Assalamualaikum

BERTUTUR SEJARAH ISLAM

Published by ridokurnianto under on 20.33
Kelahiran Islam
Islam dilahirkan di jazirah Arab; daerah yang sangat tandus di dunia. Sebagian daerahnya terdiri dari padang pasir, suatu dataran yang sangat luas, sepi, dan tanpa manusia. Di daerah ini Muhammad bin Abdullah dilahirkan pada tahun 570 M. Beliau sangat gelisah dengan dengan situasi kaumnya yang jahil, loba, kejam, berpecah belah, dan jauh dari agama.


Di usianya yang ke 40 tahun 610 M, beliau menerima wahyu Allah dan sekaligus menandai kenabiannya. Saat beliau menyebarkan agama yang dibawanya ke penduduk jazirah Arab, mulailah beliau berhadapan dengan berbagai ancaman, kekerasan, dan penghinaan (disebabkan para manusia jahil tersebut tidak mau agama nenek moyangnya tergantikan oleh Islam). Disebabkan kondisi yang tidak mendukung dakwah ini, tepat pada bulan September 622 M, setelah beliau berpikir tak ada gunanya lagi bersabar di kota Makkah atas kekerasan hati kaumnya, dan kemudian dikuatkan dengan perintah Allah untuk berhiijrah, maka berhijrahlah Rasulullah beserta para sahabat ke kota Yatsrib (sekitar 366 km sebelah utara Makkah) yang saat itu juga diberi nama Madinat ar-Rasul, disingkat Madinah. Hijrah ini merupakan batas pemisah dalam kehidupan Rasulullah dan dalam sejarah agama baru. Hijrah juga merupakan awal persemaian Islam sebagai Agama dan Negara sekaligus. Di kemudian hari, tepatnya di masa pemerintaha Umar bin Khaththab RA, hijrah dijadikan tahun pertama kalender Islam (hijriyah).
Perjalanan dakwah Rasulullah SAW., tak ubahnya yang dialami Nabi/Rasul sebelumnya, yakni sarat dengan tantangan dan hambatan dari kaumnya yang ingkar. Namun perbedaannya dengan apa yang dilakukan Nabi?Rasul sebelumnya adalah pada segi capaian hasil dakwahnya. Dakwh Rasulullah memetik hasil besar tiada tara. Ayat-ayat Al-Qur’an yang diwahyukan Allah dalam bahasa Arab dihafalkan oleh para sahabatnya dengan hafalan yang sangat kuat atau dicatat langsung oleh penulis-penulis wahyu. Kemudian ayat-ayat ini dikumpulkan menjadi satu mushaf. Pengumpulan ini dilakukan dua kali; Pertama, dalam masa pemerintahan khalifah pertama; Abu Bakar Ash-Shiddiq tahun 632 M, dibawah pimpinan Zaid bin Tsabit (salah seorang penulis wahyu dan sahabat besar Nabi); Kedua, dalam masa pemerintahan Utsman bin ‘Affan tahun 650 M, juga dibawah pimpinan Zaid bin Tsabit. Produk penyusunan (kodifikasi) Utsman bin Affan inilah yang kemudian dipakai Muslim sedunia (karena memang motif penyusunan pada waktu itu untuk menyeragamkan bacaan al-Qur’an setelah terjadi perselisihan yang mengarah perpecahan akibat banyaknya model bacaan al-Qur’an yang ada).
Rukun Islam
Nama agama baru yang dibawa Rasulullah adalah Islam yang berarti “penyerahan diri kepada Allah”, sedang nama pengikutnya ; Muslim. Islam adalah agama yang simple dan bersih. Rukun-rukunnya sebagai berikut; (1) Syahadat (pernyataan masuk Islam dengan perkataan: “Asyhadu anal ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”; (2) Mendirikan shalat 5 kali sehari semalam; (3) Mengeluarkan zakat; (4) Puasa pada bulan Ramadhan; dan (5) Naik haji ke Makkah bagi yang mampu.
Keistimewaan Bahasa Arab
Pada tahap pertama Rasulullah SAW tidak mengetahui sesuatu bahasa, kecuali bahasanya sendiri. Maka secara Nature (alami), beliau menggantungkan kepentingan besar pada bahasa itu. Bahasa Arab adalah bahasa yang dipakai dalam penyampaian wahyu pada Nabi Muhammad (hal ini sungguh menakjubkan). Dan karena itu, bahasa Arab menjadi bahas Allah, bahasa wahyu, dan bahasa penduduk surga. Rasulullah karena itu juga mewajibkan membaca al-Qur’an dengan bahasa Arab. Hal ini di kemudian hari menjadikan bahasa Arab ini menjadi satu-atunya bahasa popular di dunia dan salah satu alat fundamental kebudayaan pada jaman pertengahan. Hingga hari inipun bahasa Arab tetap tersebar di penjuru dunia
Sementara itu, bahasa Arab pun juga sangat terbuka untuk menerima bahasa asing (selain bahsa Arab). As-suyuthi (1445-1505) M menggolongkan bahasa asing yang masuk ke dalam al-Qur’an sebanyak sebelas bahasa; Habsi, Persi, Yunani, India, Suryani, Ibrani, Nibti, Qibti, Turki, Zanziah, dan Barbariyah.
Bahasa Arab sejak abad 7 M, dengan keadaannya yang terpencil dari hubungan dunia luar, tetapi saat itu pula telah memiliki banyak kata asing yang masuk ke dalam unsur bahasanya, sungguh merupakan suatu hal yang menarik. Faktor utama penyebab ini sebenarnya justru adanya tradisi dagang yang dilakukan oleh penduduk Arab. Saat itu orang Arab mempunyai hubungan dagang dengan orang-orang Suryani, Persia, dan Habsi. Diantara mereka bahkan ada yang punya perhatian khusus pada agama semisal Muhammad SAW (agama Yahudi dan Nasrani), dimana sering berbincang-bincang dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Bahasa Arab sangat kaya dengan perbendaharaan kata-katanya dan memungkinkan untuk berkembang tanpa habis-habisnya. Di dalamnya terdapat pecahan-pecahan (perubahan-perubahan) kata yang terjalin dengan indah, memudahkan pengadaan kata-kata baru dari asal kata sesuai kebutuhan manusia pemakainya, dengan system tertentu. Contohnya: jalinan dari huruf Sin, Lam, Mim membentuk kata asal Sa Li Ma (selamat), kemudian menjadi kata Sallama (memberi salam), Sa La Ma (berdamai), Aslama (menyerah); Islam (berserah diri kepada Allah), Silm (kedamaian), Salaam (kesejahteraan), Salim (sehat), Tasallama (menerima), Taslim (persetujuan), Istilam (menyentuh hajar aswad dengan bibir atau tangan, ciuman), Sullam (tangga), Muslim (orang yang berserah diri kepada Allah), dan masih banyak lagi. Pecahan-pecahan kata ini berjalan di atas system tertentu, sehingga apabila dijumpai satu kata baru, pembaca dapat memahaminya dari konteks yang mengiringinya (qarinah). Dan karena bahasa ini dipakai sebelum abad ke 7 M (sebelum datangnya Islam), maka seakan-akan ia sudah ditakdirkan sebagai alat penyampai agama, penyebar ilmu pengetahuan di dunia.
Bahasa al-Qur’an
Bahasa Arab dalam pengertian sebagai bahasa Allah, merupakan suatu batasan yang sempurna. Bahwa Rasulullah dengan keadaannya yang buta huruf (ummi) dan dapat menguasai bahasa ini dengan sempurna, adalah merupakan keistimewaan yang luar biasa. Namun juga perlu dicatat, bahwa Rasulullah menguasai bahasa ini, karena anugerah Allah SWT. Lantaran anugerah-Nya pula membuat bahasa Arab elastis hingga sanggup mencatat wahyu Ilahi dengan sempurna, disamping juga sanggup mengekspresikan dengan ungkapan-ungkapan yang indah dan kokoh.
Al-Qur’an, dengan demikian, telah membantu meningkatkan bahasa Arab ke taraf ideal bagi pengungkapan segala maksud. Bukan berarti dengan keistimewaan ini, menghalangi tumbuhnya beraneka ragam dialek, untuk percakapan sehari-hari, lebih-lebih ketika bahasa Arab menjadi alat komunikasi berbagai bangsa. Al-Qur’an telah menjadikan bahasa Arab sebagai alat pengungkap kebutuhan tertinggi kehidupan antar bangsa.
Haji; Alat Pemersatu dan Perjalanan Ilmiah
Kewajiban disampaikan kepada setiap Muslim yang mampu (harta, dan perjalanan) minimal sekali dalam hidupnya. Bagi mereka yang hidup di jazirah Arab, kewajiban ini tidaklah sulit; perjalanan tidak terlalu jauh, disamping mereka sudah sangat akrab dengan iklim yang ada. Tapi tidak demikian bagi mereka yang berasal dari wilayah yang jauh, haji menjadi sesuatu yang cukup rumit dan melelahkan, karena rintangan yang tidak sedikit. Namun demikian, sebanyak dan serumit rintangan yang ada, haji dengan sangat ringan dilakukan oleh kaum beriman, sungguh menakjubkan.
Haji adalah wadah pemersatu umat. Di dalam pelaksanaan haji (yang mirip konggres internasional) kaum Muslim berkumpul membicarakan masalah yang sama; tidak ada beda antara mereka, sekalipun dibedakan dari suku bangsa, warna kulit. Semuanya hanya satu pedoman ummat Islam; hamba Allah yang memiliki harkat sama, kecuali taqwa (ini yang membedakan mereka). Karena itu, melalui wadah haji ini ukhuwah (persatuan) menjadi sangat mudah berlangsung.
Di dalamnya juga terjadi kegiatan ilmu pengetahuan. Di jaman pertengahan, perjalanan haji menjadi perjalanan yang sangat tepat buat menuntut ilmu dan tukar-menukar ulama, seperti yang kita kenal sekarang.
Puasa; Penguji Iman dan Alat pengaturan
Puasa diwajibkan sebulan penuh sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, dan merupakan ujian berat bagi setiap Muslim, khususnya orang-orang Badwi. Ini berarti, puasa menjadi suatu alat yang tepat dan praktis untuk mengukur kedalaman iman di dada seorang Muslim, disamping sebagai penguat keimanan mereka. Musim panas, di jazirah Arab, sudah barang tentu menjadi tantangan terberat bagi para shaim, lebih-lebih bagi mereka yang harus bekerja keras menggunakan fisik untuk mencukupi kebutuhan hidup keseharian mereka. Ketahanan mereka untuk tetap berpuasa, menjadi alat yang sangat efektif menguji keimanan sekaligus mengukur kedalaman keimanan yang mereka miliki itu.


Baca Selengkapnya ...

0 komentar:

Poskan Komentar