Assalamualaikum

Taubat Berbuah Rahmat

Published by ridokurnianto under on 18.23
Syahdan di sebuah desa Anu pada jaman X ada eks narapidana yang telah kenyang melakukan tindak kejahatan secara komplit; merampok, memperkosa, membunuh, ingin sekali melakukan taubat. Ia bimbang tidak bisa melakukan keinginannya itu disebabkan beban dosa yang ia rasa sangat berat. Karena itu dengan penuh spekulatif ia mendatangi seorang ‘alim dengan maksud mengkonsultasikan niat taubatnya itu.

Setelah menyampaikan kondisinya kepada sang ‘alim itu, ia bertanya: “Pak Kiai! Akankah taubat saya diterima oleh Allah?” Dengan penuh motivasi positif sang ‘alim menjawab : “pasti ! Allah pasti menerima taubatmu, Dia Maha Penerima Taubat”. Mendapat jawaban positif itu sang eks narapidana merasa semangat hidupnya bangkit, kemudian ia bertanya lagi: “adakah syarat tertentu yang harus saya lakukan untuk melakukan taubat Pak Kiai ?” Sang ‘alim segera menjawab: “ya, ada satu hal saja, kamu mengabdi kepada seorang ‘alim terkenal untuk belajar menjadi hamba Allah yang baik” Setelah ditunjukan seorang ‘alim yang dimaksud oleh sang ‘alim tersebut, ia bergegas menuju tempat sang ’alim sebagaimana petunjuk Pak Kiai.
Setelah menyampaikan seluruh posisi dan keadaan dirinya kepada Sang ‘Alim berikut maksud kedatangannya, sang ‘alim dengan senang hati menerimanya. Tapi sang ‘alim tidak melibatkannya dalam deretan santri yang belajar agama, melainkan ia disuruh sang ‘alim mengurus ternaknya. Seluruh waktunya hanya diisi untuk merumput dan segala hal yang terkait dengan binatang ternak milik sang ‘alim. Ia hanya bergabung dengan para santri pada saat-saat shalat berjamaah.
Suatu hari ia dipanggil sang ‘alim secara khusus. Dalam pertemuannya dengan sang ‘alim itu, ia mendapatkan informasi yang sangat menarik sekaligus sangat mengejutkannya. Oleh sang ‘alim ia disuruh mengikuti kontes jodoh, dimana pemenangnya berhak memperoleh putri seorang ‘alim terkenal. Dalam kebengongannya, ia dikejutkan oleh kata-kata sang ‘alim; “berangkatlah sekarang juga, ini kesempatanmu, kamu pasti bisa!”. Akhirnya, sekalipun perasaannya penuh dengan ketidakyakinan, ia berangkat untuk mengikuti kontes dimaksud.
Begitu sampai di lokasi kontes (di sebuah pesantren besar milik sang ‘alim yang putrinya diperebutkan), telah berjajar antrian panjang para kontestan. Ia semakin minder tatkala mendapat informasi bahwa semua kontestan memiliki latar keagamaan yang sangat kuat; ada kiai, ada ulama, ada hafidz, dan seterusnya. Rasanya ia ingin segera kabur dari tempat itu, andaikan ia tidak ingat pesan sang ‘alim: “kamu pasti bisa!”. Dan pesan sang ‘alim yang terus mengiang di telinganya inilah yang memberikan kekuatan pada dirinya untuk benar-benar mendaftarkan namanya kepada panitia. Ia terbungkam saat melihat kontestan yang namanya terdaftar di atasnya tertulis “hafidz”. Lagi-lagi ia harus abaikan semua perasaan minder dengan dua kata pesan sang ‚alim ”pasti bisa“ .
Dalam kontes ini dipandu 3 juri profesional. Masing-masing kontestan harus menghadapi ujian yang diberikan oleh ketiga juri tersebut. Di tempat duduk antriannya, sang eks narapidana, merasa sangat tertekan, jauh melebihi ketika ia berkali-kali dipenjara dan disiksa di dalam penjara. Dan tibalah giliran namanya dipanggil oleh panitia. Suara panitia yang memanggil namanya terasa halilintar yang menyambar kepalanya; sangat berat ia melangkahkan kakinya menuju kursi dewan juri I. Ia segera mendapatkan pertanyaan sebagaimana kontestan yang lain. Semua pertanyaan dijawab dengan ”asal“ sampai akhirnya datang pertanyaan yang sangat menakutkan; disuruh membaca ayat-ayat al-Qur’an! Ia tidak membacanya, melainkan menangis dan menangis..; sekali lagi dewan juri I menyuruhnya membaca al-Qur’an, lagi-lagi tengisnya semakin meledak. Dewan juri kaget bercampur terkesima: Dalam hati ia bergumam! ”hebat kontestan ini, betapa khusyu’nya dia sampai-sampai belum membaca ayat saja sudah menangis begitu“. Dalam ketakjubannya itu, sang juri I berkata: „ya sudah, saya sudah sangat memahami kamu, kamu lulus ! sekarang silakan untuk menuju ke meja juri ke II.
Di dewan juri II ia segera memperoleh ujian yang sama; disuruh membaca al-Qur’an !. Dan jawabannya juga sama: ”menangis...“. Tanggapan juri ke II juga sama, takjub; dan kemudian menyatakan LULUS ! bagi sang eks narapidana. Akhirnya ia menuju meja juri ke III. Dewan juri ketiga juga merasa takjub dengan kekhusyu’an sang preman, tetapi ia tetap paksa agar ia melantunkan ayat al-Qur’an sekalipun lewat hafalan. Sambil menangis ia bergumam dengan kata-kata tanpa makna; ndak jelas..., dan memang ia mengucapkan kata-kata sekenanya. Lagi-lagi dewan juri III menyambutnya dengan penuh rasa takjub, ia bilang: ”luar biasa!”, orang kalau hatinya sudah penuh dengan kekhusyuan sampai-sampai mbaca al-Qur’an aja tidak jelas ! karena tidak jelasnya sampai-sampai saya belum pernah mendengar ayat-ayat yang dibacanya. Akhir cerita ia juga lolos dari meja juri ke III.
Di luar dugaan, ternyata pemenang kontes perebutan putri seorang ‚alim itu adalah dirinya. Namanya disebut dengan suara lantang sang panitia. Seluruh hadirin bertepuk tangan sangat meriah. Antara percaya dan tidak, antara mimpi dan kenyataan, ia berdiri dan melangkah ke podium seolah tidak menapakkan kakinya di tanah. Sukses!
Ternyata ! sebuah taubat yang lahir dari hati yang paling dalam, dari fitrah seseorang nyata-nyata akan diterima oleh Allah. Sesuatu yang sangat mustahil menurut logika manusia, akan datang kepadanya dengan sangat mudah. ”Yarzuq man yasya’“.

Baca Selengkapnya ...

0 komentar:

Poskan Komentar