Assalamualaikum

BELAJAR BERDEMOKRASI BERSAMA RAKYAT

Published by ridokurnianto under on 22.35
Apatisme Berpolitik
Pendidikan pemilih dalam konteks pemilihan calon pemimpin dirasa sangat diperlukan, terlebih jika pemilihan itu hendak memilih calon pemimpin bangsa. Pemilihan calon pemimpin bangsa, dimana di negeri Indonesia dikenal dengan Pemilihan Umum (Pemilu), terbukti telah menghasilkan generasi pemimpin dengan karakter dan kualitas yang beragam. Sayangnya peralihan dari generasi pemimpin yang satu kepada generasi berikutnya, belum menghasilkan pemimpin bangsa yang diharapkan, sekalipun telah melalui proses pemilihan pemimpin yang disebut-sebut berwatak jujur, adil, dan demokratis.


Berdasarkan pengamatan dan beberapa hasil penelitian, menunjukkan bahwa rendahnya kualitas hasil pemilihan umum di Indonesia disebabkan oleh faktor beragam; mulai dari aspek penyelenggara pemilu, partai politik peserta pemilu, sistem dan undang-undang kepemiluan, hingga rakyat itu sendiri. Rendahnya kualitas pemilu dengan bukti rendahnya kapasitas pemimpin bangsa, telah berdampak pada munculnya berbagai persoalan bangsa yang semakin memperumit persoalan pembangunan bangsa dan negeri ini, hingga berujung pada selalu kandasnya cita-cita mewujudkan bangsa dan negeri yang adil, makmur, dan sejahtera. Lebih jauh, kondisi diatas telah menyebabkan sebagian besar rakyat Indosesia menjadi apatis terhadap segala jenis pemilihan pemimpin; pilkades, pilkada, hingga pemilu.
Membangkitkan motivasi dan semangat rakyat yang telah apatis dan bahkan trauma terhadap segala bentuk pemilihan pemimpin, jelas bukanlah pekerjaan yang mudah. Diperlukan beragam strategi dan banyak tahapan dan proses untuk memulihkannya. Satu diantaranya ialah melalui pendidikan pemilih. Mempertimbangkan kompleksnya permasalahan terkait dengan pemilih, pendidikan pemilih jelas memerlukan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut yang benar-benar matang. Apalagi pemilu tahun 2009 yang akan datang yang lekat dengan persoalan-persoalan yang semakin rumit, jelas semakin membutuhkan sikap dan tindak para pemilih yang cerdas dan bertanggungjawab.
JPPR dan Pencerahan Berpolitik
Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) merupakan jaringan 30 lembaga yang terdiri dari organisasi kemasyarakatan di bawah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, LSM, lembaga pendidikan, lembaga antar iman, lembaga kemahasiswaan dan radio, dengan sekretariat nasional di Jakarta. Diantara misinya adalah memberikan dukungan kepada masyarakat luas agar sadar, berpengetahuan dan partisipatif dalam membangun kedaulatan rakyat. Melalui misinya ini JPPR mencoba untuk membangun kedewasaan berpolitik rakyat melalui pendidikan pemilih pra-pemilu 2009 di 10 kabupaten se-Indonesia, dimana salah satunya adalah Kabupaten Ponorogo.
Perjalanan perpolitikan di Indonesia dari waktu ke waktu, dengan berbagai persoalan yang mengiringi, telah memaksa rakyat untuk membuat definisi-definisi terkait demokrasi dan politik. Pencermatan rakyat terhadap semuanya menghasilkan simpulan bahwa demokrasi dan politik di negeri ini adalah “kotor” dan “menjijikkan”. Persepsi negatif mereka tentang demokrasi dan politik kadang memang tidak “fair”, karena suatu waktu mereka juga ikut terlibat di dalam “penodaan” terhadap demokrasi dan politik itu sendiri, misalnya yang paling sederhana adalah masalah “kontrak” politik yang sering mereka bangun dengan partai politik atau bahkan oknum dari partai politik tertentu; “bagi-bagi uang” atau “bagi-bagi hadiah”. Pada gilirannya persoalan beragam dan naïf itu melahirkan berbagai kenyataan mengecewakan atau bahkan menyakitkan yang dirasakan langsung oleh rakyat itu sendiri; “pemerintah yang korup, tidak bermoral, dan tidak memiliki semangat membangun”.
Mengingat negeri ini harus segera mampu mewujudkan kemajuan di segala bidang, kualitas demokrasi dan politik di negeri ini layak jadi prioritas dalam perspektif pembangunan negara-bangsa. Rakyat yang “cerdas” berdemokrasi dan berpolitik berarti menjadi pilar utama menggapai impian besar tersebut.
Bertutur Politik di Forum Warga
Forum warga yang dimaksud adalah kumpulan warga desa atau kelurahan yang sengaja dikumpulkan untuk bersama-sama berbincang tentang demokrasi dan politik dengan bahasa keseharian mereka. Forum ini dibentuk berdasar forum yang telah ada, misalnya; jama’ah yasin-tahlil, kelompok arisan warga, kelompok tani, dan lan sebagainya; sedangkan bagi desa atau kelurahan yang belum ada forum warganya, maka forum warga dibentuk bersama-sama dengan ketua RT/RW lokasi.
Sebagaimana keseharian warga, di forum warga yang telah tersentuh program pendidikan pemilih pra-pemilu JPPR ini, mereka dengan lepas membincang “per-demokrasi-an” ataupun “per-polotik-an” sejauh yang mampu mereka cermati. Permasalahan-permasalahan yang mereka munculkan pun juga cukup “polos” dan “valid”. Polos karena tak ada yang mereka tutup-tutupi; apa adanya menurut yang telah terjadi. Valid karena permasalahan yang muncul merupakan fakta yang mereka lakukan sendiri ataupun yang mampu mereka lihat di sekelilingnya. Pada taraf tertentu, forum warga ini mungkin cukup “menarik” dan karena itu mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan rapatnya para dewan; para wakil rakyat. Bedanya mungkin juga tipis, kalau di forum rapat dewan tidak begitu intens menyoal warga; rakyat, di forum warga sangat intes menyoal dewan.
Kopi dan jajan ala desa (snek) yang menemani diskusi menjadi bumbu keakraban suasana. Kemampuan meng-evaluasi (menilai) terhadap pelaksanaan demokrasi, politik, pemerintahan, dan seterusnya, kadang “mengejutkan” – lucu, apa adanya, tapi berfakta. Begitu juga kemampuan “bermimpi” bagi kemajuan negeri dan bangsa ini ke depan sering “diluar dugaan”- lugu, sederhana, tapi rasional.
Sayangnya, ketulusan dan kepolosan mereka kini telah tersekat oleh kenyataan pahit yang terus-menerus mereka temui dalam kehidupan keseharian mereka. Temuan-temuan bersama tentang demokrasi dan politik di forum warga masih terasa “gamang” untuk dibumikan ke dalam pesta demokrasi di saat-saat berikutnya. Energi dan semangat mereka terasa “habis” ditelan oleh hiruk-pikuk “pesta demokrasi naïf” yang diperagakan oleh para wakilnya.
Semua Bisa Berbagi
Nurani rakyat tetaplah ”nurani rakyat”, yang tetap suci dan tulus. Kekecewaan atau bahkan kebencian yang telah terasa dan tersimpan dalam hati rakyat, tetap akan mudah terbilas oleh ”ketulusan” dan ”kepolosan” para ”pejuang” negeri ini.
Ditengah-tengah situasi apatis, bosan, trauma, dan seterusnya terhadap semua jenis pesta pemilihan pemimpin bangsa, ternyata rakyat tetaplah haus akan pencerahan. Di lapangan, selama forum warga dalam konteks pendidikan pemilih pra-pemilu 2009 berlangsung, mereka terlihat ingin tahu lebih banyak tentang persoalan-persoalan demokrasi dan politik, melebihi kapasitas leaflat (yang mengungkap persoalan-persoalan tersebut) yang sengaja diperuntukkan bagi mereka sebagai bahan diskusi.
Berbagai masukan dan alternatif, yang kadang, tidak sengaja mereka lontarkan, menunjukkan betapa energi dan semangat mereka masih sangat dahsyat untuk menyambut dan mewujudkan negeri dan bangsa yang besar dan berdaulat di kemudian hari.
Persoalannya adalah semua itu butuh ”kepedulian” banyak pihak dan banyak figur. Pihak dan figur yang masih memiliki nurani yang tulus membela kepentingan rakyat melalui pendidikan yang mencerdaskan secara terencana dan berkesinambungan. Dalam konteks ini, semua pihak dan figur bisa berbagi; berbagi semangat, berbagi pengalaman, berbagi ilmu dalam satu kata kunci ”kebersamaan” mewujudkan negeri-bangsa yang berkualitas dan berakhlak karimah dibawah pemerintahan yang amanah.

Baca Selengkapnya ...

0 komentar:

Poskan Komentar