Assalamualaikum

PENCITRAAN PEREMPUAN DALAM KASUS PERUBAHAN PELAKU JATHIL DARI LAKI-LAKI MENJADI PEREMPUAN PADA SENI REYOG PONOROGO

Published by ridokurnianto under on 23.28
Dalam aktifitas seni Reyog Ponorogo, jathil berperanan penting terhadap keberlangsungan seni reyog itu sendiri. Peran utamanya sebagai penari jathil (penari kuda kepang), menyebabkan kesenian ini menjadi hidup, terutama dari aspek estetisnya. Gerakan-gerakan indah serta tarian-tariannya yang lembut, menyuguhkan sajian yang cukup menarik. Dari aspek inilah seni reyog ini tidak jarang memberikan stressing (fokus tekan) pentasnya sebagai inti pertunjukan atau pentas pada penari jathil tersebut. Sesuatu yang menarik dalam kasus perubahan penari jathil menjadi perempuan, bahwa jathil perempuan dari waktu ke waktu telah secara terang-terangan menjadi trend pengembangan seni Reyog Ponorogo, dan telah disambut dengan “tanpa beban” oleh kebanyakan (untuk tidak mengatakan seluruh) konco reyog. Dan yang lebih menarik lagi adalah kemungkinan munculnya resiko psikologis, sosial, maupun fisik yang akan dialami oleh penari jathil perempuan yang kesemuanya mengarah kepada perlakuan diskriminatif dan eksploitatif.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: (1) Ingin mendeskripsikan sejarah jathil dalam kesenian Reyog Ponorogo, baik dalam perspektif klasik maupun kontempoper; (2) Ingin mendeskripsikan konsepsi jathil pada seni Reyog Ponorogo berikut perubahan pelakunya dari laki-laki menjadi perempuan; (3 Ingin mendeskripsikan pencitraan terhadap perempuan dalam kasus perubahan pelaku jathil pada seni Reyog Ponorogo

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, mengacu kepada pemikiran Max Weber yang mengatakan bahwa, pokok penelitian bukanlah kepada gejala-gejala sosial, tetapi lebih menekankan kepada memahami makna-makna yang terkandung dibalik tindakan individu yang mendorong terwujudnya gejala-gejala sosial tersebut (Istibsyaroh, 2004:14). Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif melalui proses induksi-interpretasi-konseptualisasi. Proses analisis dalam penelitian ini telah dimulai sejak peneliti menetapkan fokus permasalahan, dan lokasi penelitian, kemudian menjadi intensif ketika turun ke lapangan. Data dalam catatan lapangan akan dianalisis dengan cara melakukan penghalusan bahan empirik yang masih kasar ke dalam laporan lapangan. Selanjutnya peneliti akan melakukan penyederhanaan data menjadi beberapa unit informasi yang rinci tetapi sudah terfokus dalam ungkapan asli responden (indigenous concept) sebagai penampakan perspektif emiknya. Dengan demikian, laporan lapangan yang detil (induksi) menjadi data yang mudah dipahami, dicarikan makna, sehingga ditemukan pikiran apa yang tersembunyi dibalik cerita responden (interpretasi) dan akhirnya dapat diciptakan suatu konsep (konseptualisasi). Proses analisis akan berjalan melalui kategorisasi atau konseptualisasi data yang terus digali, sambil membandingkan dan mencari hubungan antar konsep sampai melahirkan hipotesis-hipotesis. Proses ini akan bergerak tidak secara linier lagi, tetapi berputar secara interaktif antara satu konsep dengan konsep yang lain, atau antara kategori satu dengan yang lain. Proses ini juga akan bergerak sejak awal pengumpulan data, bekerja secara simultan, semakin kompleks atau rumit, tetapi sekaligus semakin mengarah pada proses munculnya hipotesis dan sampai titik tidak terdapat lagi informasi baru (Hamidi, 2004:80-81)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) Pada awalnya perubahan jathil pada seni Reyog Ponorogo hanya semata untuk memenuhi permintaan pentas dari Jakarta dalam acara Pekan Raya Jakarta, kemudian setelah pentas tersebut jathil perempuan menjadi trend yang diikuti oleh hamper seluruh group Reyog Ponorogo; (2) Pentas jathil perempuan pada acara Pekan Raya Jakarta telah melahirkan konsep tari jathil obyog (pertunjukan tari jathil dengan tarian lepas dalam arti tidak terikat oleh aturan baku tari jathil yang disebut pakem reyog Ponorogo dan sekaligus melahirkan seni pertunjukkan Reyog Ponorogo versi baru yang disebut Reyog Obyog; (3) Pentas jathil perempuan pada seni pertunjukan Reyog obyog telah melahirkan perlakuan tidak adil terhadap kaum perempuan yang mengarah pada perlakuan diskriminatif dan eksploitatif. Bentuk-bentuk perlakuan tidak adil itu, meliputi; pelecehan seksual melalui momentum saweran (kesempatan bagi penonton laki-laki untuk menari bersama sambil memberikan uang dalam jumlah tertentu dengan cara menyentuh bagian tubuh penari jathil) ; pemaksaan tunduk kepada laki-laki melalui tari edreg (penari jathil memberikan hadiah berupa sikap menawan kepada penari barongan dan ganongan setiap usai memperagakan aksinya); pelekatan cap perempuan murahan kepada jathil perempuan disebabkan oleh model dandanan (menor atau lebih menekankan dandanan cantik hingga terkesan sebagai perempuan penggoda; dan bahkan cap pelacur baginya disebabkan pola penjemputan dan pengembalian yang berganti-ganti orang dan dengan waktu yang tidak terjadwal yang terkadang tidak sesuai dengan waktu berkunjung yang dipedomani oleh lingkungan masyarakat tempat tinggal jathil yang bersangkutan, baik saat latihan maupun pentas.
A WOMEN IMAGE IN THE CASE OF JATHIL DANCER CHANGING FROM THE MAN INTO THE WOMEN OF REYOG PONOROGO
In an art activity of Reyog Ponorogo, a jathil has an important role toward the reyog continuity itself. His principal role as the jathil dancer (kuda kepang dancer), causes this art live, especially in the aesthetic aspect. His beautiful movements and his tender dancers show an interesting performance. From this aspect, reyog often gives stressing on its performance as the substance of the show or the case of jathil dancer changing into woman, that a woman jathil from time to time has become a trend of Reyog Ponorogo developing clearly, and it has been welcome by most public (although not all) of reyog collegue without any burden. An is more interesting that is possibity of psychological, social, and physical appearance gotten by the woman jathil dancer that all tend toward the exploitative and discriminative treatment.
This study was conducted with the purposes as: (1) to describe the history of jathil in Reyog Ponorogo, whether in the classical or contemporer perspective; (2) to describe the concept of jathil in Reyog Ponorogo with the changing of is dancer from man into woman; (3) to describe the image of woman in the case of this changing.
It used the approach of qualitative, as it nefers to Max Weber’s theory said that the research principle is not only for social phenomenon, but emphasizes more in understanding the meanings behind the individual actions that push the creation of those phenomenon (Ibtisyaroh, 2004:14). The data analysis technique in this research is qualitative descriptive through induction-interpretation-conceptualisation process. The analysis process has been started since the writer stated the problem focus, and the research location, and then become intensive when he came down in the research field. The research field record would be analyzed by softening the empirical material into the field report. Next, the writer would simplity the data into several detaited in formation unit but it was focused in the original respondent expression (indigenous concept) as the perspective appearance. So that the detailed field report (induction) become the data easily understood, the meaning found to know what thoughts behind the respondent’s story (interpretation) and finally a concept can be created (conceptualism). The analysis process will go on through categorization conceptualism of data that was dug continually while it was compared and the inter concept relation found until it created hypothesis. This process also would move since the beginning of the data collection, worked simultaneously, more complicated, but it also tended toward the process of hypothes creation, come in the point thet there was not more information (Hamidi, 2004:80-871)
That result of the research showed thet: (1) the earlier changing of jathil is only for fulfilling the performance order from Jakarta in Jakarta Fair, and then after the show, the woman jathil became a trend followed by almost all Reyog Ponorogo Group; (2) the woman jathil show in Jakarta Fair has created a concept of jathil obyog dance (the show of jathil with a free dance means it is not depended on the basic rules of jathil called as pakem Reyog Ponorogo) and it also created the art show new version Reyog Ponorogo called Reyog Obyog; (3) the show of woman jathil in Reyog Obyog has creater on unfair treatment toward the woman that tends to a discriminative and exploitative treatment. The unfair treatments include: a sexual harashment in the moment of saweran (the time for the male audience dancing with the dancer and gives the tip by touching the dancer’s body), the forcing to obey the man by edreg dance (the jathil dancer present the gift as charming attitude toward the barongan dancer and ganongan dancer everytime after they finish their dance); the attaching of cheap short toward the woman jathil and it is caused by their gaudy make up so that they look like a seducing woman and even the prostitute stigma caused by the pattern of picking up by different people each time with unfixed schedule that sometime it is not suitable with the visit time of their environment, whether is in a practice time or show time.
Baca Selengkapnya ...

2 komentar:

evan prajongko mengatakan... @ 5 Juni 2016 23.16

Bolehkah saya mendapat jurnal lengkap dari artikel ini Pak?

evan prajongko mengatakan... @ 5 Juni 2016 23.19

Bolehkah saya mendapat jurnal lengkap dari artikel ini Pak?

Poskan Komentar