Assalamualaikum

MERINTIS SENI REYOG YANG BERSAHABAT; MEWARISI BUDAYA ADILUHUNG

Published by ridokurnianto under on 17.29

Pendahuluan

Kebesaran Reyog Ponorogo secara langsung maupun tidak langsung telah mengangkat Kabupaten Ponorogo mengukir nama harum di tingkat nasional, dan bahkan di tingkat internasional. Kebudayaan yang khas dengan corak kebersahajaan dan keindahan dengan simbol macan (harimau) dan burung merak itu, pada gilirannya menjadi inspirasi seniman atau budayawan pada jamannya, untuk memberikan penguatan-penguatan simbol ke arah penggalian jati diri dan karakter masyarakat Ponorogo. Perpaduan dua jenis karakter yang berlainan itu (harimau dengan karakter buas; ganas, dan burung merak dengan karakter mempesona), menyampaikan pesan yang kuat akan keberanian dan kebersahajaan masyarakat Ponorogo dalam menapaki kebenaran dengan sikap hidup yang serba menarik; indah dan mempesona.

Berkesenian Reyog Ponorogo, dengan demikian, sangatlah penting bahkan menjadi mulia mengingat berbagai pesan agung yang bisa dipetik darinya. Namun, di atas semua itu, memahamkan pesan-pesan mulia ber-Reyog Ponorogo bagi seluruh masyarakat kota Reyog ini, terutama para konco Reyog, ternyata jauh lebih penting, agar penghayatan menjadi konco reyog benar-benar bermakna dan karena itu mampu menebar kebermaknaan hidup bagi bumi reyog tercinta ini. Disinilah yang sering muncul dilema; satu sisi Reyog Ponorogo maju pesat seolah tak terbendung, dengan salah satunya melalui even tahunan Festival Reyog Nasional, dan pada sisi yang lain nilai-nilai hidup mulia yang ditebarkan lewat simbol-simbol Reyog itu, ternyata belum tertanam secara baik di dalam sikap dan kepribadian masyarakat pemiliknya; masyarakat Ponorogo.

Disamping pembumian kepribadian agung yang belum efektif tertanam dalam diri masyarakat Ponorogo, keagungannya mulai terusik oleh ulah beberapa oknum konco Reyog yang berperilaku tidak terpuji (minum arak atau mabuk-mabukan, suka berjudi, suka main perempuan, dan suka pamer kekuatan) dengan mengatas-namakan kesenian adiluhung ini. Karenanya mengembalikan citra luhur Reyog adalah sebuah kewajiban, terutama bagi masyarakat Ponorogo yang memiliki kesempatan dan kemampuan mengawal kesenian adiluhung ini melangkahkan kaki ke depan tetap berada di dalam lintasan lurus penuh hikmah.

Membaca Konteks; Sebuah Strategi Mewarisi Seni Reyog Ponorogo

Reyog Simo Budi Utomo (SBU) yang dirintis oleh anak-anak kampus Universitas Muhammadiyah Ponorogo, mencoba untuk keluar dari kungkungan “tradisi” berseni reyog yang cenderung “stagnan”; seni reyog yang hanya mengedepankan sisi mitis, melalui inovasi dan modifikasi berseni reyog dengan memadukan aspek mitis, ontologis, dan fungsional. Mengacu pada strategi kebudayaan yang ditawarkan oleh Van Peursen.

Dari aspek mitis, seni reyog telah dikreasi oleh sang kreator seni Reyog Ponorogo dengan sangat menakjubkan. Pada jamannya, seni reyog yang telah dinuansai dengan nilai-nilai hidup luhur, terangkum dalam alam filsafat para leluhur melalui simbol-simbol budaya; (1) dadak-merak; paduan harimau-burung merak melambangkan sikap hidup tegas tetapi penuh pesona; (2) penari kuda kepang melambangkan sikap kesatria; (3) pujangganong (tari topeng) melambangkan ketabahan dan kesabaran di dalam menghadapi hidup, dan seterusnya. Dalam keseluruhan seni adiluhung ini terkandung pesan-pesan mulia dari berbagai aspek; filosofis, edukatif, religius, dan estetis.

Dari aspek ontologis, seni Reyog Ponorogo bermaksud keluar dari kungkungan lingkungan. Kekuatan mitis yang disimbolisasikan melalui simbol-simbol seni reyog itu sendiri, tidak lagi menjadi penghalang bagi konco reyog (para pelaku seni Reyog Ponorogo) untuk mengalami dunianya sendiri. Jika pada konteks mitis, seni reyog Ponorogo meyakini alam sebagai daya penggerak kehidupan, maka taraf ontologis ini sudah mengantar seni reyog ke dunia transenden (Sang Pencipta Yang Maha Agung). Seni Reyog sudah dikaitkan dengan dunia spiritual yang lebih tinggi, sekalipun tarafnya masih dalam tataran pencarian hakikat.

Sedangkan dari aspek fungsional, seni Reyog Ponorogo mengupayakan sikap yang relatif aktual dengan kenyataan modern. Sikap mitis, dan ontologis tidak lagi menjadi dasar pijak yang bersifat mutlak, tetapi dipakai landasan/dasar pertimbangan merelevansikan seni reyog dengan konteks jaman (kekinian).

Ber-Seni Reyog Ponorogo; Bertutur tentang Karakter Generasi Berbudi Luhur

Melalui integrasi antara aspek mitis-ontologis-fungsional, seni Reyog Ponorogo yang dikreasi oleh anak-anak kampus UNMUH Ponorogo, diarahkan bisa memberikan pesan pewujudan generasi bangsa yang berbudi luhur melalui simbol-simbol budaya berikut kreasi tari, dengan memanfaatkan penguatan aspek-aspek pesan di atas, yakni filosofis, edukatif, religius, dan estetis.

Langkah pertama, menguatkan citra positif dengan menghilangkan berbagai muatan negatif yang mengiringi perkembangan Reyog Ponorogo, yakni mabuk-mabukan , sesaji, dan marok (sikap sombong). Tahap ini dilalui dengan tujuan utama memberikan bukti nyata kepada masyarakat bahwa ber-seni Reyog Ponorogo tidaklah terkait dengan urusan mabuk-mabukan, sesaji, dan marok. Kekuatan seni Reyog Ponorogo bukanlah karena menjadikan ketiga aspek tersebut sebagai tumpuan pengembangan (selama ini ”kelakuan” tersebut seolah menjadi ideologi pengembangan seni Reyog Ponorogo), melainkan lebih dipicu oleh kekuatan menafsirkan simbol dan kekayaan kreasi tari yang dihasilkan.

Langkah kedua, tetap menjadikan Pakem (pola acuan dasar seni Reyog Ponorogo) sebagai rujukan utama dalam pengembangan kreasi seni Reyog Ponorogo. Sebagai acuan dasar, Pakem Reyog harus tetap dijadikan dasar pengembangan seni Reyog itu sendiri, tetapi bersamaan dengan itu, konteks yang melingkupi seni Reyog (utamanya konteks jaman) harus menjadi pertimbangan utama; jadi pakem Reyog Ponorogo tidak diperlakukan laiknya ”kitab suci”. Karena itu, kreasi seni Reyog yang ditampilkan Simo Budi Utomo menjadi luwes, dalam pengertian bahwa pakem Reyog yang memang ”layak” diadopsi secara mutlak, akan tetap diambil, sementara pakem yang ”tidak layak” akan dirubah atau bahkan diganti. ”Layak” dan ”tidak layak” dalam bahasa SBU adalah dengan mengukurnya dari norma-norma agama Islam. Dalam aspek ini budaya pagan (syirk), yang selama ini banyak terjadi di kalangan konco reyog menjadi pertimbangan penting dan target utama yang harus dihilangkan.



Pentas SBU dalam Festival Reyog Nasional
Langkah ketiga, mensosialisasikan kreasi seni reyog tersebut kepada masyarakat melalui berbagai pentas, seperti permintaan pentas dari orang atau institusi/organisasi, even-even karnaval, dan festival reyog. Prestasi SBU yang telah berhasil menempati 5 (lima) Besar dalam kurun 4 (empat) tahun berturut-turut (tahun 2004-2007) dalam Festival Reyog Nasional yang diselenggarakan di Kabupaten Ponorogo, menjadi bukti yang tidak terbantahkan, bahwa kreasi seni Reyog Ponorogo dengan berbagai modifikasi dan inovasi secara kontekstual dan islami, ternyata tetap mendapat pengakuan dan apresiasi dari masyarakat luas.

Berbagi Tugas

Beratnya mewarisi budaya terletak pada pengawalan pesan-pesan luhur dari leluhur yang ingin diwariskannya kepada generasi penerus, seperti yang dilakukan oleh para pencipta seni Reyog Ponorogo. Pewarisan yang gagal akan berakibat tidak saja seni adiluhung itu ”kosong makna”, tetapi bahkan akan meracuni para penerus bangsa ini salah langkah.

Kenyataan di atas, jelas akan membutuhkan semangat dan kerja keras para generasi kini, agar terus melakukan penafsiran dan pemahaman yang bersifat konstruktif terhadap simbol-simbol dan kreasi tari yang terus lahir dan tercipta mengiringi perjalanan seni Reyog Ponorogo. Penafsiran dan pemahaman itu selanjutnya dijadikan dasar pijak untuk merumuskan strategi ber-Seni Reyog Ponorogo yang tetap sarat pesan dan sarat makna bagi pembangunan negeri dan masyarakat Ponorogo.

SBU dalam hal ini jelas memiliki tugas yang cukup mulia untuk mengajak masyarakat Ponorogo berbagi tugas mengawal seni Reyog Ponorogo tersebut agar tetap lestari dan sarat makna. Beberapa langkah telah dilakukan, diantaranya dengan melakukan pembinaan seni Reyog Ponorogo ke beberapa sekolah dasar melalui kegiatan ekstra kurikuler, disamping juga telah mengembangkan langkah pembinaan kepada beberapa group reyog di wilayah Kabupaten Ponorogo. Namun demikian, percepatan pengembangan nampaknya perlu dipertimbangkan berbagai pihak, mengingat keterbatasan yang melekat pada SBU.

Penutup

Melestarikan budaya lokal, semisal seni Reyog Ponorogo, ternyata tidaklah cukup dengan hanya mewarisi seni tersebut dari generasi ke generasi, dengan apa adanya, tetapi dibutuhkan kecerdasan dan kearifan. Kecerdasan dibutuhkan karena pewarisan seni Reyog membutuhkan pemahaman mendasar dan kontekstual terkait dengan pesan-pesan penuh makna yang akan dikomunikasikan melalui berbagai simbol budaya dan kreasi tari; sementara kearifan dibutuhkan karena seni ini hanya akan bertahan dan lestari melalui tangan orang-orang yang bersemangat dan memiliki kesabaran tinggi. Baca Selengkapnya ...

0 komentar:

Poskan Komentar