif adalah cara yang spesifik untuk menghimpun data, mengorganisir data, dan menganalisa data. Tujuannya adalah untuk menghimpun data yang mendalam, sistematis, komprehensif tentang masing-masing kasus yang diminati.. Kemudian, permulaan penting untuk analisis kasus adalah membuat yakin, bahwa informasi untuk masing-masing kasus selengkap mungkin. Di dalam teknik analisis data penelitian kualitatif, dikenal beberapa teknis analisis; analisis domain, analisis taksonomi, analisis tematik, dan anlisis komponensial.
X. Penutup
Penelitian kualitatif dalam beberapa situasi tertentu, terutama untuk meneliti latar sosial yang kompleks dan menantang, nampaknya relatif lebih relevan. Hasil sebuah penelitian kualitatif akan berbobot sama dengan hasil penelitian kuantitatif, senyampang dijalani dengan sungguh-sungguh (sesuai dengan logika metodologi penelitian kualitatif). Banyak hal penting (untuk tidak mengatakan “rumit”) yang harus dikuasai oleh calon pengguna dan pecinta penelitian kualitatif. Karena itu, semangat menggunakan penelitian kualitatif harus sama besarnya dengan semangat memahami detil-detilnya secara cermat dan lengkap. Tulisan ini sebenarnya tak lebih dimaksudkan sebagai penyulut semangat untuk memburu informasi lebih baik, cermat, dan lengkap tentang penelitian kualitatif, baik lewat media cetak maupun lewat verbal dan pengalaman para pakar.



Baca Selengkapnya ...