Assalamualaikum

BERGANTUNG KEPADA ALLAH MENGGAPAI SEMUA KEINGINAN

Published by ridokurnianto under on 22.22
Konsep penting (dalam Islam) dalam konteks pembelajaran dan pembekalan jiwa adalah tawakkal. Imam Ghazali menyatakan tawakkal sebagai ibadah hati yang paling utama. Bahkan Ibnul Qayyim menyebut tawakkal sebagai separoh agama dan separohnya adalah inabah (penghambaan total kepada-Nya). Dengan posisi ini, Tawakkal menempati peringkat teratas dalam konsep tauhid. Artinya segala sesuatu takkan bisa dicapai dengan sempurna tanpa tawakkal. Ia berhubungan erat dengan segala urusan religius (yang wajib, sunnah, mubah) belum dikatakan sempurna tanpa menyertakan tawakkal di dalamnya. Tawakkal merupakan kewajiban mutlak urusan agama dan kebutuhan duniawi. Tidak cuma diterapkan dalam pencarian rizki (seperti lazimnya kita pahami), tetapi juga harus diterapkan ketika kita melakukan ibadah kepada Allah; ”Iyyaka na’bud wa iyyaka nasta’in”. Oleh karena tawakkal menjadi pilar utama yang harus tertanam dalam jiwa seseorang, maka tanpa tawakkal takkan ada kebahagiaan dan ketenangan hidup. Seseorang akan cenderung menghadapai berbagai problematika kehidupan secara emosional; mudah frustasi, dan berakhir dengan putus asa. Frustasi dan putus asa menjadi pintu berbagai perbuatan dosa. Bahkan syirk juga lahir dari sini.

Memiliki sikap tawakkal memang tidak mudah. Kerumitannya pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW. Kepada seorang sahabat: ”Dari golonganmu ini hanya 70.000 orang saja yang masuk surga tanpa dihisab” sahabat tersebut penasaran: ”Siapa mereka ya Rasul?” Jawab Rasulullah: ”Mereka adalah segolongan orang yang tidak menjampi, mengadu nasib, mengobati luka dengan besi panas, dan mereka yang senantiasa bertawakkal kepada Allah.”
Setidaknya ada 4 keadaan yang menjadi kendala:
(1) Kurang yakin akan kemahakuasaan Allah.
Dr. Yusuf Qardawi, dalam konteks ini memberi ilustrasi: karena percaya pada kekuasaan pemerintah seorang PNS yang mendapat gaji setiap bulan akan menjadi tenang hatinya. Tapi ketika pemerintah kacau, pasti kepercayaan PNS akan menipis, bahkan lenyap. (Dengan ilustrasi itu, beliau ingin mengatakan bahwa orang yang bertawakkal kepada Allah yang Maha Kuasa dan Maha Kaya, takkan goyah kepercayaannya kepada Allah dalam situasi dan kondisi apapun). Keyakinan yang kuat terhadap kemahakuasaan Allah, akan membuat sandaran apapun selain-Nya menjadi tidak berarti.
Ilustrasi berikut mungkin bisa menguatkan pesan di atas. Ketika seorang istri ulama ditinggal mati suaminya, ia ditanya oleh karibnya: ”Nyai, terus darimana engkau dan anak-anakmu bisa makan sepeninggal suamimu ?” Dia menjawab dengan penuh keyakinan: ”Semenjak aku mengenal suamiku, aku senantiasa melihatnya sebagai orang yang makan, dan tidak melihatnya sebagai pemberi rizki. Orang yang bisa makan pasti akan mati, sedang yang memberi rizki takkan pernah mati.”
Al-Allamah Zaruq (dalam ”Tanwir”) bertutur: ”jika engkau merasa perkasa karena Allah maka keperkasaanmu akan abadi. Dan jika engkau merasa perkasa karena selain Allah, maka keperkasaanmu tidak abadi. Sebab yang engkau andalkan itu tiada perkasa.”
Keyakinan itulah, yang membawa seorang eks narapidana memperoleh sesuatu diluar nalar dan akal sehat. Ketika ada audisi memperebutkan seorang putri ulama besar, ia yang sudah taubat disuruh ulama yang menampungnya agar mengikuti kontes akbar tersebut. Yang ada di dirinya saat itu adalah perasaan kaget, minder, dan tidak PD. (sebabnya adalah selama ia melampaui masa-masa bertaubat oleh sang ulama tidak diikutkan dalam majlis taklim bersama para santri yang lain, kecuali shalat berjamaah. Kesehariannya hanya menggembala ternak milik sang ulama. Singkat cerita, dengan berbekal nasihat sang ’alim dan keyakinan penuh akan pertolongan Allah ia berangkat dan mendaftar sebagai kontestan dan keluarlah sebagai pemenang.
Harmoni semu PNS yang terlalu yakin akan pemerintahnya yang mampu memberikan perlindungan dan ketenangan, jelas akan berakhir dengan kekecewaan berkepanjangan, karena yang diandalkannya bukanlah pemberi rizki. Sementara keyakinan mutlak terhadap Sang Khalik yang akan menjamin kelangsungan hidup istri dan para putra sang ’alim, akan berbuah romantisme tawakkal yang sangat mengesankan.
Kondisi kedua adalah kesombongan. Orang yang takjub pada dirinya sendiri akan merasa dirinya memiliki kekuatan, kemampuan, kedudukan, kehormatan, yang tak dimiliki oleh orang lain, dan karenanya ia sangat yakin akan kehebatan dirinya bisa meraih segala yang diinginkan. Watak seperti inilah yang membuat sulit menggapai tawakkal. Ia akan menyandarkan segala sesuatu pada kapasitas dan kemampuan pribadi seraya mengabaikan pihak lain. Lebih jauh, ia merasa tidak membutuhkan Allah dan tidak mau bersandar kepada-Nya. Dalam sejarah umat terdahulu, sikap sombong selalu berakhir dengan kebinasaan. Dan ternyata jauh-jauh sebelum semuanya terjadi Rasul SAW telah mengingatkan kepada umatnya, bahwa sikap sombong termasuk satu perkara yang membinasakan: ”ada tiga perkara yang merusak: kikir yang ditaati, nafsu yang diikuti, dan letakjuban seseorang kepada dirinya sendiri.”
Takjub pada diri merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan harus segera mendapatkan penanganan yang serius. Caranya; dengan mengenal diri sebaik-baiknya; menyadari kelemahan, keterbatasan ilmu seraya menyadari keagungan Sang Khalik yang telah menciptakan semesta dan seluruh isinya, termasuk dirinya. Imam Ghazali pernah menghadiahkan kalimat ejekan kepada para sombong, tuturnya; ”Bagaimana mungkin orang bisa sombong sementara di dalam tubuhnya sedikitnya ada 1,2 kg kotoran yang sangat bau dan menjijikkan.” Benarlah ungkapan bijak salafus shalih : ”Barang siapa mengenal dirinya, tentu ia akan mengenal Rabbnya.”
Sikap ketiga, condong kepada makhluk, yakni mengandalkan kapasitas dan kemampuan makhluk dalam berbagai macam kebutuhan. Fenomena kehidupan sosial masyarakat akhir-akhir ini; banyak pihak yang memberhalakan diri dan banyak pula yang menyembahnya.
Keempat, mabuk dunia. Hamba dunia tak mungkin bisa memurnikan ’ubudiyah (penghambaan), sebab Allah tidak menjadikan seseorang memiliki dua hati dalam jiwanya. Sementara orang yang tak pernah bisa memurnikan ubudiyah nya tak pernah pula bisa bertawakkal dengan sempurna. ”zuyyina li an-nas hubb asy-syahawat min an-nisa wa al-banin wa al-qanathir al-muqantharat min adz-dzahab wa al-fidhdhah wa al-khil al-musawwamah wa al-an’am wa al-harts, dzalika mata’ al-hayat ad-dunya, wa Allah ’indahu husn al-ma’ab.” QS. Ali Imran (3): 14 (Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).
Ketidak yakinan kepada kemahakuasa dan kekayaan Allah, kesombongan, ketergantungan kepada makhluk, dan mabuk dunia menjadi penghalang utama meraih tawakkal karena penyakit-penyakit tersebut memaksa pemiliknya berhati mendua bahkan melalaikan Allah SWT.


Baca Selengkapnya ...

0 komentar:

Poskan Komentar