Assalamualaikum

SHALAT MENEMBUS LANGIT

Published by ridokurnianto under on 19.23
Inna al-hamd li Allah nasta’inuh wa nastaghfiruh wa na’udzu bi Allah min syurur anfusina wa sayyiati a’malina man yahdi Allah fa huw al-muhtady wa man yudhlil fa la hadiya lah. Asyhadu an la ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ’abduh wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim wa barik ’ala Muhammadi an-Nabiyy wa ’ala alih wa shahbih ajma’in. Amma ba’d, fa ya ikhwan rahimakum Allah; ushiny wa iyyakum bi taqw Allah wa tha’atih la’allakum turhamun.
Ma’asyir al-Muslimin rahimakumullah !
Shalat merupakan tulang punggung tegaknya agama Islam, dimana karena itu, shalat memiliki nilai kebermaknaan yang sangat tinggi. Karena itu pula, ia menjadi penentu bagi baik-buruk, tegak-robohnya agama Islam. Rasulillah SAW bersabda; “Shalat merupakan tiyang agama, barang siapa yang menegakkannya berarti ia telah menegakkan agama, dan barang siapa merobohkannya, berarti ia telah merobohkan agama.”; as-shalatu ‘imad ad-din fa man aqamaha faqad aqam ad-din, wa man hadamaha faqad hadam ad-din.”


Rasulullah SAW., pernah menyampaikan khabar kepada para sahabat tentang keadaan manusia saat berkumpul di padang makhsyar usai dibangkitkan dari kubur, kata beliau; “di akhirat nanti, ketika ummat Rasul SAW mau minum air telaga Kautsar, di antara mereka ada kelompok manusia yang terhalang (tidak bisa meminum air telaga tersebut). Di saat itu semua manusia dibangkitkan dari kubur, sehingga menjadikan tempat di hari berbangkit itu penuh sesak dengan manusia hingga keadaan menjadi panas yang amat sangat. Begitu panasnya, hingga seluruh lubang yang ada di dalam anggota badan manusia itu menyemburkan api. Disaat Rasul SAW menyaksikan orang-orang yang tidak kebagian air telaga kautsar, beliau bertanya kepada Allah SWT.; “Mereka itu kan ummatku ya Allah?, Allah menjawab; “Bukan Muhammad, bukan ! kamu tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sepeninggalmu, mereka itu adalah orang-orang yang mengerjakan shalat, tetapi shalatnya tidak sesuai dengan petunjukmu.” HR. Muslim
Ma’asyir al-Muslimin rahimakumullah!
Hadis di atas sekaligus menyadarkan kita, bahwa ternyata banyak ummat Muhammad SAW., yang mengerjakan shalat, tetapi bersamaan dengan itu, shalatnya ternyata tidak bisa menjadikanya beroleh rahmat Allah SWT di akhirat nanti, bahkan ketika menghadapi kesulitan yang amat dahsyat di tengah padang mahsyar (tempat yang sangat mencekam), mereka tidak bisa merasakan air telaga Kautsar sebagai satu-satunya pelepas dahaga dari kondisi panas yang tak terperi. Dengan demikian, tidak sembarang shalat bisa menjadikan orang yang melakukannya memperoleh pahala kebaikan dari Allah SWT.
Sebenarnya kita telah memaklumi, bahwa berkali- kali Rasul SAW menjelaskan, bahwa ibadah shalat merupakan pokok/pangkal dari seluruh amal yang kita kerjakan. Shalat inilah di akhirat kelak, di yaum al-hisab; di hari dimana amal perbuatan kita ditimbang dan dinilai, akan dihitung pertama-tama. Di dalam ibadah shalat inilah, seluruh amal yang telah kita lakukan di ukur dan dinilai. Apabila shalat kita bagus, maka bisa dipastikan bahwa amal ibadah lainnya akan dinilai bagus. Sebaliknya, apabila shalat kita jelek, maka sudah bisa dipastikan bahwa amal ibadah lainnya juga akan ikut dinilai jelek;
Ma’asyir al-Muslimin rahimakumullah!
Dari Rasul SAW, kita juga telah begitu paham, bahwa shalat yang baik adalah shalat yang bisa menghadirkan jiwa kita menuju dan menghadap Allah SWT. Akan tetapi, dibalik pemahaman yang baik ini, ternyata kita sering menjadi kelompok manusia yang lalai di dalam shalatnya. Jika demikian, maka bisa jadi shalat kita tidak sekedar bernilai jelek, tetapi justru dengan shalat yang kita lakukan itu kita malah berbuat syirk kepada Allah SWT; hati kita mendua bahkan bercabang-cabang; tidak tertuju kepada Allah, melainkan tertuju kepada keduniaan yang fana ini (sekalipun kita sangat paham, bahwa syirk adalah satu-satunya perbuatan jahat dimana nilai kesalahan dan dosanya tidak bisa diampuni oleh Allah karena begitu besar nilai keingkarannya kepada Allah Sang Pencipta semesta ini).
Karena itulah, barangkli kita sangat bisa memahami, kenapa banyak mushalli dimana dengan shalat yang dikerjakannya, tidak bisa menghadirkan “hikmah agung” di dalam hidup dan kehidupannya, yakni berupa atsar as-sujud; tanha ‘an al-fakhsya’ wa al-munkar; tidak bisa menjadikannya tercegah dari perbuatan keji dan kemunkaran.
Barak Allah li walakum fi al-Quran al’adhim wa nafa’any wa iyyakum bima fihi min alayaty wa dhikr al-hakim wa taqabb al-minna tilawatah innahu huw as-sami’ al-‘alim.


Baca Selengkapnya ...

0 komentar:

Poskan Komentar