Assalamualaikum

METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF; SEBUAH PENGANTAR

Published by ridokurnianto under on 20.04
I. Pendahuluan
Ada sementara isu yang menyatakan bahwa seseorang memilih metode kualitatif dalam rencana penelitiannya karena alasan klise, yakni karena ia tidak menguasai statistik. Ini adalah sebuah pandangan yang menempatkan metode kualitatif lebih ringan atau mudah dibanding dengan metode kuantitatif. Andaikan alasan ini benar-benar dipilih oleh seseorang dalam merancang penelitiannya, bisa jadi ia akan terjebak oleh pilihannya itu, karena ternyata penelitian kualitatif tidaklah lebih ringan dibanding dengan penelitian kuantitatif, sekalipun juga tidak bisa dikatakan bahwa penelitian kualitatif lebih berat dibanding dengan penelitian kuantitatif, karena memang penelitian kualitatif ini, sebagaimana penelitian kuantitatif, memiliki kekurangan-kekurangan disamping kelebihan-kelebihan yang ada.


Secara khusus, tulisan ini hendak mendeskripsikan secara singkat tentang hal-hal dasar terkait dengan metodologi penelitian kualitatif. Sekalipun tulisan ini diupayakan mencakup poin-poin penting penelitian kualitatif, tetapi tak lebih hanya bersifat pengenalan awal. Karena itu, sudah barang tentu penjelasan lebih lengkap tidak tercover di dalam tulisan ini.
II. Definisi
Memahami penelitian kualitatif itu penting sebelum peneliti melangkah melakukan penelitian. Beberapa definisi berikut bisa dipakai sebagai dasar memahami penelitian ini.
Menurut Bogdan dan Taylor (1975) metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif; ucapan atau tulisan dan perilaku yang dapat diamati dari orang-orang (subjek) itu sendiri. Pendapat ini langsung menunjukkan latar dan individu-individu dalam latar itu secara keseluruhan, subjek penelitian, secara menyeluruh.
Strauss (1990: 17) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu jenis penelitian yang menghasilkan temuan-temuan yang tidak diperoleh oleh alat-alat prosedur statistik atau alat-alat kuantifikasi lainnya. Pendapat ini langsung menekankan penggunaan non-statistik (matematika), dimana sekaligus menjadi salah satu unsur yang membedakannya dengan penelitian kuantitatif.
Sedangkan Patton (1980: 41) mendefinisikan metode kualitatif adalah untuk memahami fenomena yang sedang terjadi secara natural (alamiah) dalam keadaan-keadaan yang terjadi secara alamiah. Konsep yang dimajukan Patton ini lebih menekankan pentingnya sifat data yang diperoleh oleh penelitian kualitatif, yakni data alamiah.
Tiga definisi tersebut, kiranya cukup untuk mengungkap definisi penelitian kualitatif, sekalipun masih sangat memungkinkan adanya pendapat yang lebih lengkap dan mewakili, dan tidak tertulis dalam tulisan ini. Penelitian kualitatif, dengan demikian, adalah penelitian yang latar penelitiannya berupa konteks alamiah, dimana jenis datanya berupa fenomena-fenomena yang terjadi secara alami (bersifat non-statistik) yang harus diperlakukan secara menyeluruh dan saling terkait antara satu dan lainnya.
III. Karakteristik Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif memiliki sejumlah ciri yang membedakannya dengan penelitian jenis lainnya. Banyak para ahli penelitian kualitatif memaparkan karakteristik penelitian kualitatif, seperti Bogdan, Biklen, Lincoln, Bryman, Maykut, Morehouse, dan lainnya. Berikut ini adalah ciri atau karakteristik penelitian kualitatif yang telah penulis upayakan untuk memadukan sekian banyak versi yang diungkap oleh para pakar tersebut.
Pertama, latar alamiah (natural setting). Penelitian kualitatif melakukan penelitian pada latar alamiah (konteks subjek yang diteliti). Latar alami adalah tempat dimana peneliti paling mungkin untuk menemukan atau mengungkap fenomena yang ingin diketahui (Maykut, 1994: 45). Dalam penelitian kualitatif, peneliti melaksanakan penelitian pada latar atau konteks alami pada keseluruhan yang menggambarkan, bahwa keseluruhan tidak dapat dipahami secara terpisah dari konteksnya. Karena itu, peneliti kualitatif pergi ke lingkungan tertentu yang ditelitinya untuk memahami latar sesuai dengan konteksnya. Melepaskan tindakan, ucapan, atau gerak isyarat dari konteksnya berarti kehilangan makna penting (Bogdan dan Biklen, 1998: 4). Misal, untuk memahami lebih jauh pengalaman mahasiswa sekolah tinggi tentang kehidupan akademis, peneliti masuk ke kelas-kelas, perpustakaan, asrama, persatuan mahasiswa, dan seterusnya untuk mengobservasi dan wawancara. Dengan masuk ke dalam latar seperti itu peneliti akan mengetahui langsung bagaimana perilaku, interaksi, serta pandangan-pandangan tentang kehidupan akademis.
Kedua, Manusia sebagai Alat (human instrument). Dalam penelitian kualitatif, peneliti atau tim peneliti merupakan alat pengumpul data utama. Oleh karena itu, pada waktu mengumpulkan data di lapangan, peneliti berperan serta dalam kegiatan subjek yang diteliti.
Ketiga, Metode-metode kualitatif (qualitative methods). Data penelitian kualitatif seringkali berupa kata-kata dan tindakan-tindakan orang, dan karena itu memerlukan metode yang memungkinkan peneliti untuk menangkap bahasa dan perilaku. Karena itu, penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif, karena beberapa pertimbangan berikut; (1) lebih dapat diadaptasikan berkenaan dengan realita ganda, karena mengekspos secara langsung hakikat dari transaksi peneliti-responden; (2) metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan dengan pengaruh ganda dan pola-pola nilai yang dihadapi.
Keempat, Analisis data secara induktif (inductive analysis). Analisis data secara induktif ini digunakan karena beberapa alasan; (1) lebih dapat menemukan kenyataan-kenyataan ganda dalam data; (2) lebih dapat membuat hubungan peneliti-responden menjadi eksplisit; lebih dapat dikenal, dan lebih dapat dipertanggungjawabkan; (3) lebih dapat menguraikan latar secara penuh; (4) lebih dapat menemukan pengaruh bersama yang mempertajam hubungan-hubungan; (5) dapat memperhitungkan nilai-nilai secara eksplisit sebagai bagian dari struktur analitik.
Kelima, Teori dari dasar (gronded theory). Grounded theory adalah teori yang diperoleh secara induktif dari kajian terhadap fenomena-fenomena yang terjadi; suatu teori yang ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan untuk sementara waktu melalui pengumpulan data secara sistematis dan analisis data mengenai fenomena tersebut. Oleh karena itu, pengumpulan data, analisis, dan teori mempunyai hubungan timbal balik satu sama lain. Seseorang tidak boleh memulai dengan teori, kemudian membuktikannya, tetapi ia harus memulai dengan kawasan kajian dan apa yang relevan pada kawasan tersebut.
Keenam, Sampling purposif (purposive sampling). Peneliti kualitatif lebih cenderung menjauhi sampling acak atau representatif dan lebih memilih sampling purposif, karena alasan berikut; (1) ia dapat meningkatkan ruang lingkup atau peringkat dari data yang diekspos (sampling random atau representatif cenderung lebih menekan kasus-kasus yang menyimpang); (2) dapat memaksimalkan peneliti untuk merencanakan teori mendasar yang memperhitungkan kondisi lokal, pembentukan lokal secara ganda, serta nilai-nilai lokal (untuk memungkinkan dapat ditransfer) (Lincoln dan Guba, 1985: 40)
Ketujuh, Rancangan darurat (emergent design). Peneliti kualitatif membiarkan rancangan penelitian muncul (mengalir, merembes, membentang) dan bukan membentuknya terlebih dahulu (a priori). Hal ini karena; (1) agar banyak realita ganda yang muncul saat penggalian data bisa tercover secara memadai; (2) apa yang akan muncul dari interaksi peneliti-responden tidak bisa diprediksi sebelumnya; (3) peneliti tidak dapat cukup mengetahui pola-pola pembentukan timbal balik yang cenderung eksis; (4) berbagai sistem nilai yang terkait dengan masalah penelitian tidak bisa diprediksi sebelumnya.
Kedelapan, Hasil-hasil yang dirundingkan (negotiated outsomes). Setelah peneliti merumuskan hasil penelitian, selanjutnya hasil penelitian tersebut dirundingkan dengan subjek penelitian, untuk memastikan berbagai data yang dating dari responden dan telah dianalisis itu sesuai dengan kenyataan subjek yang sebenarnya.
Kesembilan, Interpretasi idiografis (idiographic interpretation). Peneliti kualiatif cenderung menginterpretasi data (termasuk menarik kesimpulan) secara ideografis (dalam hal kekhususan dari kasus) bukan secara nomoteris (dalam hal generalisasi seperti hukum), karena interpretasi yang berbeda cenderung bermakna bagi realita yang berbeda.
Kesepuluh, Model laporan studi kasus (case study reporting mode). Hasil penelitian kualitatif cenderung dipresentasikan dalam narasi yang kaya, dan sering mengarah pada studi kasus. Dengan laporan yang panjang, peneliti mempunyai kesempatan untuk memberikan kutipan yang banyak dari data aktual yang memungkinkan partisipan untuk berbicara pada diri mereka sendiri; dalam kata dan tindakan, sehingga lebih bisa memberikan kepada pembaca memahami hasil penelitian secara memadai.
IV. Pemilihan Topik dalam Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif dirancang untuk menemukan apa yang dapat dipelajari tentang beberapa fenomena yang diminati, khususnya fenomena sosial, dimana orang-orang merupakan para partisipan. Mengingat masalah yang ditemukan relatif banyak, maka perlu adanya usaha untuk memfokuskan masalah. Beberapa saran tentang bagaimana memilih topik penelitian dikemukakan oleh Bogdan dan Biklen (1998: 51-52) sebagai berikut; (1) ambil satu penelitian yang ukuran serta tingkat kerumitannya sedang atau cukup, sehingga dapat diselesaikan dalam waktu dan sumber yang ada; (2) pertimbangkan ketrampilan dalam masalah yang akan diteliti; (3) usahakan membatasi jumlah jam kerja dan jumlah halaman data yang harus dilakukan tinjauan ulang; (4) usahakan memperoleh informasi yang terkonsentrasi (tidak terpencar-pencar); (5) usahakan bisa datang ke lokasi penelitian sesering mungkin sekalipun belum memulai rencana penelitian; (6) pilih tempat penelitian yang asing (belum begitu dikenal); (7) menentukan pilihan yang paling disukai.
V. Perumusan Fokus Penelitian
Fokus penelitian dapat dirumuskan mengambil bentuk suatu pernyataan (statement) atau pertanyaan (question) (Maykut, 1994: 64). Kedua bentuk itu sama-sama diperbolehkan, walaupun dalam kenyataannya lebih banyak menggunakan bentuk pertanyaan.
Cara seseorang menanyaan pernyataan ataupun pertanyaan penelitian sangatlah penting, karena akan menentukan pada tingkatan mana metode penelitian digunakan. Pertanyaan-pertanyaan penelitian khusus bagi penelitian kualitatif meliputi; Bagaimana kondisi tertentu atau situasi sosial mulai ?; Bagaimana kondisi/situasi itu bertahan dari waktu ke waktu ? Apa saja proses dimana suatu kondisi/situasi berubah, berkembang, atau berproses ? (Neuman, 2000: 149)
Berikut adalah contoh perumusan fokus (masalah) penelitian;
Pernyataan:
1. Belum diketahui secara empiris tentang tujuan pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo
2. Belum diketahui secara empiris tentang alasan-alasan pelaksanaan pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo
3. Belum diketahui secara empiris strategi pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo
Pertanyaan:
1. Apa tujuan pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo ?
2. Mengapa dilaksanakan pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo?
3. Bagaimana strategi pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo ?
VI. Perspektif Teoritis dalam Penelitian Kualitatif
Hal penting yang perlu dipahami oleh seorang yang ingin mendalami penelitian kualitatif adalah apa yang disebut dengan orientasi teoritis atau perspektif teoritis. Apa yang dicari oleh peneliti kualitatif, bagaimana ia melakukan penelitian, dan bagaimana ia menafsirkan hasil penelitian, semuanya itu bergantung pada perspektif teoritisnya. Beberapa perspektif teori dalam penelitian kualitatif yang hendak diuraikan berikut ini adalah; fenomenologi, interaksi simbolis, dan etnometodologi.
Fenomenologi
Kalangan fenomenologi memandang bahwa tingkah laku manusia (yang dikatakan dan dilakukan) sebagai produk dari cara manusia tersebut menafsirkan dunianya. Dalam perspektif ini, tugas peneliti kualitatif adalah menangkap proses interpretasi ini. Untuk melakukan hal ini diperlukan apa yang disebut Weber sebagai vestehen (pengertian empatik atau kemampuan untuk mengeluarkan pikiran, perasaan, motif, dan pikiran-pikiran yang ada dibalik tindakan orang lain). Untuk dapat memahami arti tingkah laku seseorang, ahli fenomenologi berusaha memandang sesuatu dari sudut pandang orang lain (Bogdan dan Taylor, 1975)
Penyelidikan fenomenologis bermula dari “diam”. Keadaan “diam” ini merupakan upaya untuk menangkap apa gerangan yang sedang dipelajari. Karena itu yang ditekankan kaum fenomenolog adalah segi subjektif tingkah laku orang. Fenomenolog berusaha untuk bisa masuk ke dalam dunia konseptual subjeks penyelidikannya, agar dapat memahami bagaimana dan apa makna yang disusun subjek tersebut di sekitar kejadian-kejadian dalam kehidupan kesehariannya. Jadi tujuan penyelidikan fenomenologi adalah memahami subjek dari sudut pandang subjek sendiri.
Interaksi Simbolis
Menurut perspektif ini, pengalaman manusia itu diperoleh dengan perantaraan interpretasi. Orang selalu berada dalam proses interpretasi dan definisi sewaktu mereka beralih dari satu situasi ke situasi yang lain. Suatu situasi hanya dapat mempunyai makna lewat interpretasi dan definisi orang mengenai situasi tersebut. Sementara itu, tindakan orang tersebut berasal dari makna ini. Jadi proses interpretasi ini berfungsi sebagai perantara bagi setiap kecenderungan untuk bertindak, disamping juga sebagai tindakan itu sendiri.
Melalui interaksi, individu membentuk makna. Orang-orang di dalam suatu situasi tertentu sering membentuk definisi bersama (berbagi perspektif – meminjam istilah kaum interaksionis simbolis) karena secara teratur berinteraksi dan berbagi pengalaman, masalah, dan latar belakang.
Bagian lain yang penting dalam teori interaksi simbolis adalah konstruk tentang “diri pribadi” (self). Diri pribadi tidak dipandang terletak di dalam individu seperti ego atau kebutuhan, motif, norma-norma atau nilai-nilai yang terinternalisasi. Diri adalah definisi yang diciptakan orang melalui interaksinya dengan orang lain. Dalam membentuk atau mendefinisikan diri, orang berusaha melihat dirinya sebagaimana orang lain melihat dia dengan menafsirkan gerak isyarat dan perbuatan yang ditunjukkan kepadanya dan dengan jalan menempatkan dirinya pada peranan orang lain. Dengan begitu, suatu konstruksi sosial merupakan hasi dari mempersepsi diri sendiri dan kemudian menyusun definisi melalui proses interaksi.
Perspektif ini pada dasarnya menunjuk pada pokok persoalan yang hendak diteliti. Etnometodologi tidak menunjuk kepada metode penelitian, melainkan pada pokok penyelidikan, yaitu cara (metodologi yang digunakan) orang untuk memahami situasi tempat mereka berada. Tugas ahli etnometodologi adalah menyelidiki bagaimana cara orang menerapkan kaidah-kaidah abstrak dan pengertian akal sehat (commonsense understanding) dalam berbagai situasi, sehingga tindakan tersebut kelihatan rutin, dapat diterangkan, dan tidak meragukan. Jadi, etnometodologi adalah studi tentang bagaimana orang-orang menciptakan dan memahami kehidupan sehari-hari mereka; cara mereka menyelesaikan kehidupan sehari-hari.
VII. Data Penelitian Kualitatif
Data penelitian kualitatif adalah apa yang dikatakan oleh orang-orang terhadap seperangkat pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Apa yang dikatakan responden itu bisa diperoleh secara verbal melalui wawancara atau dalam bentuk tertulis melalui analisis dokumen. Patton (1980: 36) mengatakan bahwa pada dasarnya data kualitatif itu terdiri dari petikan-petikan yang berasal dari responden dan deskripsi tentang situasi, peristiwa, dan interaksi.
Data kualitatif adalah data empiris. Data itu termasuk dokumen peristiwa nyata, rekaman apa yang mereka nyatakan (dengan kata-kata, isyarat, nada), observasi perilaku spesifik, studi dokumen tertulis, atau menguji kesan visual. Semua data itu adalah aspek-aspek konkrit suatu dunia. Tidak sebagaimana para peneliti kuantitatif yang mengubah ide atau dunia sosial ke dalam variabel-variabel umum untuk membentuk hipotesis, para peneliti kualitatif meminjam ide-ide dari orang-orang yang mereka studi sesuai dengan konteks atau latar alamiahnya.
Data kualitatif terdiri dari deskripsi situasi, peristiwa, orang, interaksi, dan perilaku terobservasi yang mendetil, pertanyaan-pertanyaan yang terarah, dan orang-orang tentang pengalaman, sikap, kepercayaan, pikiran, kutipan atau seluruh bagian dari dokumen, korespondensi, dan sejarah suatu kasus. Deskripsi mendetil, kutipan langsung, dan dokumentasi kasus dalam penelitian kualitatif merupakan data mentah (raw data) dari dunia empiris. Data itu tidak terbatas pada aspek tertentu, melainkan diperlakukan secara menyeluruh, agar menemukan apa makna kehidupan, pengalaman, dan interaksi mereka bagi dirinya dalam istilah (term) sendiri dan dalam latar budaya mereka sendiri.
VIII. Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif
Secara umum teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif terdiri dari dua jenis, yakni wawancara dan observasi.
Wawancara
Teknik wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang khas bagi penelitian kualitatif. Wawancara adalah sebuah percakapan dengan tujuan. Tujuannya adalah memperoleh bentukan-bentukan disini dan sekarang dari orang, peristiwa, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, klaim, perhatian, dan cantuman lainnya. Ada 2 jenis wawancara, yakni; wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur.
Wawancara terstruktur disebut juga wawancara “terfokus”. Pertanyaan-pertanyaan telah dirumuskan terlebih dahulu, dan responden diharapkan menjawab pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan masalah penelitian. Dalam wawancara terstruktur, pertanyaan ada di tangan pewawancara dan respon terletak pada responden.
Wawancara tidak terstruktur disebut juga wawancara “mendalam”, “klinis”, “elit”, “spesialis”, atau “eksploratori (Lincoln & Guba, 1985: 268). Dalam teknik pengumpulan data model ini, format pertanyaan tidak di standardisasikan, dan pewawancara tidak mencari respon normatif. Wawancara tidak terstruktur berkenaan dengan sudut pandangan individu yang unik, indiosinkratis, dan keseluruhan. Jadi di dalam wawancara model ini pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawabannya diberikan oleh responden.
Observasi
Dalam peneltian kualitatif, teknik observasi biasa digunakan bersamaan dengan teknik wawancara mendalam (deep interview). Kedua teknik ini merupakan teknik-teknik utama. Jenis observasi meliputi; observasi partisipan dan nonpartisipasi.
Observasi Partisipan. Bogdan dan Taylor (1975) mendefinisikan observasi partisipan sebagai suatu periode interaksi sosial yang intensif antara peneliti dan subjek dalam suatu lingkungan tertentu. Pengamat partisipan terlibat sepenuhnya dalam mengalami latar di bawah studi sementara pada waktu yang sama mencoba untuk memahami latar itu melalui pengalaman seseorang, mengobservasi dan wawancara dengan partisipan lain tentang apa yang sedang terjadi (Patton, 1980: 127). Peneliti menenggelamkan diri dalam kehidupan orang-orang dan situasi yang ingin dimengerti; ia berbicara, bergurau, bersatu (empati) dengan subjek, dan ikut menghayati kehidupan serta pengalaman subjek. Dalam pelaksanaannya, observasi partisipan seringkali digunakan bersama teknik wawancara, bahkan juga analisa dokumen.
Observasi nonpartisipasi. Teknik ini dimaksudkan sebagai teknik pengumpulan data tanpa harus melibatkan diri ke dalam situasi dimana peristiwa itu berlangsung, melainkan dengan menggunakan media tertentu (misalnya, elektronika). Penggunaan teknik ini didasarkan pada beberapa alasan; (1) penelitian dilaksanakan oleh orang yang sangat pemalu yang senang melakukan penelitian etnografis, tapi ingin menghindarkan keterlibatan; (2) sering suatu situasi sosial khusus tidak memungkinkan untuk semua partisipasi, sementara memungkinkan untuk mengadakan penelitian.
IX. Analisis Data Penelitian Kualitatif
Pada penelitian kualitatif, analisis data dilakukan melalui pengaturan data secara logis dan sistematis. Analisis data ini dilakukan sejak awal peneliti terjun ke lapangan hingga pada akhir penelitian (pengumpulan data). Pelaku analisis kualitatif adalah peneliti yang sejak awal terjun ke lapangan berinteraksi dengan latar dan orang (subjek) dalam rangka pengumpulan data.
Secara umum, menurut Neuman (2000: 426) bahwa analisis data kualitatif merupakan suatu pencarian pola-pola dalam data, perilaku yang muncul, obyek-obyek, atau badan pengetahuan (a body of knowledge). Sekali suatu pola itu diidentifikasi, pola itu diinterpretasi ke dalam istilah-istilah teori sosial atau latar, dimana teori sosial itu terjadi. Peneliti kualitatif pindah dari deskripsi peristiwa historis atau latar sosial ke interpretasi maknanya yang lebih umum. Analisis data mencakup; menguji, menyortir, mengkategorikan, mengevaluasi, membandingkan, mensintesakan dan merenungkan (contemplating) data yang direkam, dan juga meninjau kembali data mentah dan terekam.
Peneliti kualitatif, selanjutnya menggunakan analisis induktif, yang berarti, bahwa kategori, tema, dan pola berasal dari data. Kategori-kategori yang muncul dari catatan lapangan, dokumen, dan wawancara tidak ditentukan sebelum pengumpulan data.
Prosedur analisis penelitian kualitatif mengacu pada prosedur analisis non-matematik, yang hasil temuannya diperoleh dari data yang dihimpun oleh ragam alat (Strauss, 1990: 18). Menurut Patton (1980: 303) bahwa analisis kasus (kualitatif), meliputi mengorganisir data dengan kasus-kasus spesifik yang memungkinkan studi yang mendalam tentang kasus-kasus ini. Kasus-kasus dapat berupa individual, program, institusi, atau kelompok. Pendekatan studi kasus pada analisis penelitian kualitatif adalah cara yang spesifik untuk menghimpun data, mengorganisir data, dan menganalisa data. Tujuannya adalah untuk menghimpun data yang mendalam, sistematis, komprehensif tentang masing-masing kasus yang diminati.. Kemudian, permulaan penting untuk analisis kasus adalah membuat yakin, bahwa informasi untuk masing-masing kasus selengkap mungkin. Di dalam teknik analisis data penelitian kualitatif, dikenal beberapa teknis analisis; analisis domain, analisis taksonomi, analisis tematik, dan anlisis komponensial.
X. Penutup
Penelitian kualitatif dalam beberapa situasi tertentu, terutama untuk meneliti latar sosial yang kompleks dan menantang, nampaknya relatif lebih relevan. Hasil sebuah penelitian kualitatif akan berbobot sama dengan hasil penelitian kuantitatif, senyampang dijalani dengan sungguh-sungguh (sesuai dengan logika metodologi penelitian kualitatif). Banyak hal penting (untuk tidak mengatakan “rumit”) yang harus dikuasai oleh calon pengguna dan pecinta penelitian kualitatif. Karena itu, semangat menggunakan penelitian kualitatif harus sama besarnya dengan semangat memahami detil-detilnya secara cermat dan lengkap. Tulisan ini sebenarnya tak lebih dimaksudkan sebagai penyulut semangat untuk memburu informasi lebih baik, cermat, dan lengkap tentang penelitian kualitatif, baik lewat media cetak maupun lewat verbal dan pengalaman para pakar.



Baca Selengkapnya ...

0 komentar:

Poskan Komentar