Assalamualaikum

PENCITRAAN PEREMPUAN DALAM KASUS PERUBAHAN PELAKU JATHIL DARI LAKI-LAKI MENJADI PEREMPUAN PADA SENI REYOG PONOROGO

Published by ridokurnianto under on 23.28
Dalam aktifitas seni Reyog Ponorogo, jathil berperanan penting terhadap keberlangsungan seni reyog itu sendiri. Peran utamanya sebagai penari jathil (penari kuda kepang), menyebabkan kesenian ini menjadi hidup, terutama dari aspek estetisnya. Gerakan-gerakan indah serta tarian-tariannya yang lembut, menyuguhkan sajian yang cukup menarik. Dari aspek inilah seni reyog ini tidak jarang memberikan stressing (fokus tekan) pentasnya sebagai inti pertunjukan atau pentas pada penari jathil tersebut. Sesuatu yang menarik dalam kasus perubahan penari jathil menjadi perempuan, bahwa jathil perempuan dari waktu ke waktu telah secara terang-terangan menjadi trend pengembangan seni Reyog Ponorogo, dan telah disambut dengan “tanpa beban” oleh kebanyakan (untuk tidak mengatakan seluruh) konco reyog. Dan yang lebih menarik lagi adalah kemungkinan munculnya resiko psikologis, sosial, maupun fisik yang akan dialami oleh penari jathil perempuan yang kesemuanya mengarah kepada perlakuan diskriminatif dan eksploitatif.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: (1) Ingin mendeskripsikan sejarah jathil dalam kesenian Reyog Ponorogo, baik dalam perspektif klasik maupun kontempoper; (2) Ingin mendeskripsikan konsepsi jathil pada seni Reyog Ponorogo berikut perubahan pelakunya dari laki-laki menjadi perempuan; (3 Ingin mendeskripsikan pencitraan terhadap perempuan dalam kasus perubahan pelaku jathil pada seni Reyog Ponorogo

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, mengacu kepada pemikiran Max Weber yang mengatakan bahwa, pokok penelitian bukanlah kepada gejala-gejala sosial, tetapi lebih menekankan kepada memahami makna-makna yang terkandung dibalik tindakan individu yang mendorong terwujudnya gejala-gejala sosial tersebut (Istibsyaroh, 2004:14). Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif melalui proses induksi-interpretasi-konseptualisasi. Proses analisis dalam penelitian ini telah dimulai sejak peneliti menetapkan fokus permasalahan, dan lokasi penelitian, kemudian menjadi intensif ketika turun ke lapangan. Data dalam catatan lapangan akan dianalisis dengan cara melakukan penghalusan bahan empirik yang masih kasar ke dalam laporan lapangan. Selanjutnya peneliti akan melakukan penyederhanaan data menjadi beberapa unit informasi yang rinci tetapi sudah terfokus dalam ungkapan asli responden (indigenous concept) sebagai penampakan perspektif emiknya. Dengan demikian, laporan lapangan yang detil (induksi) menjadi data yang mudah dipahami, dicarikan makna, sehingga ditemukan pikiran apa yang tersembunyi dibalik cerita responden (interpretasi) dan akhirnya dapat diciptakan suatu konsep (konseptualisasi). Proses analisis akan berjalan melalui kategorisasi atau konseptualisasi data yang terus digali, sambil membandingkan dan mencari hubungan antar konsep sampai melahirkan hipotesis-hipotesis. Proses ini akan bergerak tidak secara linier lagi, tetapi berputar secara interaktif antara satu konsep dengan konsep yang lain, atau antara kategori satu dengan yang lain. Proses ini juga akan bergerak sejak awal pengumpulan data, bekerja secara simultan, semakin kompleks atau rumit, tetapi sekaligus semakin mengarah pada proses munculnya hipotesis dan sampai titik tidak terdapat lagi informasi baru (Hamidi, 2004:80-81)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) Pada awalnya perubahan jathil pada seni Reyog Ponorogo hanya semata untuk memenuhi permintaan pentas dari Jakarta dalam acara Pekan Raya Jakarta, kemudian setelah pentas tersebut jathil perempuan menjadi trend yang diikuti oleh hamper seluruh group Reyog Ponorogo; (2) Pentas jathil perempuan pada acara Pekan Raya Jakarta telah melahirkan konsep tari jathil obyog (pertunjukan tari jathil dengan tarian lepas dalam arti tidak terikat oleh aturan baku tari jathil yang disebut pakem reyog Ponorogo dan sekaligus melahirkan seni pertunjukkan Reyog Ponorogo versi baru yang disebut Reyog Obyog; (3) Pentas jathil perempuan pada seni pertunjukan Reyog obyog telah melahirkan perlakuan tidak adil terhadap kaum perempuan yang mengarah pada perlakuan diskriminatif dan eksploitatif. Bentuk-bentuk perlakuan tidak adil itu, meliputi; pelecehan seksual melalui momentum saweran (kesempatan bagi penonton laki-laki untuk menari bersama sambil memberikan uang dalam jumlah tertentu dengan cara menyentuh bagian tubuh penari jathil) ; pemaksaan tunduk kepada laki-laki melalui tari edreg (penari jathil memberikan hadiah berupa sikap menawan kepada penari barongan dan ganongan setiap usai memperagakan aksinya); pelekatan cap perempuan murahan kepada jathil perempuan disebabkan oleh model dandanan (menor atau lebih menekankan dandanan cantik hingga terkesan sebagai perempuan penggoda; dan bahkan cap pelacur baginya disebabkan pola penjemputan dan pengembalian yang berganti-ganti orang dan dengan waktu yang tidak terjadwal yang terkadang tidak sesuai dengan waktu berkunjung yang dipedomani oleh lingkungan masyarakat tempat tinggal jathil yang bersangkutan, baik saat latihan maupun pentas.
A WOMEN IMAGE IN THE CASE OF JATHIL DANCER CHANGING FROM THE MAN INTO THE WOMEN OF REYOG PONOROGO
In an art activity of Reyog Ponorogo, a jathil has an important role toward the reyog continuity itself. His principal role as the jathil dancer (kuda kepang dancer), causes this art live, especially in the aesthetic aspect. His beautiful movements and his tender dancers show an interesting performance. From this aspect, reyog often gives stressing on its performance as the substance of the show or the case of jathil dancer changing into woman, that a woman jathil from time to time has become a trend of Reyog Ponorogo developing clearly, and it has been welcome by most public (although not all) of reyog collegue without any burden. An is more interesting that is possibity of psychological, social, and physical appearance gotten by the woman jathil dancer that all tend toward the exploitative and discriminative treatment.
This study was conducted with the purposes as: (1) to describe the history of jathil in Reyog Ponorogo, whether in the classical or contemporer perspective; (2) to describe the concept of jathil in Reyog Ponorogo with the changing of is dancer from man into woman; (3) to describe the image of woman in the case of this changing.
It used the approach of qualitative, as it nefers to Max Weber’s theory said that the research principle is not only for social phenomenon, but emphasizes more in understanding the meanings behind the individual actions that push the creation of those phenomenon (Ibtisyaroh, 2004:14). The data analysis technique in this research is qualitative descriptive through induction-interpretation-conceptualisation process. The analysis process has been started since the writer stated the problem focus, and the research location, and then become intensive when he came down in the research field. The research field record would be analyzed by softening the empirical material into the field report. Next, the writer would simplity the data into several detaited in formation unit but it was focused in the original respondent expression (indigenous concept) as the perspective appearance. So that the detailed field report (induction) become the data easily understood, the meaning found to know what thoughts behind the respondent’s story (interpretation) and finally a concept can be created (conceptualism). The analysis process will go on through categorization conceptualism of data that was dug continually while it was compared and the inter concept relation found until it created hypothesis. This process also would move since the beginning of the data collection, worked simultaneously, more complicated, but it also tended toward the process of hypothes creation, come in the point thet there was not more information (Hamidi, 2004:80-871)
That result of the research showed thet: (1) the earlier changing of jathil is only for fulfilling the performance order from Jakarta in Jakarta Fair, and then after the show, the woman jathil became a trend followed by almost all Reyog Ponorogo Group; (2) the woman jathil show in Jakarta Fair has created a concept of jathil obyog dance (the show of jathil with a free dance means it is not depended on the basic rules of jathil called as pakem Reyog Ponorogo) and it also created the art show new version Reyog Ponorogo called Reyog Obyog; (3) the show of woman jathil in Reyog Obyog has creater on unfair treatment toward the woman that tends to a discriminative and exploitative treatment. The unfair treatments include: a sexual harashment in the moment of saweran (the time for the male audience dancing with the dancer and gives the tip by touching the dancer’s body), the forcing to obey the man by edreg dance (the jathil dancer present the gift as charming attitude toward the barongan dancer and ganongan dancer everytime after they finish their dance); the attaching of cheap short toward the woman jathil and it is caused by their gaudy make up so that they look like a seducing woman and even the prostitute stigma caused by the pattern of picking up by different people each time with unfixed schedule that sometime it is not suitable with the visit time of their environment, whether is in a practice time or show time.
Baca Selengkapnya ...

DINAMIKA PEMIKIRAN ISLAM WAROK PONOROGO

Published by ridokurnianto under on 23.08
Penelitian ini dilakukan berdasarkan ketertarikan peneliti terkait dengan adanya redefinisi dan reinterpretasi warok Ponorogo yang terus bergulir dan membuahkan berbagai kemajuan, terutama dibidang keberagamaan masyarakat Ponorogo, melalui pemikiran Islam yang dilancarkan warok dari kalangan Muslim. Gerakan pemikiran Islam di dunia warok jelas suatu hal yang agak nyleneh, mengingat sosok warok yang dikenal selama puluhan tahun adalah warok dalam perspektif olah kanuragan.
Penelitian ini bertujuan melakukan induksi-konseptualisasi, tentang dinamika pemikiran Islam warok Ponorogo. Sejumlah aspek lain yang dimungkinkan sangat terkait dengan tujuan yang hendak dicapai, dirumuskan sebagai berikut: (1) ingin mengetahui perkembangan Islam di Ponorogo sekaligus hubungannya dengan adat atau tradisi setempat; (2) ingin mengetahui konsepsi atau pemaknaan tentang warok dari masa ke masa; (3) ingin mengetahui kontribusi para warok dalam porsi kualifikasi masing-masing dalam membangun masyarakat Ponorogo; dan (4) ingin mengetahui secara jelas kontribusi pemikiran Islam warok Ponorogo dalam membangun dan mengembangkan masyarakat Islam pada tataran kualitatif.

Data tentang dinamika pemikiran warok Ponorogo, digali melalui teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitis dengan metode vestehen, melalui proses induksi-interprtetasi-konseptualisasi. Dalam hal ini, analisis data yang demikian, mengikuti apa yang dikemukakan Bogdan dalam Muhadjir (1987: 171), yakni analisis akan di lakukan, baik di lapangan maupun setelah meninggalkan lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika pemikiran Islam yang dikembangkan oleh warok Ponorogo berjalan seiring dengan dinamika seni reyog dan warok itu sendiri. Ada dua tipologi pemikiran Islam yang berkembang; Pertama, melalui setting seni reyog Ponorogo melalui pemekaran makna simbol dan tari. Pendekatan budaya ini dilakukan oleh Kiai Ma’shum melalui penyelenggaraan festival reyog islami yang dilakukan setiap tahun di pesantrennya; Kedua, melalui para warok kanuragan lewat metode sambang atau silaturrahim kepada para warok kanuragan. Model ini dilakukan oleh Kiai Syukri. Pemikiran Islam di kalangan warok berkontribusi signifikan terhadap pengembangan reyog Ponorogo itu sendiri, terutama dalam bentuk peningkatan apresiasi masyarakat Ponorogo yang memang mayoritas Muslim, bahkan karenanya sudah ada beberapa pesantren dan sekolah Islam yang tidak ragu lagi menjadikan seni reyog ini sebagai seni yang sah dipelajari, misalnya Universitas Muhammadiyah Ponorogo dengan group seni reyog “Simo Budi Utomo”. Sementara dari aspek gerakan islmisasi masyarakat, kontribusi pemikiran Islam itu nampak dalam wujud peningkatan kualitas keberagamaan warok kanuragan, dimana melalui peningkatan kemusliman itu telah membuahkan semangat dakwah dari kalangan warok kanuragan itu sendiri untuk menebarkan hal yang sama kepada masyarakat di lingkungan mereka masing-masing. Dinamika pemikiran Islam ini selanjutnya menjadi pilar yang sangat efektif bagi terbentuknya pola islamisasi di kalangan konco reyog dan warok Ponorogo.
THE DINAMIC OF ISLAMIC THOUGHT OF PONOROGO WAROK
This study is conducted based on the writer’s interest about the rededinition and reinterpretation of Ponorogo Warok that consinually occurs and generates some developments especially in the field of the variety on Ponorogo society, through Islamic thought delivered by Muslim warok.
The purpose of this research is to conduct the conceptualization-induction about the dynamic of Ponorogo warok’s Islamic thought. A number of other aspects that perhaps involved with the purpose reached is stated as the following; (1) to know the development of Islam in Ponorogo and its relationship with the local culture; (2) to know the concept or the meaning of warok from time to time; (3) to know the warok’s contribution of each qualification portion in developing Ponorogo society; and (4) to know early the contribution of Ponorogo warok’s Islamic thought in developing and increasing Islamic society in a qualitative level.
The data of dynamic Ponorogo warok’s Islamic thought is obtained by a deep interview, observation, and dokumention. The data analysis with vestehen method, trought the process of conseptualization-interpretation-induction. In this case, it follows what Bogdan and Muhajir (1987: 171) states, that the analysis will be conducted, whether it is in the field or after leaving the field.
The result shows that the dynamic of Islamic thought developed by Ponorogo warok wolks along with the dynamic of reyog art and by the setting of Ponorogo reyog art though the development of the symbol meaning and the dance. This cultural approach is conducted by Kiai Ma’shum by the Islamic reyog festival that is hold annually in this school. The second by kanuragan warok through visit method or silaturrahim to kanuragan warok. This model is conducted by Kiai Syukri. The Islamic thought in warok contribute signivicantly toward Ponorogo reyog development it seep, especially in the from of the increasing of Ponorogo society’s appreciation that majority is Muslim, even there are some public schools and Islamic schools that are not doubted anymore to induce reyog as art learned legally, such as Muhammadiyah University of Ponorogo with reyog group Simo Budi Utomo. Besides from the society islamization increasing of kanuragan warok variety, in which through the islamization increasing has caused Islam missionary amon kanuragan warok’s themselves to spread the same thing for the society in their environment. The dynamic of Islamic thought, morever, becomes a very effective pole for the forming of islamization pathern in reyog friendship and Ponorogo warok.
Baca Selengkapnya ...

KEAJAIBAN MENYANTUNI ANAK YATIM

Published by ridokurnianto under on 21.06
Suatu saat di musim haji, Abdullah bin Mubarrak bermimpi cukup unik. Dalam mimpinya ia mendapatkan informasi dari Rasul SAW., bahwa jutaan jamaah haji yang sedang berhaji, tak satupun yang diterima ibadah hajinya disisi Allah SWT, kecuali seorang saja; yakni seorang tukang sepatu dari Damaskus yang bernama MUWAFFAQ.

Ketika terbangun dari tidurnya, Abdullah bin Mubarrak segera mencari informasi tentang sosok orang yang bernama Muwaffaq, hingga pada akhirnya ditemukan identitasnya; seorang putra Damaskus dengan predikat orang miskin; seorang tukang sepatu yang lugu. Uniknya, di musim haji itu, Muwaffaq bukanlah seorang dari jamaah haji yang tengah melakukan ibadah haji. Ia tak jadi menunaikan ibadah haji, karena memang tak pernah mendaftar sebagai jamaah haji.


Informasi lebih detil diperoleh langsung oleh Abdullah bin Mubarrak, bahwa ketika Muwaffaq hendak mendaftar haji (berbekal hasil tabungannya puluhan tahun) harus mengurungkan niatnya, lantaran di tengah perjalanan mengurus rencana hajinya tersebut, ia mendapati seorang anak yatim yang tengah kelaparan. Didorong oleh perasaan ibanya yang mendalam, ia tak sanggup meninggalkan sang anak yatim meneruskan hidupnya dalam kepapaan dan penderitaan, sementara dirinya tengah memegang uang dalam jumlah yang cukup banyak. Tangan kasihnya serta merta terjulur kepada si anak yatim, dan seluruh uang yang direncanakan sebagai ongkos haji ia berikan kepada anak yatim. Ia relakan keinginan beribadah haji demi nasib sang papa. Kerinduannya yang begitu dalam kepada Makkah; kepada Baitullah ia tumpahkan untuk hamba-Nya yang ternyata lebih membutuhkan belaian kasihnya. Ia hanya berharap kepada Allah SWT agar diijinkan sekali lagi untuk bisa mengumpulkan bekal agar ‘azam membaranya untuk berhaji bisa tergapai di masa yang akan datang.

Diluar dugaan, apa yang dilakukan oleh Muwaffaq membuat langit bergetar; membuat para malaikat Allah SWT memunajatkan do’a keberkahan baginya; hingga puncaknya Allah perkenankan Muwaffaq untuk meraih haji yang sebenarnya; haji mabrur, sekalipun tanpa kehadiran fisiknya di tanah suci.

Allahu Akbar ! untuk menggai sebuah kedudukan bergengsi disisi Allah; HAJI MABRUR, ternyata bukanlah karena tampang fisik yang meyakinkan, bukan pula kekayaan yang berlimpah, pun juga bukan ke’aliman semu, melainkan ketulusan hati bertabur cahaya-Nya.

SELAMAT MUWAFFAQ ! semoga kami mampu meneladanimu…


Baca Selengkapnya ...

MENDULANG EMAS DI TAMBANG HIJRAH RASUL SAW

Published by ridokurnianto under on 19.59
Hijrah Rasul Saw., merupakan tonggak berbagai pelajaran agung bagi semesta; tidak saja bagi ummat Muhammad SAW., tetapi juga berlaku bagi para musuh Allah dan Rasul-Nya, bahkan bagi seluruh makhluk Allah yang lain; seluruh semesta ini. Setiap jengkal perjalanan hijrah, telah melahirkan pesona agung; cara dan gaya hidup yang semestinya dipentaskan oleh setiap hamba Allah SWT.

Diantara pelajaran agung peristiwa hijrah Rasul adalah belajar mencintai Rasul dengan segenap jiwa-raga. Mencintai kekasih Allah; Muhammad SAW., semata karena kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT. Sebuah pesona cinta-kasih yang akan melahirkan kerelaan berkurban apa saja (harta-jiwa-raga) demi membela Rasul-Nya serta agama yang dibawanya.

Malam itu, di kota Makkah gelap gulita; seluruh penjuru kota seolah tertidur lelap. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya; suasana kota cukup mencekam; penduduknya cemas penuh ketegangan menunggu hasil akhir dari peristiwa bersejarah yang akan terjadi malam itu.

Di sebuah rumah ada pemandangan yang cukup menarik. Rumah itu telah dikepung oleh para preman Makkah. Pasukan elit Makkah itu terlihat sangat siap untuk menghabisi seseorang; sebilah pedang tajam terhunus tergenggam erat di tangan kejam mereka. Tak terduga, pasukan elit yang bengis itu tiba-tiba terlelap; mereka tak tahan menahan kantuk yang menyerangnya. Sekilas terkesan lucu, perawakan mereka yang beringas tiba-tiba lunglai tanpa sebab; mereka benar-benar tertidur pulas. Sementara di dalam rumah yang telah terkepung itu, terjadi suatu aktifitas yang cukup rapi dan taktis. Sang sasaran pembunuhan telah melesat meninggalkan rumah; sedangkan di tempat tidurnya telah tergantikan oleh sosok yang lain.

Beberapa saat kejadian penting di dalam sebuah rumah itu telah terjadi, menyusul para preman yang telah tertidur pulas itu terbangun. Sontak, mereka terkejut dengan apa yang tengah terjadi. Sang komandan segera memerintahkan untuk segera melakukan penggerebegan (yang telah lewat beberapa saat dari jadwal yang semestinya). Semua pedang segera diarahkan ke sosok dibalik selimut hijau; sang penghuni sasaran pembunuhan. Namun ketika selimut dibuka, ternyata hanyalah seorang pemuda pemberani yang berada di balik selimut itu, dan bukan seseorang yang menjadi target mereka.

Siapakah sebenarnya seseorang yang dijadikan target penggerebegan para preman tersebut ? Siapa pula sang pemuda pemberani yang menggantika posisi sang penghuni rumah ? Sang pemuda itu tiada lain adalah Ali bin Abi Thalib RA dan sang penghuni rumah adalah orang tersuci dan termulia di kolong jagad ini; Muhammad SAW. Sebuah drama yang cukup unik dan menegangkan telah terjadi. Andai disayembarakan pada generasi Muslim saat ini, kecil kemungkinan ada yang mendaftarkan diri menggantikan posisi Rasulullah SAW sebagai sasaran pembunuhan, karena otomatis taruhannya adalah nyawa; terbunuh!!. Hanya orang yang memiliki ketulusan hati dan kekuatan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya saja yang mampu melakukan pekerjaan ekstra menantang itu.

Sementara itu, di lorong kehidupan yang lain, seorang manusia tulus juga melahirkan emas kehidupan. Dialah Abu Bakr sh-Shiddiq RA. Malam itu dengan segenap cinta yang tulus, ia kurbankan diri untuk membela sang manusia suci. Dengan kesetiaan penuh, Abu Bakr menemani setiap langkah hijrah Rasul SAW. Perjalanan maut malam itu tanpa disertai peralatan dan perbekalan yang memadai. Tak ada kuda tunggangan, pun juga unta yang bisa dipakai hantaran perjalanan. Tak ayal, puncak kemampuan kedua hamba mulia itu menemui ujungnya. Mereka capek dan lelah, dan karena itu jawabnya hanyalah satu; istirahat. Setelah menyisir berbagai tempat, akhirnya dipilihlah semua gua kecil yang dirasa aman; Gua Tsur !.

Di dalam gua yang sempit dan pengap itu, Rasul SAW tertidur lelap di pangkuan Abu Bakr. Belum sempat Abu Bakr bernapas lega, tiba-tiba terlihat seekor binatang bergerak-gerak di dekat kaki Rasul Allah SAW. Abu Bakr segera tanggap dengan apa yang bakal terjadi dengan diri kekasihnya jika ia tiak segera melakukan sesuatu. Dengan gerakan lembut penuh hati-hati (kaena takut sang kekasih terusik istirahatnya), ia julurkan telapak kakinya untuk menyumpal sebuah lubang yang membahayakan itu. Apa yang terjadi kemudian bisa segera diduga. Seekor binatang yang ternyata ular yang sangat berbisa itu menggigit Abu Bakr. Dalam hitungan detik bisa ular yang sangat mematikan itu telah bekerja menyebar ke seluruh tubuh Abu Bakr. Lagi-lagi, Abu Bakr yang dalam kondisi menahan sakit yang luar biasa, berusaha sekuat tenaga untuk menahannya agar tak terjadi gerakan sedikitpun dari tubuhnya yang bisa mengganggu istirahat Rasul. Namun, ternyata daya tahan tubuh Abu Bakr pun harus mencapai batas akhirnya. Fisiknya sudah tak kuat lagi, dan secara reflek air matanya menetes; bukan karena menangis, tetapi semata karena daya tahan tubuhnya yang sudah tak kuasa lagi. Tetesan air mata itu pun jatuh di pipi manusia mulia, hingga berakibat sang Rasul Allah terbangun karena itu.

Betapa Abu Bakr terhenyak penuh sesal saat melihat sang Rasul terganggu gara-gara air matanya jatuh persis di pipi beliau. Rsul Allah SAW segera tanggap apa yang tengah terjadi; Allahu Akbar... ! Subhanallah...! Rasul mengangis penuh haru tak kuasa menahan rasa haru yang amat dalam, melihat sahabat agung yang tengah berjuang melawan maut gara-gara membela sang Rasul SAW. Beliau peluk sahabatnya itu seraya melantunkan do’a kepada Allah SWT untuk kesembuhan sang sahabat pembela agama Allah ini. Dan subhanallah ! atas ijin Allah SWT Abu Bakr sembuh dan sehat seketika. Pengurbanan Abu Bakr terhadap Rasul SAW dan risalah Ilahi inilah yang berhasil menoreh emas di langit Allah; Abu Bakr tercatat sebagai sepuluh orang di antara sahabat Rasul yang dijamin masuk surga Allah SWT.

Di kemudian hari, kisah air mata mulia itu terekam dalam tarikh Islam, karena dua sebab mulia; (1) karena air mata itu menetes dari seorang sahabat mulia; sang Abu Bakr, dan (2) tempat jatuhnya air mata itu di pipi manusia tersuci dan termulia; Muhammad SAW. Sesaat setelah peristiwa itu terjadi, Rasul SAW berbisik; ”Andaikan Allah mengijinkanku memiliki seorang kekasih dari sahabatku, maka kekasihku itu tiada lain adalah Abu Bakr ash-Shiddiq.”

Kalau para pecinta Rasul SAW sudah berhasil mengurbankan harta-diri-jiwa nya semata-mata demi kecintaan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, pengurbana hidup apa yang telah mampu kita ukir dan berikan kepada Allah dan Rasul-Nya ?. Mungkin takkan mampu kita mengukir pengurbanan sekelas Ali bin Abi Thalib RA ataupun sekelas Abu Bakr ash-Shiddiq RA. Yang penting kita camkan, bahwa hidup ini memang harus kita belanjakan untuk cinta Allah dan Rasul-Nya dengan harta yang paling mungkin dan paling mampu kita upayakan. Emas kehidupan akan selalu terlahir dari tambang semesta Allah ini, senyampang hati peka terhadap berbagai pelajaran agung di sebalik semua peristiwa yang terjadi di alam raya ini, termasuk peristiwa hijrah Rasul SAW yang sangat mengesankan.
Baca Selengkapnya ...

MERINTIS SENI REYOG YANG BERSAHABAT; MEWARISI BUDAYA ADILUHUNG

Published by ridokurnianto under on 17.29

Pendahuluan

Kebesaran Reyog Ponorogo secara langsung maupun tidak langsung telah mengangkat Kabupaten Ponorogo mengukir nama harum di tingkat nasional, dan bahkan di tingkat internasional. Kebudayaan yang khas dengan corak kebersahajaan dan keindahan dengan simbol macan (harimau) dan burung merak itu, pada gilirannya menjadi inspirasi seniman atau budayawan pada jamannya, untuk memberikan penguatan-penguatan simbol ke arah penggalian jati diri dan karakter masyarakat Ponorogo. Perpaduan dua jenis karakter yang berlainan itu (harimau dengan karakter buas; ganas, dan burung merak dengan karakter mempesona), menyampaikan pesan yang kuat akan keberanian dan kebersahajaan masyarakat Ponorogo dalam menapaki kebenaran dengan sikap hidup yang serba menarik; indah dan mempesona.

Berkesenian Reyog Ponorogo, dengan demikian, sangatlah penting bahkan menjadi mulia mengingat berbagai pesan agung yang bisa dipetik darinya. Namun, di atas semua itu, memahamkan pesan-pesan mulia ber-Reyog Ponorogo bagi seluruh masyarakat kota Reyog ini, terutama para konco Reyog, ternyata jauh lebih penting, agar penghayatan menjadi konco reyog benar-benar bermakna dan karena itu mampu menebar kebermaknaan hidup bagi bumi reyog tercinta ini. Disinilah yang sering muncul dilema; satu sisi Reyog Ponorogo maju pesat seolah tak terbendung, dengan salah satunya melalui even tahunan Festival Reyog Nasional, dan pada sisi yang lain nilai-nilai hidup mulia yang ditebarkan lewat simbol-simbol Reyog itu, ternyata belum tertanam secara baik di dalam sikap dan kepribadian masyarakat pemiliknya; masyarakat Ponorogo.

Disamping pembumian kepribadian agung yang belum efektif tertanam dalam diri masyarakat Ponorogo, keagungannya mulai terusik oleh ulah beberapa oknum konco Reyog yang berperilaku tidak terpuji (minum arak atau mabuk-mabukan, suka berjudi, suka main perempuan, dan suka pamer kekuatan) dengan mengatas-namakan kesenian adiluhung ini. Karenanya mengembalikan citra luhur Reyog adalah sebuah kewajiban, terutama bagi masyarakat Ponorogo yang memiliki kesempatan dan kemampuan mengawal kesenian adiluhung ini melangkahkan kaki ke depan tetap berada di dalam lintasan lurus penuh hikmah.

Membaca Konteks; Sebuah Strategi Mewarisi Seni Reyog Ponorogo

Reyog Simo Budi Utomo (SBU) yang dirintis oleh anak-anak kampus Universitas Muhammadiyah Ponorogo, mencoba untuk keluar dari kungkungan “tradisi” berseni reyog yang cenderung “stagnan”; seni reyog yang hanya mengedepankan sisi mitis, melalui inovasi dan modifikasi berseni reyog dengan memadukan aspek mitis, ontologis, dan fungsional. Mengacu pada strategi kebudayaan yang ditawarkan oleh Van Peursen.

Dari aspek mitis, seni reyog telah dikreasi oleh sang kreator seni Reyog Ponorogo dengan sangat menakjubkan. Pada jamannya, seni reyog yang telah dinuansai dengan nilai-nilai hidup luhur, terangkum dalam alam filsafat para leluhur melalui simbol-simbol budaya; (1) dadak-merak; paduan harimau-burung merak melambangkan sikap hidup tegas tetapi penuh pesona; (2) penari kuda kepang melambangkan sikap kesatria; (3) pujangganong (tari topeng) melambangkan ketabahan dan kesabaran di dalam menghadapi hidup, dan seterusnya. Dalam keseluruhan seni adiluhung ini terkandung pesan-pesan mulia dari berbagai aspek; filosofis, edukatif, religius, dan estetis.

Dari aspek ontologis, seni Reyog Ponorogo bermaksud keluar dari kungkungan lingkungan. Kekuatan mitis yang disimbolisasikan melalui simbol-simbol seni reyog itu sendiri, tidak lagi menjadi penghalang bagi konco reyog (para pelaku seni Reyog Ponorogo) untuk mengalami dunianya sendiri. Jika pada konteks mitis, seni reyog Ponorogo meyakini alam sebagai daya penggerak kehidupan, maka taraf ontologis ini sudah mengantar seni reyog ke dunia transenden (Sang Pencipta Yang Maha Agung). Seni Reyog sudah dikaitkan dengan dunia spiritual yang lebih tinggi, sekalipun tarafnya masih dalam tataran pencarian hakikat.

Sedangkan dari aspek fungsional, seni Reyog Ponorogo mengupayakan sikap yang relatif aktual dengan kenyataan modern. Sikap mitis, dan ontologis tidak lagi menjadi dasar pijak yang bersifat mutlak, tetapi dipakai landasan/dasar pertimbangan merelevansikan seni reyog dengan konteks jaman (kekinian).

Ber-Seni Reyog Ponorogo; Bertutur tentang Karakter Generasi Berbudi Luhur

Melalui integrasi antara aspek mitis-ontologis-fungsional, seni Reyog Ponorogo yang dikreasi oleh anak-anak kampus UNMUH Ponorogo, diarahkan bisa memberikan pesan pewujudan generasi bangsa yang berbudi luhur melalui simbol-simbol budaya berikut kreasi tari, dengan memanfaatkan penguatan aspek-aspek pesan di atas, yakni filosofis, edukatif, religius, dan estetis.

Langkah pertama, menguatkan citra positif dengan menghilangkan berbagai muatan negatif yang mengiringi perkembangan Reyog Ponorogo, yakni mabuk-mabukan , sesaji, dan marok (sikap sombong). Tahap ini dilalui dengan tujuan utama memberikan bukti nyata kepada masyarakat bahwa ber-seni Reyog Ponorogo tidaklah terkait dengan urusan mabuk-mabukan, sesaji, dan marok. Kekuatan seni Reyog Ponorogo bukanlah karena menjadikan ketiga aspek tersebut sebagai tumpuan pengembangan (selama ini ”kelakuan” tersebut seolah menjadi ideologi pengembangan seni Reyog Ponorogo), melainkan lebih dipicu oleh kekuatan menafsirkan simbol dan kekayaan kreasi tari yang dihasilkan.

Langkah kedua, tetap menjadikan Pakem (pola acuan dasar seni Reyog Ponorogo) sebagai rujukan utama dalam pengembangan kreasi seni Reyog Ponorogo. Sebagai acuan dasar, Pakem Reyog harus tetap dijadikan dasar pengembangan seni Reyog itu sendiri, tetapi bersamaan dengan itu, konteks yang melingkupi seni Reyog (utamanya konteks jaman) harus menjadi pertimbangan utama; jadi pakem Reyog Ponorogo tidak diperlakukan laiknya ”kitab suci”. Karena itu, kreasi seni Reyog yang ditampilkan Simo Budi Utomo menjadi luwes, dalam pengertian bahwa pakem Reyog yang memang ”layak” diadopsi secara mutlak, akan tetap diambil, sementara pakem yang ”tidak layak” akan dirubah atau bahkan diganti. ”Layak” dan ”tidak layak” dalam bahasa SBU adalah dengan mengukurnya dari norma-norma agama Islam. Dalam aspek ini budaya pagan (syirk), yang selama ini banyak terjadi di kalangan konco reyog menjadi pertimbangan penting dan target utama yang harus dihilangkan.



Pentas SBU dalam Festival Reyog Nasional
Langkah ketiga, mensosialisasikan kreasi seni reyog tersebut kepada masyarakat melalui berbagai pentas, seperti permintaan pentas dari orang atau institusi/organisasi, even-even karnaval, dan festival reyog. Prestasi SBU yang telah berhasil menempati 5 (lima) Besar dalam kurun 4 (empat) tahun berturut-turut (tahun 2004-2007) dalam Festival Reyog Nasional yang diselenggarakan di Kabupaten Ponorogo, menjadi bukti yang tidak terbantahkan, bahwa kreasi seni Reyog Ponorogo dengan berbagai modifikasi dan inovasi secara kontekstual dan islami, ternyata tetap mendapat pengakuan dan apresiasi dari masyarakat luas.

Berbagi Tugas

Beratnya mewarisi budaya terletak pada pengawalan pesan-pesan luhur dari leluhur yang ingin diwariskannya kepada generasi penerus, seperti yang dilakukan oleh para pencipta seni Reyog Ponorogo. Pewarisan yang gagal akan berakibat tidak saja seni adiluhung itu ”kosong makna”, tetapi bahkan akan meracuni para penerus bangsa ini salah langkah.

Kenyataan di atas, jelas akan membutuhkan semangat dan kerja keras para generasi kini, agar terus melakukan penafsiran dan pemahaman yang bersifat konstruktif terhadap simbol-simbol dan kreasi tari yang terus lahir dan tercipta mengiringi perjalanan seni Reyog Ponorogo. Penafsiran dan pemahaman itu selanjutnya dijadikan dasar pijak untuk merumuskan strategi ber-Seni Reyog Ponorogo yang tetap sarat pesan dan sarat makna bagi pembangunan negeri dan masyarakat Ponorogo.

SBU dalam hal ini jelas memiliki tugas yang cukup mulia untuk mengajak masyarakat Ponorogo berbagi tugas mengawal seni Reyog Ponorogo tersebut agar tetap lestari dan sarat makna. Beberapa langkah telah dilakukan, diantaranya dengan melakukan pembinaan seni Reyog Ponorogo ke beberapa sekolah dasar melalui kegiatan ekstra kurikuler, disamping juga telah mengembangkan langkah pembinaan kepada beberapa group reyog di wilayah Kabupaten Ponorogo. Namun demikian, percepatan pengembangan nampaknya perlu dipertimbangkan berbagai pihak, mengingat keterbatasan yang melekat pada SBU.

Penutup

Melestarikan budaya lokal, semisal seni Reyog Ponorogo, ternyata tidaklah cukup dengan hanya mewarisi seni tersebut dari generasi ke generasi, dengan apa adanya, tetapi dibutuhkan kecerdasan dan kearifan. Kecerdasan dibutuhkan karena pewarisan seni Reyog membutuhkan pemahaman mendasar dan kontekstual terkait dengan pesan-pesan penuh makna yang akan dikomunikasikan melalui berbagai simbol budaya dan kreasi tari; sementara kearifan dibutuhkan karena seni ini hanya akan bertahan dan lestari melalui tangan orang-orang yang bersemangat dan memiliki kesabaran tinggi. Baca Selengkapnya ...

Beberapa Versi Sejarah Kelahiran Reyog Ponorogo

Published by ridokurnianto under on 23.48
Hingga saat ini, belum ditemukan data secara akurat (bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah) mengenai sejarah kelahiran Reyog Ponorogo. Berdasar penelitian yang dilakukan Rido (1997), ditemukan beberapa versi yang memberikan pandangan tentang asal-usul kesenian ini.

Versi pertama, lahir dari imaginasi seorang seniman hasil pembacaan (perenungan) terhadap realitas kehidupan semesta. Dalam perspektif ini, Reyog lahir dari lukisan ide seorang seniman budaya yang meletakkan rasa bangga (takjub) nya terhadap harmoni kehidupan belantara. Kepala harimau dan burung merak yang menjadi perangkat utama dalam kesenian ini merupakan dua jenis binatang yang memiliki keistimewaan, baik dari aspek estetis maupun magisnya. Harimau sang binatang buas berkarakter liar dan ganas mendapat kehormatan sebagai sang raja hutan. Sementara burung merak merupakan binatang dengan karakter yang penuh pesona; cantik dan indah. Paduan kedua binatang berkarakter kontras tersebut, melahirkan paduan indah - sebuah karakter unik dalam sebuah kepribadian manusia, yakni kekuatan dan keindahan. Paduan inilah yang diharapkan lahir dari pribadi orang Ponorogo; berani, berwibawa, mampu memimpin, dan tetap dalam sikap yang santun dan menarik. Dengan demikian, versi sejarah Reyog ini, lebih cenderung menyampaikan pesan jatidiri dan identitas masyarakat Ponorogo sebagaimana diterangkan melalui simbolisasi kesenian Reyog ponorogo.

Versi kedua, lahir sebagai bias dari kepercayaan atau keyakinan masyarakat disaat animisme dan dinamisme tumbuh subur. Dalam kepercayaan masyarakat seperti ini, roh hewan yang telah mati sekalipun, bisa didatangkan kembali ke dunia seperti halnya keyakinan mereka tentang bisa kembalinya roh manusia yang telah meninggal. Sementara diyakini oleh mereka bahwa roh binatang yang paling kuat adalah roh harimau. Karena itu, dengan tujuan agar melindungi keselamatan mereka, roh itu diundang melalui upacara (ritual) adat; ritual pemanggilan roh. Pada perkembangan berikutnya, upacara adat itu memakai topeng kepala harimau dan kemudian dikemas melalui tari-tarian. Inilah dasar pijak versi kedua, sebagaimana tulis Hartono (1980), bahwa kesenian Reyog Ponorogo merupakan perkembangan lebih masak dari tradisi upacara adat tersebut.

Versi ketiga, lahir sebagai tanda jaman. Saat Ponorogo dilanda huru-hara (kekacauan, tidak aman) disebabkan terjadinya perseteruan antar kelompok masyarakat penganut msitik; kanuragan, ngelmu kasekten (ilmu kesaktian), sehingga mengarah pada pertikaian dan bahkan pembunuhan. Situasi tidak aman ini, selanjutnya melahirkan sebutan-sebutan atau istilah-istilah sebagai tanda jaman, dimana salah satunya istilah itu adalah reyog (berati riyeg, horeg, gonjang-ganjing). Seni Reyog yang lahir sesaat atau bersamaan dengan situasi tersebut mengambil ilustrasi semacam barongan (serumpun pohon bambu yang meliuk-liuk diterpa angin), hingga seolah-olah menggambarkan situasi kekacauan yang tengah terjadi dan melanda masyarakat saat itu.

Versi keempat, lahir sebagai lambang kemenangan Batharakathong atas Ki Ageng Kutu (Ki Demang Suryongalam). Dua binatang yang dipakai perangkat utama kesenian ini, dimaksudkan sebagai sebuah simbol dari dua karakter dua tokoh yang disebutkan. Harimau melambangkan perwatakan Ki Demang; penyerang, pemberontak, sedangkan burung merak melambangkan perwatakan Batharakathong; pembawa kedamaian, kesejukan, dan keindahan. Diduga pada saat itu juga tengah berlangsung proses islamisasi di Ponorogo yang dimobilisasi oleh Batharakathong, dengan satu bukti bahwa semenjak itu di atas kepala harimau (persis di paruh burung merak) ditambahkan kalung manik-manik semisal tasbih (alat menghitung bacaan dzikir)

Versi kelima, bertumpu pada mitos atau legenda. Legenda tentang lahirnya Reyog Ponorogo lebih dari satu jumlahnya, dimana kalau ditarik garis besar, semuanya mengandung falsafah atau tuntunan hidup yang diharapkan dapat menumbuhkan jiwa patriotik, sikap dan watak terpuji, dan sejumlah perilaku luhur yang lain.

Terlepas dari ragam sejarah Reyog Ponorogo, sebagaimana dipaparkan di atas, akan sangat arif manakala kita mau merenung sejenak untuk bersama-sama mengkritisi sejarah Reyog yang selama ini dipedomani. Sebagai falsafah atau tuntunan hidup bagi generasi bumi Reyog, sejarah yang berbau legenda memang cukup sarat makna. Namun, sebagai pembelajaran hidup bagi calon warok menuju pencerahan dan pencerdasan, akar sejarah Reyog Ponorogo yang bersifat ilmiah, sudah barang tentu juga sangat ditunggu kehadirannya. Baca Selengkapnya ...

Membangun Kreasi Seni Reyog Ponorogo

Published by ridokurnianto under on 23.15
Sejak pusat-pusat kebudayaan tradisional terpukul oleh perubahan kekuasaan dan patronnya oleh perubahan soaial dan ekonomi, maka sejak itu pula mengalami perubahan-perubahan paradigmatik. Dualisme budaya (kraton dan rakyat; budaya kota dan budaya desa) mulai mengabur, sekalipun keluarga kraton tetap menjadi narasumber dari kebudayaan tradisional. Jika ada perbedaan antara budaya desa dan kota dalam kebudayaan tradisional, sifatnya bukan lagi kategoris tetapi perbedaan kuantitatif biasa. Dan akhirnya dalam situasi seperti ini, kebudayaan tradisional, seperti dikatakan Kuntowijoyo (1999:29), menjadi sebuah sistem yang terbuka.

Dalam perspektif ini, budaya tradisional tidak lagi menjadi lambang status sosial, siapa saja yang mampu mengangkat dirinya secara ekonomis, sosial, dan intelektual, dapat menjadi bagian dari budaya tinggi. Lebih jauh, situasi keterbukaan itu melahirkan pola baru dalam profesionalisme kesenian tradisional. Pola pendidikan magang dalam pewarisan artistik digantikan oleh lembaga-lembaga pendidikan kesenian. Formalisme budaya kraton yang lama digantikan oleh formalisme plural dari lembaga-lembaga pendidikan kesenian. Dan penting untuk dicatat, bahwa dalam situasi seperti ini, lahir pula gejala baru yang disebut dengan "selera publik" yang sering mempunyai konotasi negatif. Selera publik , tulis Kuntowijoyo (1999:29) menjadi penyebab dekadensi, vulgarisasi, dan pencemaran budaya.

Nampaknya gejala formalisasi dan deformalisasi merupakan perkembangan yang dialektis dari suatu kebudayaan. Dalam perspektif seni Reyog Ponorogo, formalisasi bisa berupa pembakuan seni Reyog dalam kitab Pakem, dimana seluruh kreasi seni berikut hal-hal yang berhubungan dengan Reyog harus berpedoman pada pakem tersebut. Sedangkan deformalisasi berupa upaya-upaya untuk mengubah, memodifikasi, atau bahkan mengganti pakem tersebut.

Selera publik merupakan satu diantara pertimbangan bagi upaya pengubahan pakem, dimana faktor ini sering menyebabkan formalisme menjadi luntur, seperti lunturnya pakem pedalangan oleh munculnya cerita-cerita baru. Oleh karena itu, sebuah kebijaksanaan kebudayaan, terutama terkait dengan pengembangan kreasi seni Reyog ini ialah agar setiap upaya pengubahan, penyesuaian, ataupun penggantian itu justru menjadi dasar bagi tumbuhnya kreatifitas baru, sehingga akan mengantar seni adiluhung ini semakin kaloko, kawentar (dikenal dan digandrungi masyarakat luas), dan bukan untuk tujuan anarkhisme (pengembangan yang "ngawur") hingga membuat seni Reyog tidak memiliki makna apapun. Baca Selengkapnya ...