Assalamualaikum

MUSLIM MENCIPTA ISLAM

Published by ridokurnianto under on 20.25
Pendahuluan
Hakekat seorang Muslim telah diterangkan dalam banyak hadits, tetapi kita juga berhak menerangkannya kembali, dengan cara yang tidak persis sama. Siapakah dan apakah Muslim itu ? Teks hadits (dalam Riwayat Muslim, misalnya), memberikan jawab; “ialah yang percaya Tuhan, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dn qada’-qadar”; “Ia juga seorang yang menyatakan syahadat, menunaikan shalat, zakat, puasa, haji”. Jawaban pertama berhubungan dengan keimanan dan dikenal dengan rukun iman, sementara jawaban kedua berkait dengan pelaksanaan Islam yang terangkum di dalam rukun Islam.


Islam diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya untuk diyakini dan dijalankan oleh pemeluknya. Pemeluk Islam kemudian disebut Muslim. Islam tanpa Muslim, akan sekedar dokumen tanpa ada yang membaca; ia ada di kamar gelap tak tersentuh dan tak diketahui. Adanya sama dengan tidak adanya (wujuduhu ka’adamihi). Sebagaimana diterangkan dalam teks di atas, eksistensi Islam berada di tangan Muslim; ia yang mepercayai dan sekaligus menjalankan ajarannya. Jadi peran Muslim dalam Islam menjadi sangat penting. Teks Islam akan bermakna dan kemudian akan membentuk amal dalam segala bidang, dimana darinya akan tercipta kehidupan yang islami, manakala Muslim aktif menciptakan dan memaknai Islam.
Menciptakan Islam
Kewajiban seorang Muslim ternyata tidak sekadar mengucapkan kalimat syahadat/tauhid; “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kelanjutan tradisi, budaya, dan kelanggengan ajaran Islam. Para pemeluk Islam (disebut Muslim) itu secara terus-menerus menghasilkan interpretasi Islam dalam kehidupan empiris dan praktis; sekaligus Muslim menciptakan teks-teks (nash-nash) keagamaan. Mereka secara aktif “menciptakan” Islam itu sendiri dengan tiada henti-hentinya. Muslim adalah penghasil dan pencipta “Islam” dan “Islam” dihasilkan dan diciptakan oleh Muslim tiada henti-hentinya.
Bagaimana Islam dimaknai, dihidupkan, dimiliki, dan dihasilkan, sangat kompleks karena model Muslim itu sendiri memaknai Islam juga beragam. Muslim, pada awalnya hanya menempati jazirah Arab dan sekitarnya, dimana Islam itu sendiri terlahir dan pertama kali dijalankan. Beberapa waktu kemudian, Islam masuk ke kawasan benua Afrika sekitar sungai Nil (Mesir dan sekitarnya), Eropa (Spanyol, Grenada), Asia Tengah (China dan beberapa negara bekas soviet), Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, minoritas Filipina, Brunei, dan lain-lain). Sudah sekitar seribu lima ratus tahun, Muslim telah menghasilkan dan memaknai Islam.
Menjadi Muslim berarti menyerahkan diri setelah mempercayai, karena Islam tidak mungkin dilanjutkan tanpa iman. Percaya adalah sesuatu yang gaib, tidak terjangkau oleh pancaindera (mata, telinga, kulit, hidung, dan mulut). Percaya pada Tuhan bukan berarti bahwa seseorang sudah ngobrol dengan Tuhan di warung kopi, dan ia diajak berjabat tangan dengan Dia; tetapi percaya adalah kepercayaan bahwa Dia akan ia mintai pertolongan saat dalam kesulitan. Ketika musibah, kondisi penting, cobaan datang, dan seterusnya menerpa seorang Muslim, maka ia takkan melakukan curhat kepada siapapun, kecuali kepada Allah SWT. Percaya pada Tuhan tidak bisa dilogikakan, sehingga menjadi argumen yang mapan, sekalipun kepercayaan itu masih bisa didialogkan.
Percaya dan menjadi Muslim juga berkait dengan bagaimana seseorang menjadi baik, dan semakin hari semakin baik. Bersamaan dengan terciptanya perbuatan baik itu, pelaku perbuatan baik merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya, sehingga seolah-olah ia melihat Tuhan atau Tuhan melihatnya. Inilah yang kemudian dikenal dalam Islam sebagai 3 pilar ajaran; Iman, Islam, Ihsan.
Tiga kata; Iman, Islam, dan Ihsan itu netral, personal, dan lentur. Aturan yang dibuat, teks yang ditulis, dan diskusi yang membahas ketiganya, bukan berarti menjadi tanda sudah ditemukannya makna ketiganya dan Muslim tinggal melaksanakannya. Tapi semua Muslim masih berjalan memaknai, dan mencari makna, karena banyaknya cara Muslim melaksanakan ketiga kata tersebut. Muslim buruh tani di desa terpencil akan berbeda memaknai ketiga kata tersebut dibanding sesama buruh tani yang berada di pinggiran kota; Muslim yang berprofesi pedagang kaki lima akan berbeda cara memaknai ketiganya dengan Muslim berprofesi pedagang besar; apalagi jika cara mereka memaknai itu dibandingkan dengan Muslim dengan profesi yang berbeda; petani dengan pedagang, pedagang dengan tentara, anggota dewan dengan guru, dan seterusnya.
Aktifis Muhammadiyah, kiai NU, ustadz pesantren, perawat rumah sakit, takmir masjid, organisasi kemahasiswaan (PMII, HMI, IMM, dan sejenisnya), mencoba menerjemahkan Islam dalam konteks mereka masing-masing. Demikian pula; tukang bakso, tukang sate, pecel lele, dan pedagang kaki lima yang lain, aktif atau tidak aktif di Masjid atau Mushalla, juga mempunyai hak tersendiri menterjemahkan Islam menurut konteks mereka sendiri.
Terjemahan, pemaknaan, dan praktik Islam, dengan demikian, menjadi bermacam-macam. Semuanya pada akhirnya akan membentuk suatu tradisi; ada yang memakai kopyah, surban, jas, sarung, jean, jilbab, rambut terurai, dan blankon ala Yogyakarta.
Terlepas dari bagaimana jarak antara yang ada di teks dan kenyataan praktik Muslim di kehidupan nyata, Islam telah diartikan dan didefinisikan sendiri oleh para pemeluknya.
Penutup
Islam tanpa Muslim, tak bermakna, tak terjemahkan, tak terpraktikkan – “wujudh ka ‘adamih”. Islam diciptakan oleh Muslim secara terus-menerus dengan membentuk teks dan tradisi. Muslim menterjemahkan, mengartikan, memaknai, dan mengamalkan Islam; Muslim menciptakan, menghidupkan, menghasilkan, dan mengadakan Islam, dengan berbagai cara. Muslim yang lain pun, juga “menciptakan” Islamnya sendiri-sendiri.


Baca Selengkapnya ...

METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF; SEBUAH PENGANTAR

Published by ridokurnianto under on 20.04
I. Pendahuluan
Ada sementara isu yang menyatakan bahwa seseorang memilih metode kualitatif dalam rencana penelitiannya karena alasan klise, yakni karena ia tidak menguasai statistik. Ini adalah sebuah pandangan yang menempatkan metode kualitatif lebih ringan atau mudah dibanding dengan metode kuantitatif. Andaikan alasan ini benar-benar dipilih oleh seseorang dalam merancang penelitiannya, bisa jadi ia akan terjebak oleh pilihannya itu, karena ternyata penelitian kualitatif tidaklah lebih ringan dibanding dengan penelitian kuantitatif, sekalipun juga tidak bisa dikatakan bahwa penelitian kualitatif lebih berat dibanding dengan penelitian kuantitatif, karena memang penelitian kualitatif ini, sebagaimana penelitian kuantitatif, memiliki kekurangan-kekurangan disamping kelebihan-kelebihan yang ada.


Secara khusus, tulisan ini hendak mendeskripsikan secara singkat tentang hal-hal dasar terkait dengan metodologi penelitian kualitatif. Sekalipun tulisan ini diupayakan mencakup poin-poin penting penelitian kualitatif, tetapi tak lebih hanya bersifat pengenalan awal. Karena itu, sudah barang tentu penjelasan lebih lengkap tidak tercover di dalam tulisan ini.
II. Definisi
Memahami penelitian kualitatif itu penting sebelum peneliti melangkah melakukan penelitian. Beberapa definisi berikut bisa dipakai sebagai dasar memahami penelitian ini.
Menurut Bogdan dan Taylor (1975) metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif; ucapan atau tulisan dan perilaku yang dapat diamati dari orang-orang (subjek) itu sendiri. Pendapat ini langsung menunjukkan latar dan individu-individu dalam latar itu secara keseluruhan, subjek penelitian, secara menyeluruh.
Strauss (1990: 17) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu jenis penelitian yang menghasilkan temuan-temuan yang tidak diperoleh oleh alat-alat prosedur statistik atau alat-alat kuantifikasi lainnya. Pendapat ini langsung menekankan penggunaan non-statistik (matematika), dimana sekaligus menjadi salah satu unsur yang membedakannya dengan penelitian kuantitatif.
Sedangkan Patton (1980: 41) mendefinisikan metode kualitatif adalah untuk memahami fenomena yang sedang terjadi secara natural (alamiah) dalam keadaan-keadaan yang terjadi secara alamiah. Konsep yang dimajukan Patton ini lebih menekankan pentingnya sifat data yang diperoleh oleh penelitian kualitatif, yakni data alamiah.
Tiga definisi tersebut, kiranya cukup untuk mengungkap definisi penelitian kualitatif, sekalipun masih sangat memungkinkan adanya pendapat yang lebih lengkap dan mewakili, dan tidak tertulis dalam tulisan ini. Penelitian kualitatif, dengan demikian, adalah penelitian yang latar penelitiannya berupa konteks alamiah, dimana jenis datanya berupa fenomena-fenomena yang terjadi secara alami (bersifat non-statistik) yang harus diperlakukan secara menyeluruh dan saling terkait antara satu dan lainnya.
III. Karakteristik Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif memiliki sejumlah ciri yang membedakannya dengan penelitian jenis lainnya. Banyak para ahli penelitian kualitatif memaparkan karakteristik penelitian kualitatif, seperti Bogdan, Biklen, Lincoln, Bryman, Maykut, Morehouse, dan lainnya. Berikut ini adalah ciri atau karakteristik penelitian kualitatif yang telah penulis upayakan untuk memadukan sekian banyak versi yang diungkap oleh para pakar tersebut.
Pertama, latar alamiah (natural setting). Penelitian kualitatif melakukan penelitian pada latar alamiah (konteks subjek yang diteliti). Latar alami adalah tempat dimana peneliti paling mungkin untuk menemukan atau mengungkap fenomena yang ingin diketahui (Maykut, 1994: 45). Dalam penelitian kualitatif, peneliti melaksanakan penelitian pada latar atau konteks alami pada keseluruhan yang menggambarkan, bahwa keseluruhan tidak dapat dipahami secara terpisah dari konteksnya. Karena itu, peneliti kualitatif pergi ke lingkungan tertentu yang ditelitinya untuk memahami latar sesuai dengan konteksnya. Melepaskan tindakan, ucapan, atau gerak isyarat dari konteksnya berarti kehilangan makna penting (Bogdan dan Biklen, 1998: 4). Misal, untuk memahami lebih jauh pengalaman mahasiswa sekolah tinggi tentang kehidupan akademis, peneliti masuk ke kelas-kelas, perpustakaan, asrama, persatuan mahasiswa, dan seterusnya untuk mengobservasi dan wawancara. Dengan masuk ke dalam latar seperti itu peneliti akan mengetahui langsung bagaimana perilaku, interaksi, serta pandangan-pandangan tentang kehidupan akademis.
Kedua, Manusia sebagai Alat (human instrument). Dalam penelitian kualitatif, peneliti atau tim peneliti merupakan alat pengumpul data utama. Oleh karena itu, pada waktu mengumpulkan data di lapangan, peneliti berperan serta dalam kegiatan subjek yang diteliti.
Ketiga, Metode-metode kualitatif (qualitative methods). Data penelitian kualitatif seringkali berupa kata-kata dan tindakan-tindakan orang, dan karena itu memerlukan metode yang memungkinkan peneliti untuk menangkap bahasa dan perilaku. Karena itu, penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif, karena beberapa pertimbangan berikut; (1) lebih dapat diadaptasikan berkenaan dengan realita ganda, karena mengekspos secara langsung hakikat dari transaksi peneliti-responden; (2) metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan dengan pengaruh ganda dan pola-pola nilai yang dihadapi.
Keempat, Analisis data secara induktif (inductive analysis). Analisis data secara induktif ini digunakan karena beberapa alasan; (1) lebih dapat menemukan kenyataan-kenyataan ganda dalam data; (2) lebih dapat membuat hubungan peneliti-responden menjadi eksplisit; lebih dapat dikenal, dan lebih dapat dipertanggungjawabkan; (3) lebih dapat menguraikan latar secara penuh; (4) lebih dapat menemukan pengaruh bersama yang mempertajam hubungan-hubungan; (5) dapat memperhitungkan nilai-nilai secara eksplisit sebagai bagian dari struktur analitik.
Kelima, Teori dari dasar (gronded theory). Grounded theory adalah teori yang diperoleh secara induktif dari kajian terhadap fenomena-fenomena yang terjadi; suatu teori yang ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan untuk sementara waktu melalui pengumpulan data secara sistematis dan analisis data mengenai fenomena tersebut. Oleh karena itu, pengumpulan data, analisis, dan teori mempunyai hubungan timbal balik satu sama lain. Seseorang tidak boleh memulai dengan teori, kemudian membuktikannya, tetapi ia harus memulai dengan kawasan kajian dan apa yang relevan pada kawasan tersebut.
Keenam, Sampling purposif (purposive sampling). Peneliti kualitatif lebih cenderung menjauhi sampling acak atau representatif dan lebih memilih sampling purposif, karena alasan berikut; (1) ia dapat meningkatkan ruang lingkup atau peringkat dari data yang diekspos (sampling random atau representatif cenderung lebih menekan kasus-kasus yang menyimpang); (2) dapat memaksimalkan peneliti untuk merencanakan teori mendasar yang memperhitungkan kondisi lokal, pembentukan lokal secara ganda, serta nilai-nilai lokal (untuk memungkinkan dapat ditransfer) (Lincoln dan Guba, 1985: 40)
Ketujuh, Rancangan darurat (emergent design). Peneliti kualitatif membiarkan rancangan penelitian muncul (mengalir, merembes, membentang) dan bukan membentuknya terlebih dahulu (a priori). Hal ini karena; (1) agar banyak realita ganda yang muncul saat penggalian data bisa tercover secara memadai; (2) apa yang akan muncul dari interaksi peneliti-responden tidak bisa diprediksi sebelumnya; (3) peneliti tidak dapat cukup mengetahui pola-pola pembentukan timbal balik yang cenderung eksis; (4) berbagai sistem nilai yang terkait dengan masalah penelitian tidak bisa diprediksi sebelumnya.
Kedelapan, Hasil-hasil yang dirundingkan (negotiated outsomes). Setelah peneliti merumuskan hasil penelitian, selanjutnya hasil penelitian tersebut dirundingkan dengan subjek penelitian, untuk memastikan berbagai data yang dating dari responden dan telah dianalisis itu sesuai dengan kenyataan subjek yang sebenarnya.
Kesembilan, Interpretasi idiografis (idiographic interpretation). Peneliti kualiatif cenderung menginterpretasi data (termasuk menarik kesimpulan) secara ideografis (dalam hal kekhususan dari kasus) bukan secara nomoteris (dalam hal generalisasi seperti hukum), karena interpretasi yang berbeda cenderung bermakna bagi realita yang berbeda.
Kesepuluh, Model laporan studi kasus (case study reporting mode). Hasil penelitian kualitatif cenderung dipresentasikan dalam narasi yang kaya, dan sering mengarah pada studi kasus. Dengan laporan yang panjang, peneliti mempunyai kesempatan untuk memberikan kutipan yang banyak dari data aktual yang memungkinkan partisipan untuk berbicara pada diri mereka sendiri; dalam kata dan tindakan, sehingga lebih bisa memberikan kepada pembaca memahami hasil penelitian secara memadai.
IV. Pemilihan Topik dalam Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif dirancang untuk menemukan apa yang dapat dipelajari tentang beberapa fenomena yang diminati, khususnya fenomena sosial, dimana orang-orang merupakan para partisipan. Mengingat masalah yang ditemukan relatif banyak, maka perlu adanya usaha untuk memfokuskan masalah. Beberapa saran tentang bagaimana memilih topik penelitian dikemukakan oleh Bogdan dan Biklen (1998: 51-52) sebagai berikut; (1) ambil satu penelitian yang ukuran serta tingkat kerumitannya sedang atau cukup, sehingga dapat diselesaikan dalam waktu dan sumber yang ada; (2) pertimbangkan ketrampilan dalam masalah yang akan diteliti; (3) usahakan membatasi jumlah jam kerja dan jumlah halaman data yang harus dilakukan tinjauan ulang; (4) usahakan memperoleh informasi yang terkonsentrasi (tidak terpencar-pencar); (5) usahakan bisa datang ke lokasi penelitian sesering mungkin sekalipun belum memulai rencana penelitian; (6) pilih tempat penelitian yang asing (belum begitu dikenal); (7) menentukan pilihan yang paling disukai.
V. Perumusan Fokus Penelitian
Fokus penelitian dapat dirumuskan mengambil bentuk suatu pernyataan (statement) atau pertanyaan (question) (Maykut, 1994: 64). Kedua bentuk itu sama-sama diperbolehkan, walaupun dalam kenyataannya lebih banyak menggunakan bentuk pertanyaan.
Cara seseorang menanyaan pernyataan ataupun pertanyaan penelitian sangatlah penting, karena akan menentukan pada tingkatan mana metode penelitian digunakan. Pertanyaan-pertanyaan penelitian khusus bagi penelitian kualitatif meliputi; Bagaimana kondisi tertentu atau situasi sosial mulai ?; Bagaimana kondisi/situasi itu bertahan dari waktu ke waktu ? Apa saja proses dimana suatu kondisi/situasi berubah, berkembang, atau berproses ? (Neuman, 2000: 149)
Berikut adalah contoh perumusan fokus (masalah) penelitian;
Pernyataan:
1. Belum diketahui secara empiris tentang tujuan pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo
2. Belum diketahui secara empiris tentang alasan-alasan pelaksanaan pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo
3. Belum diketahui secara empiris strategi pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo
Pertanyaan:
1. Apa tujuan pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo ?
2. Mengapa dilaksanakan pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo?
3. Bagaimana strategi pembinaan penelitian dosen muda UNMUH Ponorogo ?
VI. Perspektif Teoritis dalam Penelitian Kualitatif
Hal penting yang perlu dipahami oleh seorang yang ingin mendalami penelitian kualitatif adalah apa yang disebut dengan orientasi teoritis atau perspektif teoritis. Apa yang dicari oleh peneliti kualitatif, bagaimana ia melakukan penelitian, dan bagaimana ia menafsirkan hasil penelitian, semuanya itu bergantung pada perspektif teoritisnya. Beberapa perspektif teori dalam penelitian kualitatif yang hendak diuraikan berikut ini adalah; fenomenologi, interaksi simbolis, dan etnometodologi.
Fenomenologi
Kalangan fenomenologi memandang bahwa tingkah laku manusia (yang dikatakan dan dilakukan) sebagai produk dari cara manusia tersebut menafsirkan dunianya. Dalam perspektif ini, tugas peneliti kualitatif adalah menangkap proses interpretasi ini. Untuk melakukan hal ini diperlukan apa yang disebut Weber sebagai vestehen (pengertian empatik atau kemampuan untuk mengeluarkan pikiran, perasaan, motif, dan pikiran-pikiran yang ada dibalik tindakan orang lain). Untuk dapat memahami arti tingkah laku seseorang, ahli fenomenologi berusaha memandang sesuatu dari sudut pandang orang lain (Bogdan dan Taylor, 1975)
Penyelidikan fenomenologis bermula dari “diam”. Keadaan “diam” ini merupakan upaya untuk menangkap apa gerangan yang sedang dipelajari. Karena itu yang ditekankan kaum fenomenolog adalah segi subjektif tingkah laku orang. Fenomenolog berusaha untuk bisa masuk ke dalam dunia konseptual subjeks penyelidikannya, agar dapat memahami bagaimana dan apa makna yang disusun subjek tersebut di sekitar kejadian-kejadian dalam kehidupan kesehariannya. Jadi tujuan penyelidikan fenomenologi adalah memahami subjek dari sudut pandang subjek sendiri.
Interaksi Simbolis
Menurut perspektif ini, pengalaman manusia itu diperoleh dengan perantaraan interpretasi. Orang selalu berada dalam proses interpretasi dan definisi sewaktu mereka beralih dari satu situasi ke situasi yang lain. Suatu situasi hanya dapat mempunyai makna lewat interpretasi dan definisi orang mengenai situasi tersebut. Sementara itu, tindakan orang tersebut berasal dari makna ini. Jadi proses interpretasi ini berfungsi sebagai perantara bagi setiap kecenderungan untuk bertindak, disamping juga sebagai tindakan itu sendiri.
Melalui interaksi, individu membentuk makna. Orang-orang di dalam suatu situasi tertentu sering membentuk definisi bersama (berbagi perspektif – meminjam istilah kaum interaksionis simbolis) karena secara teratur berinteraksi dan berbagi pengalaman, masalah, dan latar belakang.
Bagian lain yang penting dalam teori interaksi simbolis adalah konstruk tentang “diri pribadi” (self). Diri pribadi tidak dipandang terletak di dalam individu seperti ego atau kebutuhan, motif, norma-norma atau nilai-nilai yang terinternalisasi. Diri adalah definisi yang diciptakan orang melalui interaksinya dengan orang lain. Dalam membentuk atau mendefinisikan diri, orang berusaha melihat dirinya sebagaimana orang lain melihat dia dengan menafsirkan gerak isyarat dan perbuatan yang ditunjukkan kepadanya dan dengan jalan menempatkan dirinya pada peranan orang lain. Dengan begitu, suatu konstruksi sosial merupakan hasi dari mempersepsi diri sendiri dan kemudian menyusun definisi melalui proses interaksi.
Perspektif ini pada dasarnya menunjuk pada pokok persoalan yang hendak diteliti. Etnometodologi tidak menunjuk kepada metode penelitian, melainkan pada pokok penyelidikan, yaitu cara (metodologi yang digunakan) orang untuk memahami situasi tempat mereka berada. Tugas ahli etnometodologi adalah menyelidiki bagaimana cara orang menerapkan kaidah-kaidah abstrak dan pengertian akal sehat (commonsense understanding) dalam berbagai situasi, sehingga tindakan tersebut kelihatan rutin, dapat diterangkan, dan tidak meragukan. Jadi, etnometodologi adalah studi tentang bagaimana orang-orang menciptakan dan memahami kehidupan sehari-hari mereka; cara mereka menyelesaikan kehidupan sehari-hari.
VII. Data Penelitian Kualitatif
Data penelitian kualitatif adalah apa yang dikatakan oleh orang-orang terhadap seperangkat pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Apa yang dikatakan responden itu bisa diperoleh secara verbal melalui wawancara atau dalam bentuk tertulis melalui analisis dokumen. Patton (1980: 36) mengatakan bahwa pada dasarnya data kualitatif itu terdiri dari petikan-petikan yang berasal dari responden dan deskripsi tentang situasi, peristiwa, dan interaksi.
Data kualitatif adalah data empiris. Data itu termasuk dokumen peristiwa nyata, rekaman apa yang mereka nyatakan (dengan kata-kata, isyarat, nada), observasi perilaku spesifik, studi dokumen tertulis, atau menguji kesan visual. Semua data itu adalah aspek-aspek konkrit suatu dunia. Tidak sebagaimana para peneliti kuantitatif yang mengubah ide atau dunia sosial ke dalam variabel-variabel umum untuk membentuk hipotesis, para peneliti kualitatif meminjam ide-ide dari orang-orang yang mereka studi sesuai dengan konteks atau latar alamiahnya.
Data kualitatif terdiri dari deskripsi situasi, peristiwa, orang, interaksi, dan perilaku terobservasi yang mendetil, pertanyaan-pertanyaan yang terarah, dan orang-orang tentang pengalaman, sikap, kepercayaan, pikiran, kutipan atau seluruh bagian dari dokumen, korespondensi, dan sejarah suatu kasus. Deskripsi mendetil, kutipan langsung, dan dokumentasi kasus dalam penelitian kualitatif merupakan data mentah (raw data) dari dunia empiris. Data itu tidak terbatas pada aspek tertentu, melainkan diperlakukan secara menyeluruh, agar menemukan apa makna kehidupan, pengalaman, dan interaksi mereka bagi dirinya dalam istilah (term) sendiri dan dalam latar budaya mereka sendiri.
VIII. Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif
Secara umum teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif terdiri dari dua jenis, yakni wawancara dan observasi.
Wawancara
Teknik wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang khas bagi penelitian kualitatif. Wawancara adalah sebuah percakapan dengan tujuan. Tujuannya adalah memperoleh bentukan-bentukan disini dan sekarang dari orang, peristiwa, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, klaim, perhatian, dan cantuman lainnya. Ada 2 jenis wawancara, yakni; wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur.
Wawancara terstruktur disebut juga wawancara “terfokus”. Pertanyaan-pertanyaan telah dirumuskan terlebih dahulu, dan responden diharapkan menjawab pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan masalah penelitian. Dalam wawancara terstruktur, pertanyaan ada di tangan pewawancara dan respon terletak pada responden.
Wawancara tidak terstruktur disebut juga wawancara “mendalam”, “klinis”, “elit”, “spesialis”, atau “eksploratori (Lincoln & Guba, 1985: 268). Dalam teknik pengumpulan data model ini, format pertanyaan tidak di standardisasikan, dan pewawancara tidak mencari respon normatif. Wawancara tidak terstruktur berkenaan dengan sudut pandangan individu yang unik, indiosinkratis, dan keseluruhan. Jadi di dalam wawancara model ini pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawabannya diberikan oleh responden.
Observasi
Dalam peneltian kualitatif, teknik observasi biasa digunakan bersamaan dengan teknik wawancara mendalam (deep interview). Kedua teknik ini merupakan teknik-teknik utama. Jenis observasi meliputi; observasi partisipan dan nonpartisipasi.
Observasi Partisipan. Bogdan dan Taylor (1975) mendefinisikan observasi partisipan sebagai suatu periode interaksi sosial yang intensif antara peneliti dan subjek dalam suatu lingkungan tertentu. Pengamat partisipan terlibat sepenuhnya dalam mengalami latar di bawah studi sementara pada waktu yang sama mencoba untuk memahami latar itu melalui pengalaman seseorang, mengobservasi dan wawancara dengan partisipan lain tentang apa yang sedang terjadi (Patton, 1980: 127). Peneliti menenggelamkan diri dalam kehidupan orang-orang dan situasi yang ingin dimengerti; ia berbicara, bergurau, bersatu (empati) dengan subjek, dan ikut menghayati kehidupan serta pengalaman subjek. Dalam pelaksanaannya, observasi partisipan seringkali digunakan bersama teknik wawancara, bahkan juga analisa dokumen.
Observasi nonpartisipasi. Teknik ini dimaksudkan sebagai teknik pengumpulan data tanpa harus melibatkan diri ke dalam situasi dimana peristiwa itu berlangsung, melainkan dengan menggunakan media tertentu (misalnya, elektronika). Penggunaan teknik ini didasarkan pada beberapa alasan; (1) penelitian dilaksanakan oleh orang yang sangat pemalu yang senang melakukan penelitian etnografis, tapi ingin menghindarkan keterlibatan; (2) sering suatu situasi sosial khusus tidak memungkinkan untuk semua partisipasi, sementara memungkinkan untuk mengadakan penelitian.
IX. Analisis Data Penelitian Kualitatif
Pada penelitian kualitatif, analisis data dilakukan melalui pengaturan data secara logis dan sistematis. Analisis data ini dilakukan sejak awal peneliti terjun ke lapangan hingga pada akhir penelitian (pengumpulan data). Pelaku analisis kualitatif adalah peneliti yang sejak awal terjun ke lapangan berinteraksi dengan latar dan orang (subjek) dalam rangka pengumpulan data.
Secara umum, menurut Neuman (2000: 426) bahwa analisis data kualitatif merupakan suatu pencarian pola-pola dalam data, perilaku yang muncul, obyek-obyek, atau badan pengetahuan (a body of knowledge). Sekali suatu pola itu diidentifikasi, pola itu diinterpretasi ke dalam istilah-istilah teori sosial atau latar, dimana teori sosial itu terjadi. Peneliti kualitatif pindah dari deskripsi peristiwa historis atau latar sosial ke interpretasi maknanya yang lebih umum. Analisis data mencakup; menguji, menyortir, mengkategorikan, mengevaluasi, membandingkan, mensintesakan dan merenungkan (contemplating) data yang direkam, dan juga meninjau kembali data mentah dan terekam.
Peneliti kualitatif, selanjutnya menggunakan analisis induktif, yang berarti, bahwa kategori, tema, dan pola berasal dari data. Kategori-kategori yang muncul dari catatan lapangan, dokumen, dan wawancara tidak ditentukan sebelum pengumpulan data.
Prosedur analisis penelitian kualitatif mengacu pada prosedur analisis non-matematik, yang hasil temuannya diperoleh dari data yang dihimpun oleh ragam alat (Strauss, 1990: 18). Menurut Patton (1980: 303) bahwa analisis kasus (kualitatif), meliputi mengorganisir data dengan kasus-kasus spesifik yang memungkinkan studi yang mendalam tentang kasus-kasus ini. Kasus-kasus dapat berupa individual, program, institusi, atau kelompok. Pendekatan studi kasus pada analisis penelitian kualitatif adalah cara yang spesifik untuk menghimpun data, mengorganisir data, dan menganalisa data. Tujuannya adalah untuk menghimpun data yang mendalam, sistematis, komprehensif tentang masing-masing kasus yang diminati.. Kemudian, permulaan penting untuk analisis kasus adalah membuat yakin, bahwa informasi untuk masing-masing kasus selengkap mungkin. Di dalam teknik analisis data penelitian kualitatif, dikenal beberapa teknis analisis; analisis domain, analisis taksonomi, analisis tematik, dan anlisis komponensial.
X. Penutup
Penelitian kualitatif dalam beberapa situasi tertentu, terutama untuk meneliti latar sosial yang kompleks dan menantang, nampaknya relatif lebih relevan. Hasil sebuah penelitian kualitatif akan berbobot sama dengan hasil penelitian kuantitatif, senyampang dijalani dengan sungguh-sungguh (sesuai dengan logika metodologi penelitian kualitatif). Banyak hal penting (untuk tidak mengatakan “rumit”) yang harus dikuasai oleh calon pengguna dan pecinta penelitian kualitatif. Karena itu, semangat menggunakan penelitian kualitatif harus sama besarnya dengan semangat memahami detil-detilnya secara cermat dan lengkap. Tulisan ini sebenarnya tak lebih dimaksudkan sebagai penyulut semangat untuk memburu informasi lebih baik, cermat, dan lengkap tentang penelitian kualitatif, baik lewat media cetak maupun lewat verbal dan pengalaman para pakar.



Baca Selengkapnya ...

MEMETIK HARUM UMUR KEDUA

Published by ridokurnianto under on 19.42
Ma’asyir al-Muslimin rahimakum Allah !
Alhamdulillah…, mari kesyukuran tulus kita munajatkan kehadirat Allah SWT., kita berharap besar hanya kepada Allah SWT., mudah-mudahan di tahun beru 1430 H dan 2009 M ini, kita berada dalam kelompok hamba Allah yang senantiasa beriman dan bertakwa dengan penuh istiqamah, agar Allah dengan Kasih-Nya menurunkan barakah-Nya kepada kita, kepada negeri ini, barakah dari langit dan bumi, sebagaimana janji-Nya dalam QS. Al-A’raf: 96:
“Sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah Aku akan mencurahkan barakah kepada mereka dari langit dan bumi.”
Kata Rasulullah SAW :
“Ada dua perkara yang tidak bisa diungguli keutamaannya oleh yang lain, yaitu; iman kepada Allah, dan memberi manfaat kepada sesama Muslim).”


Ma’asyir al-Muslimin rahimakum Allah!
Ahli sastra Arab Mesir; Syauki Beik, mengatakan: “Beramallah sebelum datangnya kematian dengan sebutan yang baik. Seseungguhnya sebutan yang baik bagi manusia (setelah meninggal dunia) adalah umur yang kedua.”
Umur di dunia bersifat faniyah (tidak kekal, berakhir). Kehidupan di dunia, seperti diriwayatkan Imam Ahmad, bagaikan seorang pengendara berjalan pada suatu hari yang panas. Ia berlindung dibawah sebatang pohon sesaat, kemudian berjalan lagi dan meninggalkannya. Dunia ini timbul-kemudian tenggelam-lalu tidak akan muncul lagi.
Sedangkan umur di akhirat bersifat baqiyah (kekal, tiada berakhir). Orang yang sealu beramal shalih di dunia dengan ikhlas, umurnya akan berlanjut sampai ke akhirat dengan kebahagiaan. Tapi, siapa yang mati tanpa amal, maka ia bagaikan naik kapal tanpa membawa bekal. Akhirat akan muncul-dan akan terus muncul tanpa berakhir.
Ma’asyir al-Muslimin rahimakum Allah!
Pergantian tahun mengingatkan kita akan pentingnya waktu. Kebanyakan kita lalai terhadap harta milik kita yang paling berharga, yakni waktu itu.
Padahal, setiap yang hilang dapat dikembalikan kecuali waktu. Bila waktu telah hilang tak dapat diharapkan bisa kembali lagi. Karenanya, begitu kita lalai akan harta milik paling berharga itu, sebenarnya kita juga telah kehilangan akal sehat. Orang yang berpikir sehat, tentu akan menyambut kedatangan waktu selama hari-hari hidupnya dengan kegairahan, sebagaimana orang kikir yang kedatangan harta berlimpah ruah, dan takkan membuang hartanya, sekecil apapun.
Pada saat kita teringat hidup kita, kemudian menoleh ke belakang sejenak untuk mengingat-ingat kembali awal perjalanan hidup kita di dunia, lalu menghitung-hitung apa saja yang pernah kita alami hari demi hari, tahun demi tahun, maka kita rasakan seolah-olah hanya sehari, dimana didalamnya penuh dengan berbagai macam kejadian yang datang susul-menyusul. Seperti ini pula yang akan kita rasakan di saat kita menghadapi perhitungan di hari kiamat kelak, sebagaimana Allah gambarkan di dalam firman-Nya;
“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka. (Pada hari itu mereka merasa) seakan-akan tidak pernah tinggal (di dunia), kecuali sesaat saja di siang hari (untuk) saling berkenalan.” QS. Yunus: 45
Di dalam QS. Thaha: 103-104 Dia berfirman:
“Mereka berbisik-bisik : “Kamu tinggal (di dunia) hanya sepuluh hari.” Kami lebih mengetahui apa yang mereka bicarakan ketika seorang yang paling lurus jalannya di antara mereka berkata: “Kalian tinggal (di dunia) hanyalah sehari.”
Sementara di QS. An-Nazi’at: 46 Allah gambarkan kehidupan dunia itu dengan firman-Nya:
“Di saat melihat hari kebangkitan itu, mereka merasa seakan-akan tinggal (di dunia) hanya semalam atau (sesaat) di pagi hari.”
Perasaan yang digambarkan Allah SWT di dalam ayat-ayat di atas, sekaligus merupakan tamparan keras bagi orang-orang yang menghayalkan hidup abadi di dunia; orang-orang yang menghabiskan waktu hidupnya di muka bumi Allah ini hanya untuk mondar-mandir; mengukir karya dan prestasi tanpa makna alias sia-sia; manusia yang hidup berkeliaran di muka bumi tanpa manfaat; yang bisa dipetik maupun ditebarkan, hingga saat dua pelupuk matanya tertutup memasuki lorong kegelapan maut. Saat itulah ia baru sadar dan terperanjat; menyesal dan amat menyesal, tetapi apalah artinya, waktu telah lewat.
Waktu yang kita lalui hanyalah berjalan sekali saja; hanya sekali lewat dan selanjutnya takkan pernah bisa kembali lagi. Saat kita di hari x tanggal sekian, jam sekian, bulan dan tahun anu, berarti hanya sekali itulah kita berada di dalam hari x, tanggal sekian, jam sekian, bulan dan tahun anu; dan kita takkan pernah bisa kembali lagi; kembali ke dalam waktu yang telah lewat itu. Subhanallah ! ternyata kita pun termasuk orang yang sering melalaikan nikmat Allah yang amat sangat mahal ini.
Ma’asyir al-Muslimin rahimakum Allah!
Manusia pada hakikatnya berjalan sangat sepat menuju kepada Allah. Setiap putaran falak yang melahirkan hari baru, tidak lain, hanyalah tahap perjalanan yang tiada henti-hentinya. Adalah suatu penipuan terhadap diri sendiri, jika manusia merasa berhenti, sedangkan waktu berjalan terus, sebagaimana penglihatan menipu orang yang sedang duduk di dalam kereta api; ia melihat keluar dan semua yang tampak lari cepat, sedangkan ia merasa (di dalam kereta itu) seolah tidak bergerak. Padahal kenyataan; yang sebenarnya terjadi adalah kereta api itu yang lari; waktu itulah yang terus berjalan dan membawa manusia kepada hari depan yang akan dialaminya.
Sekali lagi, waktu ternyata memang berjalan sangat cepat. Perjalanan waktu sebenarnya sama saja antara dulu dan sekarang, Yang membedakan hanyalah rasa; rasanya waktu ini hari demi hari semakin cepat. Dan ini (perasaan waktu berjalan semakin cepat itu) , kata Rasulullah, menjadi salah satu tanda kiamat sudah sangat dekat. Dan, begitulah memang, hari-hari ini, kita sebenarnya telah berada di ujung akhir perjalanan dunia ini.
Manusia hidup di dunia ini memang benar-benar unik dan aneh; mereka banyak melupakan takdir Ilahi yang senantiasa menyertainya. Mereka lengah, padahal setiap gerak dan perbuatan yang dilakukannya, betapapun kecilnya, tak ada yang lepas dari perhitungan Rabb Yang Maha Tinggi;
“Pada hari mereka semua akan dibangkitkan Allah, lalu mereka diberi tahu apa saja yang telah mereka perbuat. Allah telah menghitung semua perbuatan itu, sedangkan mereka melupakannya. Dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu. QS. Al-Mujadalah: 6
Ma’asyir al-Muslimin rahimakum Allah!
Islam adalah agama yang menetapkan betapa besarnya nilai waktu dan betapa besar arti pentingnya waktu. Penghargaan Islam terhadap waktu yang begitu besar, membawa para Muslim generasi awal secara cermat dan sangat hati-hati memanfaatkan waktu hidup mereka untuk berkarya nyata dengan penuh kesungguhan dan ketulusan.
Dari lisan mereka ada tutur kata arif yang bisa kita rujuk untuk mensikapi hidup kita: “waktu ibarat pedang, bila ia tidak engkau patahkan, maka engkau akan dipatahkan olehnya”. Berkaitan dengan hal ini, Allah SWT menorehkan tanda emas bagi hamba-Nya yang menyadari arti penting waktu, kemudian menetapi diri mengikuti jejak waktu itu dengan karya dan prestasi bermakna; Allah memberi tanda kepada para hamba yang cerdas itu, dengan stempel keimanan dan ketakwaan. Allah tegaskan hal ini di dalam firman-Nya;
“Sesungguhnya di dalam pertukaran malam dan siang dan di dalam semua ciptaan Allah di langit dan di bumi terdapat tnada-tanda kekuasaan-nya bagi orang-orang yang bertakwa.” QS. Yunus: 6
Islam membagi bentuk-bentuk ibadah yang besar menurut pembagian waktu sehari-hari dan sepanjang tahun. Shalat fardhu lima kali sehari, misalnya, mencakup seluruh bagian-bagian waktu dalam sehari, dan waktu-waktu ibadah shalat itu sendiri pun mengikuti jalannya hari. Yang sudah pasti, menurut syari’at Islam, bahwa Jibril AS., atas perintah Allah SWT turun untuk meresmikan batas-batas permulaan waktu setiap hari berikut batas-batas penghabisannya, untuk dijadikan aturan tetap dan cermat bagi kehidupan secara Islam, dan diukur dengan menit-menit mulai fajar menyingsing hingga hilangnya sinar merah (syafaq) di ufuk barat, yakni mulai permulaan waktu shalat shubuh hingga penghabisan shalat maghrib.
“Maha suci Allah saat kalian berada di petang hari dan saat kalian berada di pagi hari. Dan bagi-Nya segala puji di langit dan di bumi, saat kalian berada di malam hari dan saat kalian di tengah (siang) hari.” QS. Ar-Rum: 17-18
Orang-orang yang berpikir pendek, mengenal waktu hanya dari bekas-bekas peninggalannya yang terbatas dan gejala-gejalanya yang tampak. Karena itu, orang bertipe seperti inilah yang sering melupakan kehidupannya di akhirat kelak; dan karena itu pula ia membenamkan dirinya dalam kehidupan dunia; ia tenggelam dan terkubur oleh hiruk-pikuk kemaksiatan dan kemunkaran yang terus mengalir dan mengalir terus, seperti banjir bandang; tak terbendung lagi.
Tak ada iman; apalagi takwa, yang sempat nyantol di dalam jiwanya. Hidupnya gelap laiknya orang yang menapaki sebuah labirin (lorong) yang pengap dan gelap; semakin jauh ia berjalan; semakin habis waktu hidupnya di tapaki, semakin gelap dan kegelapan yang ia temukan. Dan pada akhirnya, ia akan benar-benar terlempar di dalam lorong kehidupan yang gelap dan menyesakkan.
Ma’asyir al-Muslimin rahimakum Allah!
Mari kita sambut tahun baru Hijriyyah 1430 dan tahun baru Masehi 2009, dengan penuh iman; juga dengan takwa yang semakin kokoh dan suci; dalam rangka menangkal tantangan iman yang juga semakin dahsyat ini. Mari kita jadikan pesan Rasulullah SAW. berikut sebagai pegangan;
“Jangan sekali-kali kalian menjadi pembeo (manut grubyuk), orang yang menyatakan: “Aku mengikuti orang lain”. Jika orang lain berbuat baik, maka aku juga akan berbuat baik, dan jika orang lain berbuat jahat, maka aku juga akan berbuat jahat. Seyogyanya kalian bisa menempatkan atau memposisikan diri dengan baik; “Jika orang lain berbuat baik, maka seyogyanya kalian juga berbuat baik, dan jika orang lain berbuat jehat, maka seyogyanya kalian menjauhi perbuatan jahat tersebut.” HR. Thirmidzi.
Mari kita pastikan, bahwa kita termasuk orang-orang yang muflih (beruntung), dan bukan orang yang khasir (merugi) atau bahkan orang yang halik (hancur hidupnya);
(“Hari ini; di dunia ini, amal perbuatan itu belum dihisab, tetapi di hari nanti; di akhirat kelak, hanya ada hisab dan tidak ada lagi kesempatan untuk beramal.”)
Mari kita pastikan bahwa di tahun ini kita menyosok menjadi orang yang cerdas, mampu menghitung diri dengan cermat, dan mampu memanen keuntungan yang sebesar-besarnya dihadapan Allah SWT.



Baca Selengkapnya ...

Taubat Berbuah Rahmat

Published by ridokurnianto under on 18.23
Syahdan di sebuah desa Anu pada jaman X ada eks narapidana yang telah kenyang melakukan tindak kejahatan secara komplit; merampok, memperkosa, membunuh, ingin sekali melakukan taubat. Ia bimbang tidak bisa melakukan keinginannya itu disebabkan beban dosa yang ia rasa sangat berat. Karena itu dengan penuh spekulatif ia mendatangi seorang ‘alim dengan maksud mengkonsultasikan niat taubatnya itu.

Setelah menyampaikan kondisinya kepada sang ‘alim itu, ia bertanya: “Pak Kiai! Akankah taubat saya diterima oleh Allah?” Dengan penuh motivasi positif sang ‘alim menjawab : “pasti ! Allah pasti menerima taubatmu, Dia Maha Penerima Taubat”. Mendapat jawaban positif itu sang eks narapidana merasa semangat hidupnya bangkit, kemudian ia bertanya lagi: “adakah syarat tertentu yang harus saya lakukan untuk melakukan taubat Pak Kiai ?” Sang ‘alim segera menjawab: “ya, ada satu hal saja, kamu mengabdi kepada seorang ‘alim terkenal untuk belajar menjadi hamba Allah yang baik” Setelah ditunjukan seorang ‘alim yang dimaksud oleh sang ‘alim tersebut, ia bergegas menuju tempat sang ’alim sebagaimana petunjuk Pak Kiai.
Setelah menyampaikan seluruh posisi dan keadaan dirinya kepada Sang ‘Alim berikut maksud kedatangannya, sang ‘alim dengan senang hati menerimanya. Tapi sang ‘alim tidak melibatkannya dalam deretan santri yang belajar agama, melainkan ia disuruh sang ‘alim mengurus ternaknya. Seluruh waktunya hanya diisi untuk merumput dan segala hal yang terkait dengan binatang ternak milik sang ‘alim. Ia hanya bergabung dengan para santri pada saat-saat shalat berjamaah.
Suatu hari ia dipanggil sang ‘alim secara khusus. Dalam pertemuannya dengan sang ‘alim itu, ia mendapatkan informasi yang sangat menarik sekaligus sangat mengejutkannya. Oleh sang ‘alim ia disuruh mengikuti kontes jodoh, dimana pemenangnya berhak memperoleh putri seorang ‘alim terkenal. Dalam kebengongannya, ia dikejutkan oleh kata-kata sang ‘alim; “berangkatlah sekarang juga, ini kesempatanmu, kamu pasti bisa!”. Akhirnya, sekalipun perasaannya penuh dengan ketidakyakinan, ia berangkat untuk mengikuti kontes dimaksud.
Begitu sampai di lokasi kontes (di sebuah pesantren besar milik sang ‘alim yang putrinya diperebutkan), telah berjajar antrian panjang para kontestan. Ia semakin minder tatkala mendapat informasi bahwa semua kontestan memiliki latar keagamaan yang sangat kuat; ada kiai, ada ulama, ada hafidz, dan seterusnya. Rasanya ia ingin segera kabur dari tempat itu, andaikan ia tidak ingat pesan sang ‘alim: “kamu pasti bisa!”. Dan pesan sang ‘alim yang terus mengiang di telinganya inilah yang memberikan kekuatan pada dirinya untuk benar-benar mendaftarkan namanya kepada panitia. Ia terbungkam saat melihat kontestan yang namanya terdaftar di atasnya tertulis “hafidz”. Lagi-lagi ia harus abaikan semua perasaan minder dengan dua kata pesan sang ‚alim ”pasti bisa“ .
Dalam kontes ini dipandu 3 juri profesional. Masing-masing kontestan harus menghadapi ujian yang diberikan oleh ketiga juri tersebut. Di tempat duduk antriannya, sang eks narapidana, merasa sangat tertekan, jauh melebihi ketika ia berkali-kali dipenjara dan disiksa di dalam penjara. Dan tibalah giliran namanya dipanggil oleh panitia. Suara panitia yang memanggil namanya terasa halilintar yang menyambar kepalanya; sangat berat ia melangkahkan kakinya menuju kursi dewan juri I. Ia segera mendapatkan pertanyaan sebagaimana kontestan yang lain. Semua pertanyaan dijawab dengan ”asal“ sampai akhirnya datang pertanyaan yang sangat menakutkan; disuruh membaca ayat-ayat al-Qur’an! Ia tidak membacanya, melainkan menangis dan menangis..; sekali lagi dewan juri I menyuruhnya membaca al-Qur’an, lagi-lagi tengisnya semakin meledak. Dewan juri kaget bercampur terkesima: Dalam hati ia bergumam! ”hebat kontestan ini, betapa khusyu’nya dia sampai-sampai belum membaca ayat saja sudah menangis begitu“. Dalam ketakjubannya itu, sang juri I berkata: „ya sudah, saya sudah sangat memahami kamu, kamu lulus ! sekarang silakan untuk menuju ke meja juri ke II.
Di dewan juri II ia segera memperoleh ujian yang sama; disuruh membaca al-Qur’an !. Dan jawabannya juga sama: ”menangis...“. Tanggapan juri ke II juga sama, takjub; dan kemudian menyatakan LULUS ! bagi sang eks narapidana. Akhirnya ia menuju meja juri ke III. Dewan juri ketiga juga merasa takjub dengan kekhusyu’an sang preman, tetapi ia tetap paksa agar ia melantunkan ayat al-Qur’an sekalipun lewat hafalan. Sambil menangis ia bergumam dengan kata-kata tanpa makna; ndak jelas..., dan memang ia mengucapkan kata-kata sekenanya. Lagi-lagi dewan juri III menyambutnya dengan penuh rasa takjub, ia bilang: ”luar biasa!”, orang kalau hatinya sudah penuh dengan kekhusyuan sampai-sampai mbaca al-Qur’an aja tidak jelas ! karena tidak jelasnya sampai-sampai saya belum pernah mendengar ayat-ayat yang dibacanya. Akhir cerita ia juga lolos dari meja juri ke III.
Di luar dugaan, ternyata pemenang kontes perebutan putri seorang ‚alim itu adalah dirinya. Namanya disebut dengan suara lantang sang panitia. Seluruh hadirin bertepuk tangan sangat meriah. Antara percaya dan tidak, antara mimpi dan kenyataan, ia berdiri dan melangkah ke podium seolah tidak menapakkan kakinya di tanah. Sukses!
Ternyata ! sebuah taubat yang lahir dari hati yang paling dalam, dari fitrah seseorang nyata-nyata akan diterima oleh Allah. Sesuatu yang sangat mustahil menurut logika manusia, akan datang kepadanya dengan sangat mudah. ”Yarzuq man yasya’“.

Baca Selengkapnya ...

PARA PERAIH BINTANG KEHIDUPAN

Published by ridokurnianto under on 23.06
Alhamdu li Allah Rabb al-‘Alamin, as-shalat wa as-salam ‘ala Rasulih al-karim, Muhammadin an-Nabiyy al-ummy wa ‘ala alih wa Sabih ajma’in. Asyhadu an la ilah illa Allah wahdah la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduh wa rasuluh. Allahumma shally wa sallim wabarik ‘ala Muhammad wa ‘ala alih wa ash habih ajma’in. Amma ba’d. Fa ya ikhwan al-kiram ! Ittaq Allah haqqa tuqatih wa la tamutunna illa wa antum muslimun.
Ma’asyir al-Muslimin !
Alhamdulillah, marilah kesyukuran yang tulus kita munajatkan kepada Allah SWT., semoga kita menjadi hamba-Nya yang terpilih sebagai kelompok orang yang menempati posisi terpuji di sisi Allah SWT. Semangat yang terus berkobar untuk menjadi hamba-Nya yang taat, mudah-mudahan terus terlahir dari buah kesyukuran yang tulus itu. Karena itu, melalui mimbar jum’at yang penuh barakah Allah ini, marilah kita semakin menguatkan dan meyakinkan diri kita masing-masing, bahwa ketaatan demi ketaatan kepada Allah yang kita rajut melalui mimbar jum’at di rumah Allah ini, akan membuahkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah menjadi semakin kokoh, sehingga andaikan Allah berkenan mencatat seluruh ketaatan yang kita lakukan, ketaatan-ketaatan itu akan mengantar kita menjadi pemenang kehidupan di sisi Allah SWT.
Ma’asyir al-Muslimin !

Akhir dari sebuah perjalanan hidup manusia di dunia ini hanya ada dua kemungkinan; mungkin menang dan mungkin kalah. Orang-orang yang tergolong pada kelompok pemenang kehidupan, sudah pasti-jaminan-akan beroleh kesejahteraan dan kebahagiaan hidup hingga di negeri akhirat. Demikian juga, orang-orang yang tergolong kelompok para kalah; kalah dalam kehidupan, sudah dipastikan akan beroleh penderitaan hidup hingga di negeri akhirat.
Jalan hidup yang harus di lalui oleh dua kelompok manusia itu; para pemenang dan para kalah dalam kehidupan ini; juga sudah sangat jelas; jalan lurus (sirath al-mustakim) untuk para pemenang, dan jalan kesesatan (sirath adh-dhalalat) untuk para kalah.
Ma’asyir al-Muslimin !
Untuk meraih kemengan dalam kehidupan itu, ternyata tidaklah mudah, karena posisi ini menuntut para pemenang tersebut untuk bekerja keras; tiada henti berkarya dan berprestasi dengan penuh ketulusan dan keikhlasan.
Allah SWT., memberikan juklak kepada para pemenang kehidupan itu, melalui firman-Nya di dalam QS. Al-Hajj: 77:
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’ kamu sekalian, sujud, dan sembahlah Tuhanmu, serta berbuat baiklah kamu, agar kamu sekalian menjadi pemenang”
Jadi, ruku’, sujud, beribadah, dan beramal shalih, itu merupakan sarana untuk meraih predikat para pemenang kehidupan. Semua itu, jelas membutuhkan semangat tinggi, kerja keras; lahir dan batin.
Ayat di atas, juga mengandung pelajaran dan petunjuk tentang pentingnya kaum beriman untuk memulai karya agung tersebut dengan intilaqan; mulai dari dirinya sendiri, memulai berkarya dan berprestasi unggul, berdasar potensi dan kekuatan diri yang telah diberikan Allah SWT sejak dari lahir.
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kesanggupan atau kemampuanmu.” QS. At-Taghabun: 16
Ma’asyir al-Muslimin !
Secara hakiki, dengan demikian, hak kemenangan hidup, hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Firman Allah, agar orang-orang beriman melakukan ruku’, sujud, beribadah, dan beramal shalih, menunjukkan kekhususan makna kemenangan itu. Artinya; hanya orang-orang yang beriman dengan sempurna saja, yang sanggup dan mampu menerima dan menjalankan perintah Allah tersebut; hanya mereka saja yang mampu melakukan ruku’, sujud, beribadah, dan beramal shalih.
Namun, harus diingat, bahwa di dalam semangat menjadi pemenang kehidupan itu; kaum beriman juga harus selalu waspada terhadap para musuh (orang-orang kafir), yang tiada berhenti mencari kesempatan yang baik untuk menghancurkan kaum beriman.
Dan, bersamaan dengan itu, sebenarnya musuh yang paling besar, justru berada di dalam dirinya sendiri, musuh yang berada di dalam diri mereka sendiri, terutama terkait dengan kondisi hati yang bolak-balik, kondisi hati yang labil. Dalam hal ini para ulama menyatakan;
“Iman itu bertambah karena taat, dan berkurang karena maksiat”
Oleh karena itu, menjaga keimanan di dalam dada, merupakan proyek terbesar bagi kaum beriman, agar keimanan yang telah tertanam di dalam dadanya itu bisa terawat dengan baik; bertumbuh dan berkembang setiap saat ke arah kualitas yang lebih baik.
Kondisi keimanan yang naik-turun, dan tuntutan bagi kaum beriman untuk menjaga dan merawat nya inilah yang menyebabkan Rasulullah SAW, berpesan kepada kita untuk senantiasa waspada dalam menghadapi dan menjalani seluruh aspek hidup dan kehidupan ini. Karena itu pula Rasul SAW., mengajarkan kepada kita agar selalu memohon pertolongan kepada Allah SWT., agar kita selalu dilindungi oleh-Nya dari segala macam malapetaka, terutama bencana terbesar; yakni tercabutnya keimanan dari dalam diri kita. Rasul SAW., juga berpesan agar kita selalu berdo’a di setiap kita memulai hari:
“Ya Rabb, kami memohon agar Engkau melindungi kami dari mendhalimi orang dan di dhalimi orang; dari menyesatkan orang dan disesatkan orang; dari menggelincirkan orang dan digelincirkan orang; dari membodohkan orang dan dibodohi orang; dari menghina orang dan dihinakan orang.”
Ma’asyir al-Muslimin !
Makna do’a tersebut, cukuplah menunjukkan pesan amat tegas, bahwa orang yang sanggup menahan diri dari berbuat; dhalim, sesat, pembodohan, penghinaan, merupakan hamba Allah yang selalu dekat dengan pesona Kasih dan Sayang Allah SWT.
Orang-orang dengan model demikian itu, bisa kita lihat cirri-cirinya dengan sangat jelas di dalam pribadi para ulama dan para shalih di setiap generasi Muslim; mulai jaman sahabat hingga jaman sekarang.
Para ‘alim dan para shalih itu telah mampu meraih bintang kehidupan, meraih sukses hidup dengan gemilang, melalui; ruku’, sujud, beribadah, dan beramal shalih, di setiap waktu dan kesempatan hidupnya.
Orang-orang unggul ini tak pernah bosan untuk memanfaatkan waktu hidupnya dengan sebaik-baiknya; mereka tiada bosan memanfaatkan waktu malamnya (yang banyak orang memanfaatkannya untuk istirahat dan tidur) untuk bermunajat; barasyik-maksyuk di dalam kesyahduan tahajjud. Di dalam kesyahduan cinta tulusnya kepada Rabb al-‘Izzat itulah mereka benar-benar merasakan guyuran rahmat dari Allah SWT., hingga dirinya berasa terbang ke langit; berada di dalam posisi tempat terpuji disisi Allah Yang Tinggi.
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyanglah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” QS. Al-Isra’ (17): 79
Ma’asyir al-Muslimin !
Aktifitas ruku’ dan sujud yang dilakukannya dengan penuh khusu’ dan khudhu’ itu senantiasa mengobarkan semangat di dalam seluruh hari yang dilaluinya; untuk meraih kemenangan terbesar di medan pertempuran; memenangkan kehidupan di kedua negeri; dunia dan akhirat.
Orang-orang tersebut, benar-benar telah siap menghadapi kehidupan yang memang sarat dengan rintangan dan hambatan, sekaligus siap keluar sebagai pemenangnya.
Orang-orang yang memperoleh kemenangan di dalam kehidupan ini, adalah orang-orang yang dari pesona pribadinya senantiasa mengeluarkan emas, sekalipun mereka hidup di tengah-tengah kehidupan yang penuh dengan aroma bangkai kemaksiatan dan kemunkaran; seperti jaman yang saat ini kita menghadapinya ini.
Kemanfaatan…dan kemanfaatan, selalu memancar dari hidup dan kehidupannya, dan sudah tak terhitung lagi, orang-orang yang telah merasakan pesona anggun pribadinya; sampai-sampai orang-orang yang pernah berbuat dzalim kepada para shalih itu, merasa amat takjub, setelah melihat, bahwa setiap perbuatan dzalim yang ia lakukan tak terbalas dengan kedzaliman, melainkan malah dibalas dengan kebaikan dan kemanfaatan.
Para ‘alim dan para shalih itu, barangkali sangat pas sebagai subyek ilustratif dari tausyhiyat bijak Allahu yarham ; Hasan al-Banna;
“Jadilah kamu seperti pohon buah; manusia melemparinya dengan batu, tetapi pohon buah itu malah membalasnya dengan memberikan buahnya yang manis dan penuh manfaat.”
Subhanallah !
Juga dengan cahaya bijaknya itu, membuat bumi dimanapun ia berpijak, penuh dengan curahan barakah Allah SWT. Kemanfaatan…kemanfaatan…dan kemanfaatan…itulah yang senantiasa akan dilakukan oleh para alim dan para shalih; para peraih bintang kehidupan itu, hingga kematian menjemputnya dengan membawa kendaraan khusnil khatimah.
Mudah-mudahan Allah SWT., senantiasa memberikan petunjuk-Nya kepada kita sekalian dan kepada seluruh kaum beriman di semesta ini; baik mereka yang sudh mendahului kita maupun kita yang akan menyusul mereka; Mudah-mudahan kita akan bertemu di dalam kehidupan akhirat sebagai pemenang kehidupan disisi Allah SWT.
“Barak Allah li wa lakum fi al-Qur’an al-‘Adzim, wa nafa’any wa iyyakum bima fih min al-ayaty wa adzikr al-hakim wa taqabbal minny wa minkum tilawatah innahu huw as-sami’ al’alim. Wa qur Rabb ighfir wa ar-ham wa anta khair ar-rahimin.”


Baca Selengkapnya ...

ABRAR & FUJJAR; PILIHAN HIDUP MANUSIA

Published by ridokurnianto under on 22.17
Alhamduli Allah nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh, wa na’udzubi Allah min sururi anfusina wa sayyi’aty a’malina man yahdi Allahu fahuw al-muhtady wa man yudhlil fa lan tajida lahu waliyy am-mursyida. Asyhadu an-la ilaha illa Allah wahdahu la syarika lah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma fa shally wa sallim ‘ala Muhammadin wa ‘ala alihi wa ash habihi ajma’in. Amma ba’d. Fay a ikhwan al-kiram, ittaq Allah haqqa tuqatih wa la tamutunna illa wa antum muslimun.
Ma’asyir al-Muslimin !
Allah SWT berfirman di dalam QS. Al-Infithar: 13-14:
”Sesungguhnya orang-orang yang thaat (kepada Allah) berada di dalam surga yang penuh ni’mat, dan sesungguhnya orang-orang yang ingkar (kepada Allah) berada dalam neraka yang penuh siksa yang mengerikan“.
Secara tegas Allah SWT membagi kelompok manusia dalam dua jenis; kelompok taat dan kelompok ingkar. Bagi dua kelompok ini, pula, Allah telah mengabarkan dengan sangat jelas terkait dengan konsekuensi yang bakal diterima; bagi kelompok taat akan beroleh surga-Nya dan bagi kelompok ingkar akan beroleh neraka-Nya. Ketentuan surga dan neraka itu, ternyata tidak terbatas hanya di kehidupan akhirat, tetapi meliputi dan menyebar ke dalam seluruh proses kehidupan yang mengiringi manusia sebelum mereka benar-benar berada dalam alam akhirat. Konsekuensi pilihan hidup tersebut akan menyebar; (1) di alam dunia; (2) di alam transisi setelah kematian dan masa tunggu kiamat, yakni di alam barzakh; dan (3) puncaknya di alam akhirat yang abadi.
Di dalam kitab Al-Jawab al-Kafi, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, menulis keterangan ini: ”Kaliyan jangan mengira, bahwa apa yang dikatakan Allah di dalam QS. Al-Infithar: 13-14 itu hanya terbatas dan berlaku hanya di kehidupan akhirat saja, tetapi ketentuan itu berlaku di tiga alam; alam dunia, alam barzakh, dan alam akhirat.”

Ma’asyira al-Muslimin !
Surga Allah yang diterima oleh orang-orang yang taat dan neraka-Nya yang ditimpakan kepada orang-orang yang ingkar, lebih berorienasi kepada rasa; rasa hati, rasa jiwa. Orang-orang taat senantiasa akan merasakan kedamaian hati, ketentraman jiwa di semua alam kehidupan. Sementara, orang-orang ingkar akan senantiasa merasakan kecemasan hati, suasana jiwa yang selalu tertekan, juga di semua alam kehidupan. Tidak bisa merasakan nikmatnya hidup di alam dunia, melebihi orang-orang yang taat kepada Allah SWT. Rasulullah SAW memang pernah bersabda:
“Dunia itu menjadi penjara bagi orang-orang beriman dan menjadi surga bagi orang-orang kafir.” (HR. Muslim)
Hadis ini tidaklah berarti, bahwa orang-orang yang taat kepada Allah, akan memperoleh kehidupan yang menderita, disebabkan hidupnya yang lekat dengan kekurangan dan kemiskinan. Dan karena itu pula, tidak perlu disikapi dengan sikap hidup fatalis. Kanjeng Rasul SAW telah memberikan bukti dan contoh riil, sikap hidup yang mesti ditampilkan oleh kaum beriman; orang-orang yang taat kepada Allah SWT., sebagaimana dipaparkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab “Fath al-Barr” Syarah Shahih Bukhari ;
“Suatu hari, dengan memakai busana yang layak (untuk tidak mengatakan mewah), Rasulullah mengendarai seekor baghal (sejenis kuda berukuran kecil) yang tergolong gagah. Di tengah perjalanan, Beliau berpapasan dengan seorang Yahudi penjual minyak samin. Pakaian yang dikenakan kelihatan berlepotan minyak, kumuh, kotor, hingga kelihatan hidupnya sangat susah diderita kemelaratan. Si Yahudi itu nampaknya penasaran dengan gaya hidup Rasulullah yang barusan ia temui di tengah perjalanan, lantas ketika ia ketemu Ibnu Hajar, ia ungkapkan rasa penasarannya itu: Ia bertanya kepada Ibu Hajar: “Apa tidak keliru apa yang dikatakan oleh Nabimu, bahwa dunia itu penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir? Kenapa saya yang kafir tidak menemui surga tetapi malah sengsara seperti yang tuan lihat ini, sementara tuan yang termasuk orang beriman bisa hidup makmur, memiliki harta benda yang cukup untuk hidup enak di dunia ini ?
Pertanyaan dan kegelisahan tukang minyak itu dijawab dengan sangat jelas oleh Ibnu Hajar: “seenak-enaknya hidupku di dunia ini, tetaplah menjadi penjara bagiku, apabila dibandingkan dengan kenikmatan yang disediakan oleh Allah untuk orang-orang beriman di akhirat kelak, sebabnya adalah karena kenikmatan dunia sama sekali tidak sebanding dengan kenikmatan akhirat. Kata Rasulullah: “Sungguh, tempat cemeti di surga itu lebih baik dan indah dibandingkan dengan dunia dan isinya”. Sementara kamu, wahai Yahudi ! (lanjut Ibnu Hajar), “sesengsara-sengsaranya hidupmu di dunia ini, itu sudah layaknya surga jika dibandingkan dengan beratnya siksaan Allah yang telah dijanjikan untukmu nanti jika kamu mati dalam keadaan kafir”.
Ma’asyir al-Muslimin !
Mendengar jawaban dan penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani, tukang minyak samin yang kafir itu merinding (sangking takutnya), ia bergumam di dalam hati:”jika surgaku saja sudah seperti ini, terus seperti apa nerakaku di akherat nanti“. Akhirnya ia melakukan ikrar syahadat; ”Asyhadu an la ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad ar-Rasul Allah” , ia masuk Islam dengan penuh ketulusan.
Jadi, makna penjara bagi kaum beriman ketika hidup di dunia – ”ad-dunya sjn al-mukmin”- adalah karena mukmin terhalang untuk melampiaskan nafsunya, melampiaskan syahwatnya di tempat-tempat yang diharamkan Allah SWT. Disamping itu, orang-orang beriman, juga dibebani untuk menunaikan ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Jelas, orang-orang yang ingkar, akan memandang dan merasakan bahwa pengekangan nafsu dan pembebanan ketaatan yang diperuntukkan bagi kaum beriman itu, akan menjadi sebuah kesengsaraan dan penderitaan, atau bahkan penyiksaan. Tetapi tidak demikian apa yang dirasakan kaum beriman, justru didalam pengendalian nafsu dan syahwat dan ketundukannya kepada Allah itulah, kelezatan hidup menyertai kaum beriman. Betapa tidak, orang-orang beriman itu telah mampu menempatkan diri dan hidupnya di dalam kerangka fitrahnya sebagai manusia yang suci dan taat kepada Sang Rabb semesta ini. Dan harapan keberuntungan abadi akan menjemputnya, setelah ia kembali kepada Allah SWT.; segala ketaatan yang telah dilakukan kaum beriman di alam dunia, akan diganti oleh-Nya dengan kenikmatan yang kekal, kebahagiaan yang tiada habis;
Ma’asyir al-Muslimin !
Yang perlu kita pahami dengan sebaik-baiknya adalah, bahwa ketika kaum beriman tidak bebas melakukan perbuatan sesuka hatinya; menurut keinginan nafsu dan syahwat liarnya, bukan berarti hatinya terbebani, menderita dan tersiksa. Tak ada kebahagiaan melebihi apa yang dirasakan kaum beriman. Begitu nikmat rasanya, saat kita tengah bermunajat, berdialog dengan Allah SWT di dalam shalat, di keheningan tahajjud, di dalam lantunan suci zikr Allah, kebahagiaan yang menyebar di setiap amal shalih yang dilakukannya.
Itulah sebabnya, saat Allahu Yarham Ibnu Taimiyah dijeblosaken ke dalam penjara oleh pemerintahan kafir, dengan penuh suka cita, beliau menyatakan: “Apa yang dilakukan oleh para kafir kepadaku, yang mereka kira siksa untukku, malah menjadi surga bagiku. Jika aku dipenjara, bagiku itu menjadi sarana untuk berkhalwah (kesempatan untuk mendekat dan lebih dekat kepada Allah, dengan tidak lagi terganggu oleh kesibukan dan keramaian), kalau aku di usir, itu berarti tamasya di surga-Nya, dan ketika aku dibunuh, berarti itu syahid bagiku.”
Ma’asyir al-Muslimin !
Logika dari pernyataan Ibnu Taimiyyah, sangat bisa dimaklumi, ketika kita pakai dalam perspektif keimanan, sebab, sekali lagi, kenikmatan yang hakiki sebenarnya bertempat di dalam hati, dan sangat beda dengan kenikmatan atau kesenangan yang sifatnya nisbi (tidak kekal, berlaku sesaat), seperti; lezatnya makanan, nikmatnya berzina, segarnya khamr, dimana kalau itu sudah berlalu, sudah sama sekali tidak bisa dirasakan kelezatan dan kebahagiaannya.
Sementara, nikmat hati yang dirasakan kaum beriman, akan dirasakan terus-menerus tiada batas, baik ketika sesuatu itu masih di niatkan, kemudiaan akan semakin kuat saat sesuatu yang diniatkan itu dilakukan, dan akan semakin dahsyat saat perasaan bahagia itu terukir dan memberikan pengaruhnya ke dalam seluruh hidup dan kehidupannya. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah; “Di dunia ini ada surga, siapa yang tidak bisa masuk ke dalam surga itu, maka ia takkan pernah bisa masuk ke dalam surga yang kedua (surga Allah di akhirat).”
Itulah nikmat dunia yang diperuntukkan bagi kaum taat, sebelum mereka menerima kenikmatan akhirat; kenikmatan tiada tara, kenikmatan yang tak pernah terbayangkan disebabkan bobot nikmatnya yang serba luar biasa; diluar akal dan apapun yang ditemui oleh manusia selama kehidupan di dunia; sementara di dalam kenikmatan tiada di surga Allah ini akan terjadi dan dirasakan kaum beriman, kaum taat, dengan tanpa batasan waktu; kekal abadi di dalamnya; “khalidan, khalidan fiha.”
Ma’asyir al-Muslimin !
Jika sekiranya ada orang yang mengira bahwa di dalam kehidupan yang bebas, kehidupan berfoya-foya, kehidupan yang melanggar aturan Allah, aturan agama Islam; itu penuh kenikmatan ; pastilah pandangan ini sangat keliru, salah total !
Siapapun yang mencintai sesuatu selain Allah, berbuat sesuatu bukan karena Allah, mencari kenikmatan di jalan selain jalan Allah, sebenarnya yang terjadi adalah: mereka tersiksa dengan semua yang dilakukannya itu; ia tersiksa di kehidupan dunia ini; hatinya tiada henti merasa gelisah, cemas, sebelum dirinya mendapat siksaan yang lebih mengerikan di alam barzakh dan terlebih di alam akhirat kelak.
Ma’asyir al-Muslimin !
Jangan sampai kita tertipu oleh penampilan orang, jangan sampai terkecoh dengan gaya hidup seseorang, yang sebenarnya secara batini sangat berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi. Jangan sampai kita terkecoh oleh gelak tawa dan kehidupan bebas para ingkar di dalam melampiaskan nafsu dan syahwatnya. Karena yang terjadi sebenarnya, para jago maksiat itu, tengah berada di dalam perjuangan yang penuh dengan siksaan dan penderitaan batin. Mereka tengah menghadapi dan mengalami siksaan Allah 3 lapis yang bertubi-tubi menghampiri dan menimpanya; semakin waktu semakin siksaan itu terasa menyakitkan dan mengerikan:
(1)saat para ingkar itu tengah berjuang mencari kenikmatan hingga ia berhasil menemukan apa yang mereka cari, maka saat itu juga sebenarnya mereka merasakan hatinya remuk, menahan tekanan batin yang menyesakkan dada. Betapa tidak, begitu ia temukan satu keingkaran, saat itu juga noda hitam telah terukir di hatinya “al-itsm ma haka fi shadrik”- “dosa (kata Rasulullah) adalah sesuatu yang menyebabkan dadamu (hatimu) menjadi cemas, menjadi tertekan.”
(2)Para pezina, para pemabuk, para pencuri, dan para penentang kethaatan kepada Allah, sebenarnya tidak lain adalah orang-orang yang kebingungan mencari kenikmatan, dan bukan orang-orang yang bisa merasakan kenikmatan. Jadi, dengan demikian, bisa dipahami, bahwa, kalaulah Allah membiarkan para duraka itu berhasil mendapatkan kenikmatan yang mereka buru, maka bersamaan itu pula, dalam hitungan detik, keberhasilan itu akan berubah menjadi perasaan cemas dan takut; kecemasan dan ketakutan yang sangat hebat. Para ingkar itu mengalami tekanan batin yang sangat hebat, yang disebut “hamm”- sebuah perasaan ketakutan yang berlebihan, akan kehilangan kenikmatan sesaat itu, dan yang jelas, mereka akan merasakan ketakutan tiada terperi akan memetik aksi ingkarnya dihadapan Allah SWT di yaum al-akhirat.
(3)Para duraka itu akan mengalami apa yang disebut “huzn” – “kesedihan” yang tiada batas akhirnya; sedih karena kehilangan kenikmatan, dan itu pasti terjadi karena sebab yang sangat pasti; kemungkinan (1) kenikmatan itu akan hilang karena direbut oleh orang lain, dan kemungkinan (2) yang jelas kenikmatan itu akan hilang karena ditelan oleh kematian yang menjemputnya. Padahal, tiada kesedihan paling mengerikan, kecuali menghadapi pedihnya neraka jahim di akhirat. “naudzu billah min ndzalik.”
Ma’asyir al-Muslimin !
Mudah-mudahan kita dijauhkan dari hati yang ingkar kepada Allah SWT., dalam bentuk apapun dan sekecil apapun. Mari kita senantiasa memohon kepada Allah SWT (bersamaan dengan ketaatan yang kita jaga), mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita; sehingga ketaatan kita kepada-Nya akan berbuah manis; kita memperoleh surga-Nya baik di dunia, di alam barzakh, dan terutama alam akhirat nanti; “rabbana atina fi al-dunya hasanah wa fi alakhirat hasanat wa qina ‘adzabg an-nar.”
Barak Allah ly wa alkum fi al-Qur’an al-‘Adhim wa nafa’any wa iyyakum bima fih min al-ayat wa adz-dzikr al-hakim wa taqabbal minny wa minkum tilawatah innahu huw as-Sami’ al’Alim. Wa qul Rabby ighfir wa arham wa anta khair ar-rahimin.
Baca Selengkapnya ...

KEJUJURAN

Published by ridokurnianto under on 21.23
Alhamdul Allah Rabb al-‘alamin, as-shalat wa as-salam ‘ala rasulih al-karim wa ‘ala alihi wa ash habihi ajma’in.Asyhadu an-la ilaha illa Allah wahdahu la syarika lah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shally wa sallim ‘ala Muhammadin wa ‘ala alihi wa a sh habihi ajma’in Wa ba’d. Fa ya ‘ibad Allah ushiny wa iyyakum bi at-taqw Allah wa tha’atih la’allakum tuflihun.
Ma’asyir al-Muslimin !
Alhamdulillah, mari kita munajatkan kesyukuran yang tulus kehadirat Allah SWT., atas semua rahmat yang telah Allah curahkan kepada kita, seraya berharap kepada-Nya agar kita dijadikan hamba-Nya yang pandai mensyukuri nikmat dan karena itu Allah jadikan hati kita semakin dekat kepada Allah, semakin peka untuk menerima hidayah-Nya; mampu dengan mudah menangkap kebajikan dengan segala jenis dan bentuknya sekaligus merasa ringan dan tulus mengamalkannya; kita juga mampu menangkap keburukan, kejelekan dengan segala jenis dan bentuknya sekaligus mampu menahan dan menjauhinya.

Ma’asyir al-Muslimin !
Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu masuk golongan orang-rang yang jujur” (QS. At-Taubah (9): 119)
Ketika menginjak dewasa, Muhyidin Abdul Qadir al-Jilani (seorang anak muda yang nantinya tumbuh menjadi seorang ulama dan tokoh sufi besar dunia), dikirim oleh orang tuanya ke negeri Bagdad (Irak) untuk keperluan thalabul ilmi, menempuh pendidikan tinggi di Madrasah Nizamiyah, beliau berangkat bersamaan dengan rombongan kafilah dagang. Dalam perjalanan rombongan kafilah itu dicegat oleh begal. Satu per-satu anggota rombongan dirampas harta benda yang dibawanya. Dan ketika sampai giliran anak muda yang oleh ibunya hanya dibekali dengan bekal seadanya itu, para garong itu tidak menemukaken sesuatu apapun, kecuali hanya peralatan tidur serta beberapa pakaian kumal.
Apakah kamu membawa sesuatu? Pertanyaan seorang begundal dengan galak. ”ya,betul tuan, aku membawa uang sebesar 40 dinar”, jawab sang pemuda. Tetapi saat para begal itu melakukan penggeledahan di dalam peralatan tidur dan pakaian kumal tersebut, dia tidak menemukan apapun. Para begal yakin bahwa anak tersebut hanyalah seorang anak miskin yang sombong. Karena itu para begal meninggalkannya, dan seterusnya mereka menggeledah harta benda milik anggota rombongan yang lain.
Singkatnya, setelah para begal sudah selesai merampas semua harta milik para kafilah, kawanan begal tersebut melapor kepada pimpinan gengnya, ihwal pemuda miskin yang dinilai berlagak kaya dan sombong tersebut. Pimpinan geng nampaknya sangat tertarik dengan cerita itu hingga akhirnya minta kepada seorang anak buahnya untuk membawa sang pemuda yang menurut penilaiannya unik tersebut untuk menghadap padanya.
Begitu berada didepannya, pimpinan begal langsung bertanya: ”Hei,anak muda! Katanya kamu mempunyai uang sebesar 40 dinar ?” , Dengan begitu tenangnya sang pemuda menjawab: Ya, benar tuan!, ”kalau benar coba tunjukkan kepadaku !” Pemimpin garong membentak-bentak nampak tidak sabar. Sang pemuda kemudian mengoyak bagian bajunya terus mengeluarkan uang sebesar 40 dinar (persis seperti yang dia sampaikan) yang memang disimpan dibalik bajunya. Para begal termangu, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Begitupun sang pemimpin begal, dengan dipenuhi sejuta rasa heran dan takjub, dia bertanya: ”kenapa kamu tunjukkan harta bendamu yng sangat berharga bagi hidupmu?” Toh, andaikan kamu tidak menunjukkannya padaku, aku juga tak akan curiga”.,
Ma’asyir al-Muslimin !
Sang pemuda menanggapi pertanyaan tersebut dengan sangat enteng: ”Betul tuan, Cuma aku takkan pernah bisa melupakan nasehat ibuku (ya, orang tuaku yang telah memberikan bekal uang 40 dinar ini dan beliau jahitkan dibalik bajuku ini tadi demi keamanan), beliau berpesan begini; ”anakku! Sekali-kali jangan sampai kamu berdusta kepada siapapun.”
Allahu Akbar!
Pemimpin begal, seolah-olah mendapatkan tamparan keras, menerima smash telak mendengar keterangan yang begitu jujur dan polos dari sang pemuda itu. Bukan kemarahan, bukan emosi yang terjadi pada diri sang begal, melainkan keharuan yang begitu dalam. Pemimpin begal yang kejam dan bengis tersebut menangis, tidak kuasa menahan haru yang begitu menoreh kalbu. Dia kemudian bergumam pada dirinya sendiri: ”Anak muda ini dalam kondisi kritis berhadapan dengan kawanan yang mau merampas harta miliknya yang paling berharga saja masih setia, taat kepada orang tuanya, sedangkan aku...jangankan taat kepada orang tuaku, kepada Tuhan yang telah menciptakan diriku saja, aku tak pernah mau taat”
Subhanallah! Begitu dalam pengaruh peristiwa itu menghunjam hati sanubari, Pemimpin perampok dan kemudian diikuti oleh semua anak buahnya, serta merta mengembalikan seluruh harta benda yang telah mereka rampas dari rombongan kafilah dagang tersebut, mereka bertaubat kembali ke jalan yang lurus, jalan Allah SWT.
Ma’asyir al-Muslimin !
Dalam Ihya ’Ulumuddin (karya Imam Ghazali; Allahu yarhamhu, dikisahkan ada seorang tabi’i (generasi setelah sahabat), di Basrah berprofesi sebagai saudagar kaya raya. Ia mengirim memo kepada seorang pelayannya agar memborong gula; (memonya kurang lebih begini)”cepat beli gula karena panen tebu tahun ini terancam gagal”. Pelayan yang ditunjuk segera memborong gula dalam jumlah besar dari seorang tengkulak. Dan tabi’i itupun beruntung sampai 30.000 dirham (sebuah keuntungan yang cukup fantastis).
Namun malam harinya, semalaman ia berpikir dalam suasana cemas gundah. Dalam hatinya ia berkata: ”Saya untung 30.000 dirham, tetapi sekaligus saya telah rugi besar, karena tidak jujur kepada orang”. Esok harinya, ia mendatangi pedagang gula dan mengembalikan semua keuntungan yang diperolehnya kepada tengkulak tersebut. Ia berkata sambil memberikan uang: ”semoga Allah memberkati kamu dengan uang ini, terimalah!”.
”Dari mana uang sebanyak ini tuan ?” tanya tengkulak. Jawabnya: ”Saya telah menyembunyikan sesuatu darimu”. Terus terang, ketika saya memborong gula darimu tempo hari, harganya sebenarnya sudah naik. Tuan menjual ke saya dengan harga jauh lebih rendah”.
”Semoga Allah merahmati tuan, sekarang saya sudah tahu. Jadi dengan senang hati saya berikan kembali kepada tuan”. Kata tengkulak sambil memberikan uang yang sebenarnya sudah diserahkan dengan tulus oleh saudagar tadi.
”Wah, kalau begitu saya sampaikan terimakasih, saya terima kembali ung ini”
Tetapi sesampai di rumah, pikiran saudagar tadi kacau kembali. ”Saya tidak jujur kepadanya”, mungkin saja ia malu menerimanya, hingga mengembalikan uang yang saya berikan”. Esok harinya sudagar tadi datang ke pedagang gula lagi. ”Semoga Allah memberimu kesehatan. Ambillah uang ini, ini hak tuan sepenuhnya, terimalah agar hati saya tenang.”
Ma’asyir al-Muslimin !
Masih dari Al-Ghazali, dikisahkan, Yunus bin ’Ubaid menjual berbagai macam pakaian. Diantaranya ada yang harganya 400 dirhan dan 200 dirham. Saat ia pergi ke Masjid, ia meminta sepupunya agar menjaga tokonya. Datanglah seorang Badui yang ingin membeli pakaian seharga 400 dirham. Sepupu Yunus keliru memberikan pakaian yang seharga 200 dirham. Dalam perjalanan pulang, Badui berpapasan dengan Yunus, dan serta merta Yunus tahu kalau baju yang dibawa Badui berasal dari tokonya. ”Berapa tuan beli pakaian ini?” tanya Yunus. ”400 dirham” jawab Badui. Kata Yunus; ”lo ini hanya seharga 200 dirham, mari kembali ke toko, biar saya kembalikan kelebihannya”. Tapi Badui malah memberikan keterangan: ”Di kampung kami baju seperti ini seharga 500 dirham, jadi sudahlah, saya sudah rela kok”. Yunus tetap bersikukuh: ”Mari kembali! Kejujuran lebih baik daripada dunia dan isinya.”
Hadirin !
Kisah Abdul Qadir muda dan dua kisah lainnya di atas, bukanlah sebuah epos, yang umumnya dimonopoli kaum bangsawan (kaum borjuis). Itu cerita orang biasa yang masih percaya pada nilai-nilai kejujuran, ketulusan, meskipun kebanyakan orang sekarang melihatnya sebagai tindakan bodoh.
Dari riwayat Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda:
”Jika seorang hamba tetap bertindak jujur dan berteguh hati untuk bertindak jujur, maka ia akan ditulis di sisi Allah Ta’ala sebagai orang yang jujur. Dan jika ia tetap berdusta dan berteguh hati untuk berbuat dusta, maka ia akan ditulis Allah sebagai pendusta. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Ma’asyir al-Muslimin !
Suatu ketika, Rasul SAW pernah ditanya:
”Wahai Rasul Allah!Apakah orang mukmin bisa menjadi seorang penakut? Beliau menjawab; ”ya, bisa, Beliau ditanya lagi: ”Apakah orang mukmin bisa menjadi seorang yang kikir?”, Beliau menjawab: ya, bisa., Ketika beliau ditanya: ”Apakah orang mukmin bisa menjadi seorang pendusta?”., Beliau menjawab: ”Tidak” (HR. Imam Malik)
Semakin seseorang berdusta, semakin besar pula dosanya kepada Allah SWT.;
”Di suatu malam aku bermimpi bertemu dengan dua orang yang mendatangiku. Salah satu dari mereka berkata kepadaku: ”Yang tuan lihat orang yang banyak ngomongnya itu adalah pendusta! Dia sedang cerita kebohongan yang dampaknya akan menyebar ke segala penjuru.Disebabkan oleh kebohongan itu dia akan memikul dosana hingga datangnya hari kiamat.” (HR. Bukhari)
Sementara di mata para malaikat, dusta, bohong ternyata sangat-sangat menjijikkan, sampai-sampai digambarkan laiknya seonggok bangkai.
”Ketika seseorang berdusta, malaikat menjauh dari pendusta itu disebabkan mereka (para malaikat) tidak tahan dengan bau busuk (bau bangkai) yang berasal dari dustanya tersebut.” (HR. Tirmidzi)
Ma’asyir al-Muslimin !
Berkata yang benar, jujur, akan mendorong pelakunya (orang yang bersangkutan) untuk berbuat benar dan jujur, serta menjadikannya selalu baik dalam segala keadaan. Berhati-hati di dalam menjaga kejujuran akan memancarkan cahaya terang di dalam hati dan pikiran. Karena itulah Allah SWT berfirman:
”Wahai orang-orang yang ber iman,hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan hendaklah kamu berkata dengan perkataan yang benar (jujur). Maka Allah akan memperbaiki amal kalian dan memaafkan dosa kalian. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia memperoleh keuntungan yang sangat besar.” (QS. Al—Ahzab: 70-71)
Ma’asyir al-Muslimin !
Rasulullah SAW telah mengajarkan mengajarkan kepada para orang tua tentang cara mengasuh anak. Sebuah asuhan dan pendidikan yang wajib dititikberatkan pada kebiasaan berkata benar, dengan tujuan, supaya para putra (anak) itu terjauhkan dari kebiasaan berdusta, kebiasaan berbohong. Bilamana seorang ibu (atau anggota keluarga yang lain) sudah menganggap remeh sebuah kedustaan, kebohongan kepada anak-anaknya (atau anggota keluarga yang masih berusia kecil), maka besar kemungkinan, saat para anak tadi tumbuh dewasa memiliki kebiasaan memandang kebohongan, kedustaan sebagai sebuah hal, sebuah masalah yang remeh dan biasa. Akibatnya, kita bisa membayangkan; disamping keadilan dan ketentraman hidup takkan pernah bisa ditegakkan, disisi lain, disisi Allah SWT kebohongan, kedustaan adalah dosa yang teramat besar.
”Barang siapa mengucapkan kepada anak; ”Ayo,ini untukmu,kemudian ia tidak memberikan apapun kepada anak, ucapan itu termasuk kebohongan.” (HR. Imam Ahmad bin Hambal)
Yang perlu kita cermati, kejujuran itu ternyata tidak bersifat kondisional, angin-anginan, tetapi didasarkan dan disandarkan pada suasana hati yang tulus. Semakin iman kita kepada Allah mapan, maka berarti semakin kita tumbuh sebagai hamba-Nya yang jujur. Mari kita bangun kejujuran, kita sebarkan kejujuran di segala kesempatan; baik melalui ucap, sikap, dan tindak kita. Kita bangun budaya jujur dalam diri kita, keluarga kita, dan masyarakat kita. Mudah-mudahan Allah SWT segera mengembalikan masyarakat dan negeri tercinta ini menjadi masyarakat dan negeri yang senantiasa beroleh rahmat serta barakah Allah SWT. ”Rabbana atina fi ad-dunya hasanah wa fi al-akhirat hasanat wa qina ’adzab an-nar.” Wa qul Rabb Ighfir wa irham wa anta khar ar-rihimin.”
Baca Selengkapnya ...